Siapa sangka pemberitaan mengenai kasus bunuh diri, ternyata membawa dampak psikologis yang cukup besar bagi sebagian orang, terutama mereka yang mempunyai hasrat untuk bunuh diri. Berangkat dari keprihatinan itu, Tim Kampanye Public Relation Post Wisely Live Happily menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama media online kondang, Detikcom dan Detik Jateng, Jumat (22/12/2023).
FGD ini diinisiasi oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan menggandeng Mahasiswa Psikologi UMS.
Ketua Tim, Muthia Setyo Arumi mengatakan, FGD ini membahas mengenai pengaruh konten dan berita bunuh diri terhadap stimulus bunuh diri. FGD ini juga dihadiri oleh Ketua Komite Etik Detikcom, dan Kepala Redaksi Detik Jateng.
“Kami menyampaikan keresahan yang dirasakan selaku mahasiswa terkait maraknya konten dan pemberitaan mengenai bunuh diri. Hal tersebut dinilai dapat menjadi stimulus bagi masyarakat untuk melakukan hal yang sama,” paparnya Muthia, Selasa (2/1).
Berita Juga Berpengaruh

Untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, Tim Post Wisely Live Happily menemukan fakta maraknya konten dan pemberitaan tentang bunuh diri dapat memicu tindakan serupa di kalangan masyarakat. Mereka menekankan potensi efek tiruan yang dapat timbul dari konten media sosial.
“Detikcom kami pilih sebagai narasumber karena Detikcom merupakan media bereputasi dan telah menerapkan langkah-langkah proaktif untuk menanggulangi masalah ini, termasuk menyisipkan peringatan di awal berita tentang bunuh diri dan mengarahkan pembaca yang terganggu untuk mencari bantuan profesional,” sambung Muthia.
Komitmen Nyata
Semua pihak yang terlibat dalam diskusi itu, lanjutnya, berkomitmen melakukan langkah-langkah proaktif mengurangi dampak negatif dari berita sensitif, khususnya berita bunuh diri.
“Kami mengundang kolaborasi dan partisipasi lebih lanjut dari masyarakat dan pihak-pihak terkait. Melalui inisiatif ini, diharapkan akan tercipta lingkungan media yang lebih bertanggung jawab dan mendukung kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” imbuh dia.
Sudah Ada SOP
Ketua Komite Etik Detikcom, Sudrajat menjelaskan konten atau berita yang ada di media sosial dapat menimbulkan efek tiruan bagi pembacanya. Ia mengatakan tidak hanya pemberitaan mengenai bunuh diri, tetapi juga pemberitaan lain seperti tindak kriminal juga dapat menimbulkan efek tiruan yang sama.
“Detikcom selaku media yang bereputasi sejak awal sudah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi stimulus bunuh diri dari sebuah artikel atau berita adalah dengan mencantumkan peringatan pada bagian awal berita,” papar Sudrajat.
Menurutnya, peringatan tersebut menyarankan pembaca yang merasa gelisah dengan berita tersebut untuk segera mengunjungi pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog atau psikiater.
Nindya, Mahasiswa Psikologi UMS yang tergabung dalam tim itu mengatakan, tindakan seseorang yang mendengar atau melihat pemberitaan secara berulang, akan membentuk stimulus untuk melakukan tindakan yang sama, sesuai yang dijelaskan dalam teori psikologi behaviorisme.
Penulis: Fika
Editor: Gede
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







