Di atas lintasan anggar seluas 14x1.5 meter, dua atlet anggar berdiri saling berhadapan. Masker menutupi wajah, namun samar-samar mata mereka saling bertemu, tajam mengamati satu sama lain. Hendak mengincar podium pada Pekan Olahraga Nasional XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.
Usai wasit menyerukan, “En-garde. Prêts. Allez”, keduanya melangkah maju. Pedang floret di tangan Putri Faradilah bergerak cepat, berusaha menyentuh target sebelum lawannya sempat menyerang. “Saya cuma berharap bisa membawa pulang emas,” ungkap atlet muda yang lebih sering disapa Puput itu, Sabtu (8/3/2025).
Di pinggir arena yang bertempat di Hall Anggar Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Hendra Faradilah, ayah Puput, hanya mengangguk tipis. Sebagai pelatih, ia jarang menunjukkan emosi saat putrinya bertanding. Bagi Puput, itu sudah cukup.
“Dalam dunia anggar, tak ada perlakuan istimewa, sekali pun ayah adalah pelatih anggar profesional,” imbuhnya menekankan.
Wanita kelahiran Palembang ini mengaku sudah menekuni olahraga anggar di usia 4 tahun. Tepat selepas ia hijrah ke Kota Solo mengikuti kepindahan sang ayah yang mendapat mandat sebagai pelatih anggar Jawa Tengah.
Sebetulnya, Puput lebih dulu menyukai olahraga renang seperti teman sebaya di sekitar rumah. Hingga suatu hari sang ayah meminta dirinya mencoba olahraga yang telah membesarkan namanya.
Nama Hendra Faradilah seharusnya tak lagi asing di telinga penikmat anggar Jawa Tengah terutama Solo. Ayah Puput itu merupakan fencer Indonesia pada SEA Games 2017, yang kini menjadi pelatih andal atlet anggar Jawa Tengah, termasuk para penyandang disabilitas.
“Latihan pertama, saya tidak seperti orang terpaksa. Mungkin karena keseringan melihat ayah melatih, jadi rasanya bukan sesuatu yang baru untuk dicoba,” kata mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu.
Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Begitulah kegemaran sang ayah yang menurun pada Puput, juga adiknya.
Saat usianya sembilan tahun, Puput memenangkan kejuaraan pertamanya dengan membawa pulang medali perak pada Pekan Olahraga Daerah Jawa Tengah 2014. Dari sini, ia terpilih menjadi salah satu perwakilan Jawa Tengah menuju Kejuaraan Nasional di Kalimantan Timur.
Latihan Keras dan Disiplin Seorang Anak Pelatih
Banyak yang mengira menjadi anak pelatih berarti mendapat keistimewaan. Tidak dalam kasus Puput. Di arena latihan, ia tidak diperlakukan sebagai ‘anak coach’, melainkan atlet biasa yang harus mengikuti aturan.
“Kalau ada yang salah, ya tetap kena tegur,” kelakarnya.
Latihan berlangsung tiga kali seminggu di Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Fencing Club Surakarta. Tapi karena ia dulu sekolah di kelas khusus olahraga, sesi latihannya lebih intens. Ia berlatih teknik menyerang, bertahan, dan strategi permainan. Sparing dengan atlet senior menjadi makanan sehari-hari.
Sejak 2018, prestasinya mulai menumpuk. Medali demi medali terkumpul, dari Pekan Olahraga Provinsi, Pra Pekan Olahraga Nasional, hingga Pekan Olahraga Nasional.
Tahun 2023, ia terbang ke Malaysia untuk bertanding pada South East Asia Fencing Federation (SEAFF) Championships. Hasilnya, ia berhasil memboyong satu perak dan satu perunggu.

