Suatu hari, Muhammad Adityo Rivalta ditantang orang tuanya untuk masuk Sekolah Menengah Kejuruan Katolik Santo Mikael Surakarta. Lelaki yang akrab disapa Rival itu awalnya ogah memenuhi tantangan itu. Tidak sesuai dengan keinginannya.
“Kalau kamu bisa masuk ke SMK Mikael bakal jos banget,” ucap Rival menirukan kedua orang tuanya, Sabtu (8/2/2025). Setelah menimbang masak-masak, Rival akhirnya memenuhi tantangan itu dan memilih jurusan Teknik Gambar Mesin di SMK Mikael.
Meski bukan jurusan yang ia dambakan, Rival tak ingin terus-terusan menggerutu. Pelampiasannya pun ia lakukan dengan cara yang elegan. Mengikuti berbagai perlombaan dan meraih prestasi.
Salah satu prestasinya adalah meraih juara kedua lomba desain berbantuan komputer (Computer Aided Design/CAD) dalam Lomba Kompetensi Siswa Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2019.
Tantangan lomba tersebut adalah membuat desain perangkat mesin menggunakan aplikasi Autodesk Inventor. Rival harus menyusun rancangannya dari nol saat lomba berlangsung. Durasinya sekitar 7 sampai 8 jam. “Lombanya digelar selama tiga hari. Setiap hari tantangannya berbeda-beda,” jelas dia.
Kegigihannya menorehkan prestasi terus berlanjut saat duduk di bangku kuliah. Mahasiswa Teknik Mesin UMS angkatan 2022 itu rupanya aktif mengikuti berbagai perlombaan inovasi teknologi. Kali ini cakupannya lebih luas lagi: sampai ke tingkat internasional.

Rival (kedua dari kanan) usai meraih penghargaan dalam Mechanical Fest 2024. Dok.Pribadi
Tahun lalu, Rival membentuk tim bernama MedLink Smart, dengan merangkul mahasiswa Teknik Mesin, Kedokteran, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika UMS. Rival menggagas laman web yang memudahkan pemeriksaan tanda vital, meliputi tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, dan suhu tubuh, di klinik kesehatan.
Dirinya sempat dibuat geregetan karena proses pencatatan hasil pemeriksaan tanda vital di klinik kesehatan masih dilakukan manual. Sepengamatan Rival, petugas medis umumnya akan mencatat hasil cek tanda vital di atas secarik kertas, lalu memasukkannya ke komputer. “Antrinya kelamaan di bagian registrasi. Semua berbasis manual,” keluh Rival.
Ia dan timnya kemudian mengembangkan MedLink Smart. Prosesnya memakan waktu hingga tiga bulan. Basis dasar webnya mereka kembangkan sendiri. Mulai dari riset, pemilihan perangkat keras, pembuatan laman web, hingga teknis kelistrikannya.
Prototipe MedLink Smart menawarkan fitur pencatatan cek tanda vital yang terintegrasi dengan laman MedLink Smart. Saat ini, prototipe tersebut mampu mencatat dua tanda vital: tekanan darah dan suhu tubuh.
Fitur lainnya adalah hasil asesmen dokter yang dapat diakses pasien, hingga fitur one time register. “Registrasinya cukup sekali,” katanya.
Rival dan timnya kemudian melombakan MedLink Smart ke dalam UMS International Innovation Day 2024. Pemuda yang saat itu berperan sebagai mentor tim, sukses mengantarkan timnya medali perak. Prestasi tersebut menjadi langkah awal untuk maju ke kompetisi internasional.
Pada 2-6 Februari lalu, Rival yang kali ini berperan sebagai ketua tim, memboyong MedLink Smart ke dalam Thailand Inventor’s Day 2025 kategori medical technology yang digelar di Bangkok, Thailand. Tim MedLink Smart adalah salah satu dari lima tim UMS yang maju ke kompetisi tersebut.
Prototipe buatan Rival dan timnya rupanya mendapat lirikan dewan juri. Mereka diberi kesempatan untuk mempresentasikan MedLink Smart di hadapan juri. Tidak semua tim mendapatkan kesempatan prestisius itu.
“Hanya tim kami, satu-satunya dari UMS, yang mendapat kesempatan untuk presentasi di mini stage di hadapan tiga juri besar,” ucap Rival bangga.
Berkat kegigihan Rival dan timnya, Ia berhasil diganjar medali emas dan Health Care Innovation Special Award.
Baca Juga: 5 Tim UMS Berjaya di Thailand Inventors’ Day 2025

