Di hadapan para santri dan guru Madrasah 'Aliyah Tahfizhul Qur'an (MATIQ) Isy Karima, Karanganyar, Jawa Tengah, suatu Selasa petang di tahun 2021, Afnan Zain Muzakki menyampaikan ceramahnya. Memang, setiap santri akan mendapat giliran untuk berceramah di muka umum sebagai bentuk latihan public speaking atau wicara publik.
Ada kesalahan ucap yang mengundang gelak tawa audiensnya kala itu. “Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,” ujar Afnan mengulangi perkataannya. Riuh tawa audiens menggema di ruangan tersebut. Para guru pun geli sambil menahan tawa.
Masih terekam jelas di benak Afnan bagaimana rasa gugup menyelimuti pikirannya. Baru dua tahun Afnan mengenyam studi, ia “dipaksa” tampil percaya diri di depan publik. Siapa sangka momentum ceramah malam itu malah menjadi pengalaman tak terlupakan.
“Pesantren itu memang punya target untuk meningkatkan kemampuan public speaking santrinya, seperti muhadharah, pidato, storytelling, dan sebagainya,” cerita Afnan saat dijumpai di Masjid Sudalmiyah Rais Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (7/11/2024) siang.
Peristiwa itu melecut motivasi Afnan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan wicara publiknya. “Ternyata belajar public speaking itu enggak semudah itu. Harus ada pembenahan dan momen jatuh lalu bangkit kembali,” katanya.

Afnan Zain Muzakki. Humas UMS/Imam Safii
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UMS itu sudah tidak asing dengan wicara publik. Dia bahkan mengenal kemampuan tersebut sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Namun, peristiwa ceramah tersebut membuka mata Afnan betapa kemampuan wicara publik sangat penting untuk dipelajari.
Afnan mengasah kemampuan wicara publiknya secara otodidak. Dia melatih kemahiran wicara publik dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan yang memaksanya untuk tampil di muka umum. Salah satunya, melalui kegiatan ceramah dan kajian rutin.
Dia mengaku banyak belajar dari konten-konten di media sosial seputar wicara publik. Dia tidak menampik jika belajar wicara publik melalui kelas khusus akan mendapatkan teori. Namun, penggemblengan yang sebenarnya justru saat mempraktikkan wicara publik secara langsung.
Ada beberapa langkah sederhana yang menurutnya dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan wicara publik. Misalnya dengan berani bertanya kepada dosen saat sedang kuliah atau berani mengutarakan pendapat dalam forum diskusi. Ia percaya langkah sederhana tersebut menjadi rangkaian untuk mewujudkan kualitas wicara publik yang baik. “Kuncinya adalah berani,” tegasnya.
Kini, ia mulai merambah ke dunia kreator konten media sosial. Kegiatannya itu ia mulai semasa Afnan menjadi mahasiswa baru pada 2023 silam. Mulanya, ia menggunakan TikTok sebagai platformnya. Seiring waktu, ia juga memanfaatkan akun Instagram-nya untuk membagikan konten.
Manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri bagi Afnan selama membuat konten. Ia menuturkan, saat konten buatannya viral, ada stimulus yang memacu Afnan untuk terus membuat konten lebih banyak. “Wah ini kontennya FYP (for you page) nih. Mungkin besok bisa membuat (konten) lagi yang masuk FYP,” ujar kreator yang sudah memiliki 35,3 ribu pengikut di Instagram tersebut.
Konten yang ia buat mayoritas membahas seputar wicara publik, perkuliahan, hingga personal branding. Sejumlah kreator beken telah berkolaborasi dengan Afnan. Mulai dari Ginanjar Rahmawan, Muhammad Sayyidul Barqi, hingga Dzaky Mubarok. Afnan mengaku dirinya berkolaborasi dengan kreator yang memiliki fokus utama yang sama.
Berkat kiprahnya tersebut, Prodi Kesehatan Masyarakat UMS memercayakan Afnan sebagai Duta Promosi Prodi Kesehatan Masyarakat 2024.

Barisan Pejuang Al-Qur’an
Sedari kecil, Afnan Zain Muzakki, 20 tahun, bercita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an. Motivasi itu mendorongnya menghabiskan masa pendidikan sekolah menengah atas di MATIQ Isy Karima, Karanganyar, Jawa Tengah, sepanjang 2019 hingga 2023.
“Dari kecil sudah ditanamkan untuk mewujudkan impian saya sebagai penghafal Al-Qur’an,” tutur Afnan.
Hari-hari Afnan sebagai seorang santri diwarnai dengan rutinitas mendaraskan ayat suci Al-Qur’an, hingga melatih wicara publik sekaligus unjuk gigi di hadapan santri lainnya. Tak lupa, ia menyeimbangkan aktivitasnya dengan mempelajari mata pelajaran seputar rumpun studi yang ia pilih: Ilmu Pengetahuan Alam.
Tekad dan ikhtiar Afnan menjadi penghafal Al-Qur’an semasa SMA membuahkan hasil usai menamatkan pendidikan di MATIQ Isy Karima. Medio 2023, Afnan berhasil meraih beasiswa Hafidz Al-Qur’an UMS selama empat tahun.