Potret Puput usai memenangi sejumlah kejuaraan anggar nasional. Salah satunya medali perunggu PON XXI 2024 Aceh-Sumatera Utara untuk nomor beregu yang bertempat di Hall Anggar Stadion Harapan Bangsa, 16 September 2024. Dok.Pribadi
Sayangnya jalan menuju kemenangan tak selalu mulus. Di balik deretan medali yang berhasil Puput koleksi, ada beberapa kekalahan yang menoreh luka.
Ajang PON XXI 2024 di Aceh-Sumatera Utara menjadi salah satu titik terberat dalam karier fancer berbakat itu. Puput datang dengan target emas di nomor individu. Semua sudah disiapkan, latihan rutin, strategi matang, bahkan training camp ke Singapura dan Malaysia.
Namun di hari pertandingan, semua berubah. Lawan yang sudah Puput pelajari bergerak di luar dugaan. Beberapa kesalahan kecil di awal pertandingan membuatnya kehilangan ritme. Setiap serangan yang dilancarkan seperti terbaca oleh lawan.
Wasit mengangkat tangan, “Attaque. Touche. Point.” Pertandingan selesai. Skor akhir tak berpihak pada gadis 19 tahun itu.
“Saya diam cukup lama waktu itu. Nggak langsung nangis, tapi dalam hati ya jelas kecewa, ada emosi yang rasanya nggak bisa dikeluarin karena ada ayah yang ngelihat,” ceritanya pada kami.
Puput gagal membawa emas. Pada malam usai pertandingan, ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti beranggar. “Kemudian ayah datang dan menyemangati. Beliau bilang kalau kekalahan hari ini bukan sebuah akhir bagi saya. Atlet besar juga pernah kalah, jangan berkecil hati!” katanya mengulang pinta sang ayah.
Di tengah tempaan latihan yang lumayan padat, Puput tetap berusaha menjalani perkuliahan di UMS dengan sebaik mungkin. Awalnya ia membayangkan dirinya akan masuk program studi psikologi. Namun, jalur beasiswa justru membawanya ke Pendidikan Teknik Informatika UMS.
Beruntung kampus sangat suportif. Kala harus pergi berlaga, Puput selalu mendapat dispensasi akademik. Tak jarang beberapa dosen menanyakan kabar dan perkembangannya beranggar.

“Pas lagi ikut kejuaraan. Alhamdulillah selalu mendapat izin. Dari PORPROV, Pra PON, sampai PON kemarin,” sambung mahasiswa semester 4 itu. Ia pun memilih untuk tidak bergabung dengan organisasi kampus, karena sebagian besar waktunya sudah terfokus untuk latihan dan tanding.
Puput bercerita, anggar memang bukan cabang olahraga populer di Indonesia. Peminatnya terbilang sedikit dibanding bulu tangkis dan sepak bola. Tapi belakangan, ada sedikit perubahan.
“Setelah drama Korea 2521, kayaknya banyak teman-teman sebaya yang mulai tertarik. Di sosial media bahkan, banyak banget yang mulai kepoin anggar,” katanya sambil tertawa.
Mimpi Berlaga ke Olimpiade
Setelah melewati masa sulit PON 2024, kini Puput mengincar target anyar. Ia ingin masuk Pelatnas. Ingin menjejakkan kaki di SEA Games, dan jika boleh bermimpi lebih jauh, ia ingin melanjutkan mimpi sang ayah hingga ke Olimpiade.
“Dari dulu mimpi terbesar saya memang ke sana. Tapi juga tahu, kalau jalannya akan panjang,” ujar dia.
Saat ini, Puput masih terus berlatih. Ia tahu bahwa impian besar membutuhkan persiapan dan pengorbanan besar. Harus ada waktu untuk mempelajari video pertandingan, menganalisis pola serangan lawan, dan terus mengasah strategi. Setiap kesalahan juga menjadi bahan evaluasi.
“Ayah sudah sampai SEA Games 2017 mewakili Indonesia. Saya ingin melampaui target itu,” pungkasnya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Cerita Alumni
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