Rival (kanan) bersama dua temannya saat mengikuti Thailand Inventors' Day 2025 di Bangkok pada 2-6 Februari 2025, usai meraih medali emas. Dok.Pribadi
Menyukai Teknologi
Muhammad Adityo Rivalta awalnya menaruh hati pada ilmu komputer. Cita-citanya itu telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Namun, pemuda kelahiran 18 Februari 2002 itu, harus mengubur impiannya manakala salah satu tetangga kampung halamannya di Kabupaten Wonogiri berhasil masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan Katolik Santo Mikael Surakarta.
Kedua orang tuanya pun memberikan tantangan kepada Rival untuk mengikuti jejak tetangganya. Apalagi sekolah tersebut terkenal dengan jurusan permesinan yang top markotop.
Ia akhirnya memilih jurusan Teknik Perancangan dan Gambar Mesin. Alasannya simpel. “Saya memilih jurusan yang ada (mata pelajaran) komputernya,” kata pemuda yang hobi mengutak-atik komputer itu.
Satu tahun pertama Rival belajar diwarnai dengan kebingungan. Sebab Rival tidak menemukan mata pelajaran desain mesin yang ia dambakan. “Kok ada praktik mesinnya?” gumam Rival kala itu. Barulah saat tahun kedua, Rival mendalami penjurusan gambar mesin.
Setelah menamatkan pendidikan kejuruannya pada 2020, Rival berhasil mendapatkan beasiswa melanjutkan studi sarjana di Jurusan Mechanical Design, Wuxi Institute of Technology, di Kota Wuxi, Provinsi Jiangsu, Cina. Namun, pandemi yang mengganas pada tahun itu membuat keberangkatan Rival harus ditunda selama setahun.
“Selama setahun itu kuliah online,” ujarnya. Sudah tentu hati Rival gundah. Belajar mesin tak lengkap rasanya tanpa praktik langsung. Ia pun mencurahkan kegalauannya pada orang tuanya.
Dua tahun kemudian, Rival resmi diterima menjadi mahasiswa Teknik Mesin UMS. Ia juga kembali meraih beasiswa dari Ikatan Mahasiswa Berprestasi Wonogiri. Keputusan tersebut terbilang berat untuknya. Sebab ia harus memulai kembali kuliahnya dari awal.
Pria berambut keriting itu akhirnya menemukan banyak hal yang mewarnai hidupnya di UMS. Sewaktu masih menjadi mahasiswa baru, Rival berkenalan dengan teman satu prodinya, Marko Refianto.
Marko adalah sosok mahasiswa penuh ambisi untuk mengejar prestasi hingga tingkat internasional. Totalitasnya dalam berproses rupanya mengilhami Rival untuk mengikuti berbagai perlombaan.
“Dia orangnya enggak punya capek. Selalu ‘gas’ tanpa kenal panas dan hujan. Bahkan buat ngerjain abstrak buat persiapan lomba juga pernah sampai enggak tidur,” kenang Rival.
Salah satu lomba yang meninggalkan kesan tersendiri adalah saat dirinya mengikuti Mechanical Fair UNY di Universitas Negeri Yogyakarta tahun lalu. Perangkat komputer, yang Rival gunakan untuk latihan, mengalami kerusakan jelang pelaksanaan lomba. Alhasil dirinya kurang maksimal selama latihan.
Belum lagi saat berangkat ke tempat lomba, motornya tidak bisa menyala. Ia lalu meminta bantuan temannya untuk menyalakan motornya. “Saya ngebut dari Solo ke Jogja dan sampai di lokasi kurang dari 10 menit sebelum acara dimulai,” kenang dia.
Rival sangat mengenang pengalaman itu. Ada perjuangan berat yang harus ia lalui untuk mengejar prestasi. Namun, Rival harus berpuas diri dengan juara kedua yang ia dapatkan dalam Mechanical Fair.
Kini, ia tengah disibukkan untuk mengikuti sebuah kolaborasi internasional di Vietnam pada 9-15 Februari 2025. Sejumlah mahasiswa peserta kolaborasi dari berbagai negara berkumpul di Vietnam. Agendanya adalah pembentukan kelompok proyek.
Rival mengatakan satu kelompok terdiri atas sejumlah mahasiswa dari berbagai negara. Setiap kelompok akan membuat proyek khusus yang akan dilombakan di Korea Selatan. “Lombanya nanti di Korea Selatan sekitar bulan Agustus,” terangnya.

Memimpin Komunitas
Di sela-sela rutinitas belajarnya, Rival menyempatkan diri untuk aktif dalam komunitas Mechanical Engineering Design Club (MEDC). Kepiawaiannya dalam membuat desain mesin membuatnya dipercaya sebagai salah satu mentor desain.
MEDC adalah komunitas yang bergerak di bidang pengembangan kualitas sumber daya manusia. MEDC mewadahi mahasiswa Teknik Mesin UMS yang ingin mengembangkan kemampuan desainnya, khususnya desain mesin.
Rival mengatakan mahasiswa Teknik Mesin yang mengikuti kelas desain MEDC terbilang banyak. Komunitas tersebut membuka empat kelas. Satu kelas paling banyak diisi 30 orang. “Pematerinya dari internal kami (MEDC),” tutur Rival.
Pengalaman Rival memimpin tim dalam setiap perlombaan tidak diragukan lagi. Apalagi dengan segudang prestasi di tingkat nasional dan internasional yang memperteguh klaim itu. Tidak heran jika awal tahun ini, Rival ditunjuk sebagai ketua terpilih MEDC.
Menjadi pemimpin tentu tidak mudah. Rival memahami sepenuhnya hal itu. Dia memandang seorang pemimpin mempunyai tugas besar mengayomi bawahannya. “Kalau tidak ada leader, mau ke mana arahnya?” ujarnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Karya Mahasiswa
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








