Bahagia dirasakan Huda Aisyah Khoirunnisa dan Muhammad Rafli Silehu, mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (PTI) dan Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Musababnya, aplikasi UpMate besutan mereka berhasil lolos The Global Top 100 Teams dalam ajang Google Solutions Challenge (GSC) 2024.
Aisyah menuturkan, aplikasi yang mereka beri nama UpMate itu merupakan aplikasi media berjejaring untuk mahasiswa yang mempunyai kesamaan minat atau topik akademik. Mengusung tagline “Connecting people with the same academic interest”, UpMate mengumpulkan orang-orang yang ingin belajar bersama hingga berdiskusi.
UpMate hadir sebagai jawaban atas masalah pendidikan yang terjadi selama pandemi Covid-19. Pandemi membuat pelajar dan mahasiswa harus belajar dari rumah. Sayangnya, program pembelajaran jarak jauh yang dicanangkan saat itu malah memunculkan masalah baru yaitu learning loss. Kondisi ini mengakibatkan penurunan kompetensi dan kehilangan pengetahuan dari peserta didik.
“Saat itu sedikit sekali teman yang bisa diajak berdiskusi karena terkendala jarak. Mahasiswa sering bingung ingin berdiskusi seputar akademik,” kata Aisyah saat dihubungi melalui Zoom Meeting, Rabu (24/04/2024).
UpMate kini tersedia pada layanan Google Play Store dan dapat diunduh di berbagai perangkat berbasis Android. Penggunaannya relatif mudah. Saat membuka aplikasi untuk pertama kali, pengguna akan diarahkan untuk mengisi email dan kata sandi akun UpMate. Jika belum mempunyai akun, pengguna dapat mendaftarkan diri dengan mengeklik tombol daftar. Pengguna kemudian mengisi data diri dan aplikasi UpMate dapat digunakan.
Aisyah mengatakan idenya itu terinspirasi dari aplikasi Line OpenChat yang sempat booming pada 2021 lalu. Berangkat dari aplikasi itu, Aisyah membentuk tim dan menyusun UpMate dengan memanfaatkan teknologi Google antara lain: Flutter, Firebase, Tensorflow, hingga Google Cloud.

Aplikasi UpMate menawarkan berbagai fitur menarik yang dapat memberikan pengalaman berkesan bagi penggunanya. Aisyah fasih merapal fitur-fitur di dalamnya, yaitu:
- Interest tag recommendation
Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memasukkan topik-topik khusus yang diminati. - Recommendation for person, event, course, information (PECI)
Fitur PECI membantu memudahkan pengguna untuk mengikuti seseorang, acara, pelatihan, atau informasi penting yang berkaitan dengan topik favoritnya. - Realtime chat
Fitur ini memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi secara intens melalui kolom chat untuk berdiskusi seputar topik yang diminati pengguna. - Share a post
Pengguna juga diberikan fasilitas untuk membagikan buah pikiran, gagasan, atau ide menarik melalui fitur share a post. Terdapat fitur seperti suka, komentar, hingga simpan, yang memungkinkan terjadi interaksi dengan pengguna lainnya. - Bad word detector
Aplikasi UpMate juga mempunyai perangkat pendeteksi ujaran kebencian. Kata-kata yang kasar, jorok, dan tidak sopan akan otomatis tersensor. - Spam detector
UpMate juga dilengkapi dengan perangkat pendeteksi spam yang akan membuat pengguna lebih nyaman berselancar di aplikasi ini. - Explore anything related to your interest
Pengguna bisa mengeksplorasi lebih banyak seputar topik-topik yang diminati.
“UpMate ini banyak sekali manfaatnya. Apalagi ini berangkat dari keresahan mahasiswa yang dirasakan akibat pembelajaran jarak jauh. Dengan fitur yang ada, kami berani menjamin keamanan dan kenyamanan pengguna,” terang mahasiswi angkatan 2020 itu. “Aplikasi pendidikan memang harus menonjolkan keamanan dan kenyamanan pengguna.”
