
Puasa Mendidik Kebersamaan
Puasa menjadi medium ibadah pribadi maupun sosial. Momentum penuh berkah ini menjadi bukti bahwa puasa mempererat kebersamaan menuju kebaikan.
Raden Ajeng Tumenggung Luthfia Nur Putri Azizah selalu menenteng buku saku dalam genggaman tangannya. Buku kecil itu memuat catatan kecil tentang mimpi yang ingin ia gapai dan capaiannya.
Selama Luthfia belajar di program studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), banyak target yang telah ia capai. Beberapa yang paling bergengsi adalah mengikuti lomba arsitektur internasional.
Perempuan berdarah Jawa ini aktif menyumbang medali untuk prodi Arsitektur UMS. Baginya, lomba adalah petualangan untuk menarik diri dari rutinitas dalam kelas. “Kalau di kuliah cuma datang dan duduk di kelas itu boring,” tutur Luthfia, Senin (6/1/2024).
Dirinya menaruh perhatian khusus pada arsitektur yang berdampak bagi lingkungan dan masyarakat. Dua dosen Luthfia, yakni Prof.Dr. Ir. Widyastuti Nurjayanti, M.T. dan Suharyani, S.T., M.T., pernah berkata, “Arsitektur yang baik itu yang rahmatan lil alamin (rahmat semesta alam) dan hablum minal alam (berhubungan dengan alam),” kata Luthfia mengulangi dosennya.

Raden Ajeng Tumenggung Luthfia Nur Putri Azizah. Humas UMS/Imam Safii
Konsep itu menginspirasi Luthfia untuk menciptakan inovasi genteng berbahan limbah organik. Ia menamainya Eco Rooftile–genteng ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah batang tebu, serabut kelapa, dan cangkang telur.
Ide pembuatan atap datang tidak sengaja. Setiap berangkat ke kampus, Luthfia selalu melihat penjaja es degan dan es sari tebu di pinggir Jalan Solo-Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. “Banyak sampah sisa yang terbuang,” ujarnya. Ia lalu mengonsultasikan idenya ke salah satu dosennya, Dody Irnawan, S.T., M.T. dan mulai menyusun proposal untuk program kreativitas mahasiswa atau PKM.
Sayangnya, proposal Eco Rooftile gagal menembus PKM. “Saya sempat break sebentar karena gagal,” kenang dia. Tak ingin larut dalam kekecewaan, Luthfia lalu melombakan Eco Rooftile pada Japan International Youth Innovation Summit 2024 di Jepang.
“Bulan Februari kemarin pengumuman lolos ke Jepang,” lanjutnya. Luthfia kemudian berjuang keras menyelesaikan genteng ramah lingkungan itu. Orang tuanya mendukung penuh dan ikut membantu proses pembuatan genteng.
Genteng kemudian diuji, mulai dari uji rembes, uji penyerapan air, tekanan, hingga suhu. Pengujian selama lebih dari 20 jam menunjukkan genteng mampu menahan rembesan dan penyerapan air. Eco Rooftile juga mampu menahan beban hingga 15 kilogram dan suhu ekstrem.
Luthfia pun memboyong genteng Eco Rooftile ke Negeri Sakura. Hasilnya, Eco Rooftile berhasil meraih penghargaan best waste of recycling innovation.
Baca Juga: Mahasiswa Arsitektur UMS Raih Penghargaan Japan International Youth Innovation Summit 2024

