Menyambangi Tenggara Indonesia
Aktif Berkontribusi Sejak Belia

Sekumpulan anak muda tengah asyik bercengkrama di sudut ruangan salah satu rumah makan di Kota Solo. Salah satu pemuda itu ialah Hardika Dwi Hermawan. Dika, sapaan akrabnya, mengajak teman-teman yang pernah aktif mengikuti kegiatan sosial semasa kuliah untuk reuni dan bertukar cerita. 

Mereka adalah Zakky Muhammad Noor yang pernah menjadi ketua Resources and Environmental Economics Student Association IPB University (REESA), Evi Lestari lulusan sarjana terbaik S1 dari Jinan University sekaligus CEO PT. Solo Gren Foodindo, ⁣hingga Yulia Susanti, yang pernah menjadi delegasi dalam Youth Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI).

Di tengah keseruan perbincangan mereka seputar karier dan lika-liku kehidupan, Hardika melontarkan pertanyaan yang menggelitik pada malam itu. “Sekarang kalian aktif di kegiatan sosial apa saja, nih?” tanya Hardika yang saat itu tengah mengikuti seleksi dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Teman-temannya pun serempak menjawab tidak. Kesibukan karier dan kehidupan yang mereka jalani ternyata menyita waktu dan perhatian mereka sehingga melepas aktivitas sosial yang pernah mereka jalankan.

“Kita kan sudah selesai S-1, mungkin aku selesai S-2, masa kita malah nggak ngapa-ngapain? Kayaknya dosa nggak nih kita sudah lulus tapi nggak berbuat sesuatu?” lanjut Hardika. 


Pertanyaan Hardika membuat mereka sadar untuk kembali aktif dalam kegiatan sosial. Malam itu, 5 Januari 2020, sekumpulan pemuda menandatangani pernyataan untuk mendirikan organisasi gerakan sosial untuk memajukan desa. Organisasi itu diberi nama Desamind.

Desamind adalah sebuah organisasi nirlaba berbasis kesukarelawanan bagi anak muda Indonesia yang berada di dalam dan luar negeri untuk mendorong lahirnya local hero bagi pengembangan desa yang memiliki world class competency dan good grassroot understanding

Serangkaian program dan kegiatan untuk memajukan desa kemudian disusun oleh Hardika dan kawan-kawannya. Namun, Pandemi Covid-19 yang melanda dunia pertengahan Maret 2020 membuat rancangan kegiatan harus dirombak.

Tantangan lainnya muncul saat Desamind membuka rekrutmen anggota baru untuk pertama kalinya. “Transfer values-nya waktu itu yang menjadi tantangan. Apalagi mereka berasal dari beberapa daerah dan belum pernah bertemu secara langsung di awal berdirinya Desamind,” kata Hardika kepada kami, Rabu, 8 Mei 2024.

Dia dan timnya tidak menyerah meski harus memutar otak untuk menjawab tantangan yang ada. Dalam pikirannya, apapun kondisinya, Desamind harus jalan. Ia terus memegang teguh perkataan Bung Hatta yang berbunyi “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa.”

Seiring waktu, Desamind bangkit dan mulai menjalankan mimpinya memajukan desa. Desa pertama yang menjadi sasaran pengabdian adalah Desa Cipaku, kampung halaman Hardika. Mereka memberdayakan pemuda untuk mendirikan usaha produk beras bernama Wos Cipaku.

Salah satu fokus kegiatan yang dilakukan Dika lewat Desamind, adalah peningkatan kualitas pendidikan dan keterlibatan anak muda di desa. Pendidikan dan peningkatan kapasitas anak muda menjadi jalan agar desa mampu berkembang menuju kemandirian dan peningkatan kesejahteraan. 

Fokus tersebut tidak lepas dari kehidupan Hardika yang berkarib dengan dunia pendidikan sejak kecil. Si bungsu dari dua bersaudara itu lahir dan besar dari keluarga guru. “Bapak dan ibu saya itu guru. Makanya dulu sempat bercita-cita menjadi guru,” ujarnya. Pengalaman hidup membuatnya yakin pendidikan sebagai solusi mengatasi permasalahan desa.

Tidak mengherankan bila seorang Master of Science in Information Technology in Education dari University of Hong Kong itu melanjutkan kariernya sebagai pengajar di UMS. 

Selama berkiprah di Desamind, Hardika telah menginisiasi berbagai program untuk memajukan pemuda dan desa, seperti Beasiswa Desamind, Desamind Leadership Camp, Desamind Farm, hingga Desamind Research and Training.


Namun, langkah yang dilakukan Hardika bukan tanpa halangan. Beberapa kali dirinya mendapatkan penolakan atas kegiatan yang dilakukan Desamind.

“Pernah suatu kali ada kepala chapter Desamind menelepon kami sambil menangis. Acaranya ditolak warga katanya,” kata Dika mengisahkan momen tersebut. 