Google Solution Challenge 2024
Permulaan tahun 2024 membuka jalan bagi Aisyah dan Rafli menggamit peluang prestasi di kancah global. Duo itu mendaftarkan aplikasi UpMate pada ajang Google Solution Challenge 2024.
Google Solution Challenge adalah program yang digagas Google Developer Student Club (GDSC) untuk membangun solusi guna menjawab permasalahan lokal lewat teknologi Google, sesuai dengan satu atau beberapa poin dari 17 poin Sustainable Development Goals (SDGS).
“This is our debut. Ini pertama kalinya kami mengikuti GSC 2024. Salah satu syarat mengikuti lomba ini adalah tergabung dalam GDSC,” ungkap Aisyah selaku inisiator tim. Aisyah merupakan salah satu pionir yang terlibat dalam pendirian GDSC di UMS pada sejak tahun lalu.
UpMate berhasil menyisihkan ribuan tim lainnya dalam ajang GSC tahun ini dengan fokus pada poin keempat SDGS, yakni pendidikan berkualitas. “Kami lolos ke Top Global 100 Teams dan berhasil menjadi finalis untuk babak berikutnya. Nanti seleksinya berjenjang,” ujar Aisyah yang juga menjadi ketua GDSC UMS.
Keberhasilan mereka dalam ajang GSC 2024 membuat Aisyah dan Rafli meraih fasilitas mentoring di bidang mobile development. Fasilitas mentoring ini diberikan sepenuhnya oleh Google sebagai persiapan seluruh peserta untuk melaju ke babak berikutnya.
“Mentoringnya berfokus seputar cara untuk maintain source code dalam pengembangan mobile apps. Nanti setelah mengikuti mentoring akan diseleksi lagi menjadi sepuluh besar, tiga besar, dan puncaknya pengumuman pemenang,” sambung dia.
Rencana ke Depan
Pembaruan terus dilakukan untuk memutakhirkan UpMate sebagai aplikasi yang solutif dan ramah pengguna. Rafli mengatakan perlu ada perbaikan di beberapa sisi, seperti menambahkan fitur panggilan video hingga perbaikan bahasa pemrograman agar meningkatkan pengalaman pengguna saat menjelajah di aplikasi UpMate.
“Strategi kita untuk menuju Top 10 bakal menambah fitur video call dan juga mendengar saran-saran dari mentor untuk memperbaiki kode-kodenya agar maintainable hingga testable,” ujar Rafli, mahasiswa asal Jayapura, Papua.
Senada dengan Rafli, Aisyah mengatakan akan ada perbaikan pada sistem rekomendasi, karena saat ini masih menggunakan algoritma tradisional. Dia berencana memaksimalkan teknologi Google untuk mengembangkan sistem rekomendasi konten di dalam aplikasi.
“Dari awal sudah didanai negara. Jadi sayang banget kalau tidak dikembangkan. Kami berusaha memaksimalkan teknologi Google yang kami gunakan,” kata mahasiswi asal Wonogiri itu.
Tantangan muncul dari sisi bad word detector, di mana penggunaan kata-kata kotor dapat dibuat bervariasi dengan mengkombinasikan angka atau huruf-huruf lain untuk mengelabui mesin pendeteksi. Perbaikan terus dilakukan oleh Aisyah dan timnya untuk memaksimalkan fitur bad word detector agar dapat mendeteksi ragam bahasa ujaran kebencian.
“Kami sebetulnya membuat dictionary sendiri untuk daftar kata-kata kotornya. Kebetulan kami sudah bisa mendeteksi beberapa jenis kombinasi kata-kata kotor. Tapi memang perlu dikembangkan apalagi bahasa Indonesia ini lumayan sulit untuk mendeteksi kata kotornya. Jadi memang perlu improvisasi ke depannya,” tandas Aisyah.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