Luthfia tengah memegang Eco Rooftile usai memenangi medali emas pada Global Youth Innovators Competition 2024. Genteng ramah lingkungan itu ia ikut sertakan dalam beberapa kompetisi bergengsi. Dok.Pribadi
Luthfia juga mengajak teman kuliahnya, Ariz Fantrio Larosa, di bawah bimbingan dosen pembimbing Intan Pramesti Rochana, S.T., M.R.K., untuk melombakan Eco Rooftile pada Global Youth Innovators Competition 2024. Karya tersebut berhasil menyabet medali emas.
Proyek Eco Rooftile meninggalkan kesan khusus bagi Luthfia, sebab banyak kisah yang menyertainya. Sepekan menjelang pengumpulan proposal PKM, orang tua Luthfia mengalami kecelakaan dan harus opname. Belum lagi rekan setimnya yang harus menjalani ujian dan membuat Luthfia harus berjuang seorang diri. Ditambah kegagalannya menembus PKM.
Ia sangat bersyukur mengetahui dirinya berhasil mendapat penghargaan di Jepang. Perjuangannya selama ini terbayar tuntas. “Saya seketika teringat susahnya pembuatan produk itu,” kata dia.
Tak hanya mengembangkan material ramah lingkungan, perempuan yang jatuh hati pada arsitektur masyarakat itu juga mengembangkan ide revitalisasi Kampung Balong, Surakarta, Jawa Tengah. Kampung itu, kata dia, merupakan salah satu kawasan kumuh yang 80 persen penduduknya adalah lansia.
Dirinya menggagas kampung layak huni untuk lansia. Idenya adalah membangun hunian kolektif agar lansia dapat hidup dalam satu atap. “Satu rumah untuk empat orang lansia,” jelas dia.
Setiap rumah dilengkapi fitur ramp untuk membantu lansia berjalan, paving block penuntun jalan, dan tombol darurat di tempat tidur yang terhubung dengan puskesmas terdekat. “Tujuannya agar para lansia dapat saling membantu jika membutuhkan pertolongan,” imbuh Luthfia.
Gagasan kampung ramah lansia itu ia lombakan ke Asia-Pacific Youth Innovation SDGs Summit 2024 di Korea Selatan. Hasilnya, Luthfia diganjar penghargaan best prototype good health and well-being presentation.

Lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, 18 April 2004, Raden Ajeng Tumenggung Luthfia Nur Putri Azizah adalah bungsu dari tiga bersaudara.
Lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Karanganyar pada 2022, perempuan yang mengambil peminatan MIPA di SMA-nya itu tertarik dengan jurusan Ilmu Kesejahteraan Masyarakat di Universitas Indonesia (UI). Berbeda dengan rumpun studi yang ia pelajari di SMA, terutama dengan mata pelajaran biologi yang ia gemari, “Biologi itu bagi saya sekadar hobi. Suka hafalin nama-nama ilmiah doang,” kenang dia.
Lantaran harus meninggalkan kedua orang tuanya sendiri jika melanjutkan kuliah di UI, Luthfia memutuskan melanjutkan studi di area Solo Raya, mengikuti saran orang tuanya.
Pilihan pertama jatuh pada jurusan Psikologi di UMS. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya. Ia memutuskan masuk ke Arsitektur UMS.
Sebagian besar keluarganya merupakan lulusan teknik, termasuk ayahnya yang lulusan teknik elektro. “Kurang dari arsitektur saja. Akhirnya saya coba masuk Arsitektur UMS,” kelakar Luthfia.
Selama dua semester awal, Luthfia dilipur ragu. Keinginan melanjutkan studi kesejahteraan sosial masih mengganjal. “Belum move on,” katanya. Mahasiswi penerima beasiswa Unggulan UMS itu kemudian menceritakan kegundahannya pada dosen pembimbing akademiknya (PA), Ir. Yayi Arsandrie, S.T., M.T.
“Kesejahteraan sosial itu juga berhubungan dengan arsitektur,” ucapnya mengulangi dosennya. Luthfia kemudian disodorkan peta konsep buatan dosennya. Rupanya, arsitektur menjadi inti Program Pemukiman Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-Habitat) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Luthfia menyambut semester III dengan senyuman. Ia telah menemukan jiwanya di Arsitektur UMS. Target dan mimpinya ia tuangkan dalam buku saku coklat kecil yang terus ia bawa kemanapun kaki melangkah.
Biasanya, dia mencatat target yang ingin dicapai setiap awal semester, misalnya lomba atau konferensi. Ia juga merekap capaiannya tersebut. “Kadang lombanya bisa lebih banyak dari yang ditargetkan,” imbuh dia sambil menunjukkan isi buku saku.
Semangat untuk menorehkan prestasi terus tumbuh seiring waktu. Sejak semester III, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi arsitektur di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Baik individu maupun tim, Luthfia aktif menelurkan gagasan mengenai arsitektur hijau yang berdampak bagi keberlanjutan.
Baca Juga: Mahasiswa Arsitektur UMS Raih Gold Medal Global Youth Innovator Competition