Hardika sempat terkejut namun ia memandang penolakan adalah pembelajaran berharga bagi rekan satu organisasinya. “Menurutku ini pembelajaran real yang didapat secara langsung saat berjuang untuk desa di desa,” tutur dosen muda yang menaruh minat pada bidang digital transformation dan computational thinking itu.

Penolakan tidak membuatnya menyerah. Desa tersebut akhirnya tetap menjadi mitra Desamind dan berhasil mendapat sambutan positif dari masyarakat. Tidak heran bila kemitraan tersebut berlanjut hingga dua tahun berikutnya. 

Di balik sosok Hardika, dukungan orang tua terus menguatkan pria peraih penghargaan Ten Outstanding Young Person (TOYP) in Indonesia 2022 untuk kategori Kepemimpinan Kemanusiaan & Voluntarism, Junior Chamber International (JCI) itu. 

Kini, genap empat tahun Desamind berdiri membawa kontribusi bagi kemajuan desa. Desamind sudah mempunyai 500 pengurus daerah yang tersebar di 16 chapter dari Aceh hingga Papua. Menggerakkan lebih dari 26 ribu masyarakat di Indonesia dan menyalurkan lebih dari empat ribu barang ke berbagai penjuru desa di Tanah Air.

Atas perjuangannya itu, Desamind diganjar penghargaan Mata Garuda Prize LPDP 2021 Bidang Ekonomi dan Bisnis dari Mata Garuda LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Desamind juga meraih penghargaan proyek inovasi sosial terbaik Townhall Muda Nusantara 2024 dari Pijar Foundation. Penghargaan itu tak membuat Hardika berpuas diri. Ia terus termotivasi membangun desa hingga pelosok Indonesia.

Hakikat pendidikan di mata Hardika adalah memanusiakan manusia. Lewat Desamind, dia mengaku merasa lebih menjadi manusia melalui kontribusinya pada masyarakat.

Dia meyakini tanggung jawab kaum terdidik adalah mendidik mereka yang belum terdidik. “Apabila kita punya kemampuan untuk berdampak, namun kita hanya diam tak bergerak, itu adalah sebuah dosa,” ucap dia. 

Menyambangi Tenggara Indonesia

Ingatan Hardika Dwi Hermawan melayang ke bulan Juli 2022 saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Tepa, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya. Pendiri sekaligus President Director Desamind itu bercerita, keramahan dan kehangatan warga menyambut Hardika setibanya di Pelabuhan Tepa. 

“Saya melihat wajah asli Indonesia ada di sana. Orang-orang di sana itu super ramah dan sangat menjunjung tinggi gotong royong dan kebhinekaan,” kenang Hardika.

Terletak di antara Laut Banda dan Laut Timor, Desa Tepa di Pulau Babar, Provinsi Maluku, adalah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T di tenggara Indonesia. Hardika mengingat betul listrik PLN hanya mengaliri desa mulai pukul 18.00 sampai pukul 06.00. Sedangkan listrik di siang hari harus menggunakan tenaga mesin diesel. 

Momentum itu membuka mata Hardika, yang saat itu telah menjadi dosen di Pendidikan Teknik Informatika UMS, bahwa disparitas teknologi dan pendidikan di Desa Tepa cukup tinggi dibanding desa lainnya. “Sinyal internet saja susah waktu itu. Kami hanya bisa menggunakan internet satelit,” tutur pria yang hobi berpetualang itu.

Tidak ada bandara di pulau itu. Satu-satunya akses ke Desa Tepa adalah menggunakan kapal laut dari Ambon atau Kupang. Kapal dari Ambon hanya datang dua kali dalam sebulan. Sekali berangkat, kapal membutuhkan waktu tiga sampai empat hari untuk mencapai dermaga Pelabuhan Tepa. 

Keterbatasan akses transportasi tidak menghalangi perjuangan masyarakat Desa Tepa mengenyam pendidikan. Selama mengabdi di Tepa, Hardika dan kawan-kawannya dari Desamind, membangun laboratorium low tech environment untuk mengembangkan kemampuan computational thinking para pelajar.

Computational thinking ini cara belajar komputasional. Kita bisa belajar menyelesaikan persoalan dengan teknik ilmu komputer tanpa komputer. Computational thinking membantu anak-anak ini untuk siap jika nanti ketemu teknologi maka akan cepat adaptasi dan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari mereka,” terang dia. “Itu ilmunya ada di Informatika.”

Saat ini, desa-desa di Indonesia sedang dihadapkan pada persoalan generasi muda yang ingin meraih pendidikan dan penghidupan yang lebih baik di daerah lain. Bagi Hardika, ini adalah ironi sebab desa membutuhkan generasi muda untuk memajukan desa.


Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2020, jumlah pemuda Indonesia yang berada di pedesaan mencapai 42,17%. Angka tersebut cukup tinggi dan sangat potensial untuk memajukan desa lewat gerakan-gerakan kepemudaan. 