Potret Afnan saat mengisi Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar yang digelar BEM FKIP UNS, Juli 2024. dok.Pribadi.
Berbekal beasiswa tersebut, Afnan mengejar gelar sarjananya di Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS. Dia memandang prodi tersebut menjadi gerbang untuk memulai cita-cita barunya: merumuskan kebijakan publik tentang kesehatan.
Melanjutkan studi di rumpun studi kesehatan tak lantas mengurangi minat Afnan untuk terus memperdalam ilmu agama. Bergabung dengan organisasi mahasiswa berbasis keagamaan menjadi cara yang Afnan lakukan, yakni Mahasiswa Pencinta Al-Qur’an (MPQ).
Di mata Afnan, MPQ adalah barisan pejuang Al-Qur’an yang senantiasa mendaraskan Al-Qur’an di lingkungan kampus. Tidak heran jika Afnan menambatkan pilihannya pada MPQ. “MPQ ini organisasi mahasiswa yang sudah memfokuskan diri pada gerakan Qur’an dan dakwah,” ungkapnya.
Bergabung sejak awal 2024, Afnan dipercaya menjadi salah satu pengurus Departemen Syiar MPQ. Program kerjanya antara lain: Ngaji On The Road, santunan anak yatim, Qur’anic Camp, hingga Penelitian dan Pengabdian Ormawa (PPO).
Baru-baru ini, Afnan mengikuti pengabdian di salah satu masjid di daerah Jetis, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Tugasnya mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an.
Kepiawaian Afnan dalam mendidik anak-anak benar-benar diuji. Dia mengamini, anak-anak memang masih dalam fase bermain, sehingga mengajarkan Al-Qur’an pada anak membutuhkan usaha ekstra, terutama untuk mempertahankan konsistensi belajar.
Meskipun Afnan disibukkan dengan berbagai kegiatan sebagai kreator konten maupun pengurus organisasi mahasiswa, ia tak melupakan komitmennya sebagai mahasiswa. Ia pun aktif mengikuti sejumlah kompetisi dan berhasil menyabet penghargaan, antara lain meraih medali perunggu lomba inovasi produk tingkat internasional World Youth Invention and Award 2024, hingga juara harapan lomba inovasi produk tingkat internasional dalam Indonesia Inventor Days 2024.
Ia juga memborong 5 kejuaraan dalam lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat nasional pada 2024, termasuk piala juara pertama kategori lomba dai yang ia raih. Tidak heran jika capaiannya tersebut membuat Afnan didapuk sebagai mahasiswa berprestasi Prodi Kesehatan Masyarakat UMS tahun 2024.
Dai Muda
Selepas lulus dari pondok pesantren, Afnan masih aktif berperan sebagai seorang dai untuk mendakwahkan ajaran Islam.
Dai secara bahasa berarti orang yang mengajak. Menurut Afnan, dai adalah orang yang mengajak kepada kebaikan dengan tujuan memengaruhi orang lain untuk menjadi lebih baik. Dengan begitu, masyarakat akan mengenal Islam sebagai agama yang indah.
“Setiap seorang muslim itu adalah seorang pendakwah. Kalau mempunyai ilmu dan akhlak yang baik, maka dianjurkan untuk berdakwah,” ungkapnya.
Afnan mengaku miris melihat perilaku umat saat ini yang kehilangan arah dan menjadikan kegiatan maksiat sebagai pelampiasan untuk mencari ketenangan. Sebab, ketenangan berupa maksiat bukanlah ketenangan sejati.

Afnan saat mengisi kajian Dakwah Sosmed ala Gen Z di Masjid Al-Muhkim, Colomadu, Jawa Tengah, Sabtu (22/6/2024). dok.Pribadi
“Kita sebagai seorang dai, mengajak mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Islam adalah sebaik-baiknya rumah untuk pulang,” terusnya. “Alangkah mulianya ketika seorang dai bisa menjadi pengaruh baik bagi orang lain.”
Topik yang ia bawakan tergantung pada tempat dan sasaran dakwahnya. Saat masih di pondok, Afnan mengarahkan topiknya pada pendalaman agama, khususnya mendalami Al-Qur’an. Hal tersebut didukung dengan lingkungan di sekitar pesantren yang sudah melek agama.
Lain halnya saat Afnan mendakwahkan Islam di lingkungan yang heterogen. Ia akan menyesuaikan topik yang hendak ia bawakan. Salah satu topik yang kerap ia bahas adalah kesehatan mental dan manajemen hati bagi kalangan muda.
“Sekarang kajian itu memang harus dikemas semenarik mungkin dan harus relevan dengan apa yang dibutuhkan umat,” imbuh mahasiswa asal Sukoharjo itu. Tidak heran jika beberapa poster kajian dakwah kerap menggunakan istilah-istilah yang sedang treding, seperti “terbawa arus” atau “nggak bisa, Yura”.
Selain bersafari ke berbagai wilayah di Solo Raya, Afnan juga aktif sebagai takmir Masjid Al Yaqin, Kartasura, Sukoharjo. Ia kerap mendapat giliran menjadi imam salat.
Sasaran kajian di masjid tersebut berbeda dengan sasaran kajian yang biasa dilakukan Afnan di luar masjid. Sebab, mayoritas yang datang ke kajian adalah orang-orang lanjut usia. Disinggung mengenai gap usia antara Afnan dengan jamaahnya, dia menuturkan tidak menjadi persoalan.
“Justru mereka (para lansia) lebih terbuka pikirannya ketika menerima kajian dari dai yang lebih muda,” katanya. “Mereka lebih bangga kalau ada anak muda yang dekat dengan agama.”
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Cerita Alumni
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