Luthfia (dua dari kiri) usai meraih medali emas dalam Global Youth Innovators Competition 2024. Tampak di ujung kanan, Ariz Fantrio Larosa, rekan setimnya. Dok.Pribadi
Pada gelaran Archimony 2023 yang diselenggarakan Paguyuban Mahasiswa Arsitektur Yogyakarta (PAMIY), Luthfia mengajukan dua gagasan yang sukses mendapat penghargaan. Karya bertajuk “Rumah Tumbuh Skalabilitas Permukiman Padat Pariwisata Malioboro Yogyakarta” berhasil meraih medali emas dan best concept sekaligus. Karya kedua yang berhasil meraih medali perak adalah “Sustainable Architecture for A Better Urban Settlement dengan Konsep Pemanfaatan Material Kayu Sebagai Unsur Utama Fasad Bangunan”.
Selain merancang bangunan, perempuan yang menggemari gaya arsitektur jengki ini juga mengonsep rancang bangun taman kota Ibu Kota Nusantara dengan konsep transformasi huruf hijaiyah “wau”. Rancangan tersebut ia lombakan dalam The Second National Urban Forum Indonesia Urban Youth Assembly (IUYA) 2023 dan berhasil menyabet juara ketiga.
Tahun berikutnya, Luthfia semakin gencar mengikuti berbagai perlombaan. Misalnya, pada Maret 2024, dia bersama dua rekannya menggagas EduSquare, sebuah ruang terbuka hijau berupa taman kota yang memiliki fungsi sebagai taman penunjang kegiatan pendidikan. Gagasan itu ia lombakan dalam Archworks 8 Competition di Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang Selatan, Banten dan berhasil meraih juara ketiga.
Baca Juga: Tim Mahasiswa Arsitektur UMS Sabet Juara 3 Event Archworks 8 Competition
Mahasiswi yang mendambakan menjadi dosen ini terus menantang dirinya untuk mengikuti berbagai kompetisi. “Setiap semester harus ikut sayembara. Kalau tidak ada yang ikut, rasanya ada yang kurang,” seloroh dia.
Tak hanya mengejar prestasi akademis, Luthfia turut mengabdikan dirinya pada sejumlah kegiatan sosial kemasyarakatan. Perempuan yang hobi olahraga menembak itu aktif dalam organisasi Forum Anak Kabupaten Karanganyar sejak duduk di bangku SMA.
Pada 2021, Luthfia berdialog dengan Gubernur Ganjar Pranowo mewakili Kabupaten Karanganyar. Ia menyuarakan ketiadaan SMA negeri di Kecamatan Tawangmangu. Hal itu membuat calon pelajar SMA di Tawangmangu kesulitan mendaftar sekolah akibat sistem zonasi.
“SMA terdekat saja di Karangpandan,” jelas perempuan yang pernah menjadi fasilitator Forum Anak Kabupaten Karanganyar itu. Alhasil, Gubernur Ganjar menginstruksikan pembangunan SMA negeri di Kecamatan Tawangmangu dan diresmikan pada 2022.
Dirinya juga menaruh perhatian khusus pada pengembangan desa. Ada kutipan Mohammad Hatta yang selalu ia pegang teguh. “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa”.
Salah seorang dosennya, Suryaning Setyowati, S.T., M.T., pun menyarankan Luthfia berfokus pada arsitektur perilaku. Mengembangkan desain untuk masyarakat desa, baik bangunan maupun taman. “Biarlah orang lain yang mendesain kota, saya ingin mengabdikan diri untuk desa,” ujarnya mantap.

Luthfia tengah menggendong seorang anak dalam sebuah kegiatan sosial yang digelar Keluarga Mahasiswa Teknik Arsitektur UMS. Dok.Pribadi
Luthfia juga lolos seleksi relawan yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ia lalu diterjunkan ke zona bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia bertugas sebagai relawan yang membantu tim SAR menyisir puing-puing rumah warga. “Sempat juga membantu proses evakuasi mayat,” ucapnya.
Di salah satu sudut rumah yang ditinggal pemiliknya mengungsi, Luthfia menemukan sebuah buku tergeletak di lantai. Buku itu dalam kondisi telungkup dengan debu vulkanik menutupi halaman depan buku. Ia pun membalik buku itu dan membaca isinya. “Barangsiapa yang membantu orang lain, maka akan dipermudah urusannya,” kata Luthfia.
Termenung ia membaca kalimat itu. Tak berapa lama, Luthfia kembali melangkah. Sebab medan perjalanannya masih membentang.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva

Puasa menjadi medium ibadah pribadi maupun sosial. Momentum penuh berkah ini menjadi bukti bahwa puasa mempererat kebersamaan menuju kebaikan.
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.