Hardika memandang desa juga dihadapkan pada disparitas teknologi terutama di wilayah 3T. Akses dunia luar yang terbatas membuat teman-teman di wilayah 3T mempunyai kesempatan yang terbatas untuk bergerak maju.

Kegiatan yang dilakukan Hardika dan Desamind menjadi terobosan agar daerah 3T dapat mengakses dunia luar. Dosen yang mengidolakan BJ Habibie itu sejak awal memahami masih banyak desa di Indonesia yang mengalami ketimpangan dari segi pendidikan, ekonomi, dan pola pikir atau mindset

“Cara pandang beberapa masyarakat desa itu masih fixed mindset. Kami ingin mendorong agar mereka mempunyai growth mindset,” ujar sarjana pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Aktif Berkontribusi Sejak Belia

Suatu hari di sela-sela kuliahnya, Dika pernah berkata kepada kawannya. “Ini kita kuliah dapat banyak ilmu masa cuma di dalam kelas. Ayo ke rumah saya di Purbalingga,” kata dia penuh semangat.

Nggak usah mikirin makan dan sebagainya. Kita bagikan ilmu kita yang kita miliki. Ilmu sederhana gak apa-apa,” bujuk dia. Rayuan Dika berhasil meluluhkan hati teman-temannya. 

Saat itu, dia mengajak kawan-kawannya untuk mengadakan kegiatan sosial bertajuk EDUTECH 2014, sebuah kegiatan training dan seminar ICT (Information and Communication Technology). Acara tersebut digelar selama dua hari pada 29 - 30 Maret 2014. EDUTECH kemudian sukses digelar hingga tiga tahun berturut-turut dan membawanya menjadi Pemuda Pelopor Bidang Teknologi dan Informasi dari Dinas Pemuda dan Olahraga.

Kegiatan sosial tersebut bukan kali pertama ia lakukan. Lahir di Desa Cipaku Purbalingga pada  21 Agustus 1992, Hardika aktif berkontribusi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Semasa kecil, ia kerap berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengajar teman-temannya. 

“Pura-pura jadi guru lah, karena (tumbuh dari keluarga) di pendidikan, jadi suka ngetik-ngetik rangkuman,” seloroh Hardika.

Saat menginjak bangku SMP, Hardika mulai membangun perpustakaan di rumahnya. Ia terinspirasi dari ruang perpustakaan di sekolahnya. 

Warga sekitar tempat tinggal Dika menyambut positif. Terbukti banyak orang tua, anak, hingga temannya rutin mengunjungi perpustakaan yang ia bangun. “Kok pada seneng ke sini ya?” gumam dia kala itu. Sambutan hangat warga memotivasi dirinya untuk berkontribusi lebih banyak lagi untuk pendidikan di kemudian hari. 

Tingkah laku Dika yang getol mengabdikan diri untuk masyarakat berlanjut saat menempuh studi di UNY. Saat itu ia tergerak untuk membuat mahasiswa asal Purbalingga agar berkontribusi pada kampung halamannya. 

“Banyak mahasiswa asal Purbalingga yang kuliah di UNY. Tapi saya melihat saat itu, kenapa mahasiswa asal Purbalingga tidak tergerak untuk berkontribusi di daerahnya,” kata editor di Asia-Pacific Journal of Public Policy itu.

Kenyataan tersebut membuat Dika mendirikan organisasi perkumpulan mahasiswa asal Purbalingga, yang diberi nama Forsimangga atau Forum Silaturahmi Mahasiswa Purbalingga pada tahun 2011. “Bagaimana caranya, mahasiswa asal Purbalingga bisa berkontribusi ke Purbalingga,” tegas Dika.

Ia dan kawan-kawannya tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2015, Hardika mengajak teman-temannya untuk merintis organisasi lain bernama Badan Penggerak Pemuda Daerah. Fokusnya, mendorong keterlibatan pemuda untuk menggerakan daerahnya ke arah yang lebih baik.

Apa yang dilakukan Dika semata-mata merupakan wujud kepeduliannya untuk mengajak pemuda membangun desa. Dia memandang masa depan desa ada pada anak muda. Dedikasinya terus dilakukan agar dapat membantu mengembangkan kapasitas anak muda di kampung.

“Kalau mau maju, anak mudanya juga wajib diprioritaskan. Siapa yang akan mengolah desa kalau anak mudanya pergi ke kota?” tandas dia. 


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan dosen

Karya Mahasiswa

image-featured
26 Mei 2026

DentAware karya mahasiswa FKG UMS diperkaya lima fitur skrining berbasis AI. Mendeteksi masalah gigi dan mulut secara cepat dan praktis.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
17 April 2026

Tanaman belukar yang tumbuh liar rupanya dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pada wastra. Idenya lahir dari keprihatinan akan cemaran pewarna tekstil pada lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
12 Desember 2025

Degsalture menjadi detergen ramah lingkungan yang ditawarkan mahasiswa UMS. Menggabungkan bahan alami dengan formulasi pembersih yang aman bagi air dan kulit.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.