
Komunikasi Publik Pejabat yang Ala Kadarnya
Gaya komunikasi pejabat publik terus menuai sorotan. Berujung blunder dan memicu kekecewaan rakyat.
Mengutip studi yang dipublikasikan Journal of Behavioral Addictions, terdapat beberapa dampak negatif dari penggunaan teknologi digital yang berlebihan hingga menjadi candu. Berikut adalah beberapa hasil survei yang disebutkan pada jurnal tersebut sebagai indikasi dampak negatif kecanduan teknologi pada kemampuan literasi dan kecerdasan seseorang.
Pertama, kecanduan teknologi digital menyebabkan penurunan kemampuan literasi. Survei di Amerika Serikat menunjukkan 27 persen siswa sekolah menengah tidak dapat membaca dengan baik karena terlalu banyak menggunakan teknologi dan media sosial.
Kedua, kecanduan media sosial dapat menimbulkan kesulitan berinteraksi di dalam ruang-ruang sosial. Hal ini sesuai dengan studi di Inggris, misalnya, yang menemukan bahwa 60 persen remaja mengalami kesulitan berinteraksi sosial karena terlalu banyak menggunakan media sosial. Mereka kesulitan berinteraksi di dunia nyata yang tidak selayaknya berinteraksi di dunia maya.
Ketiga, kecanduan teknologi dan media sosial dapat menyebabkan peningkatan stres dan kecemasan bagi individu. Penelitian di Australia menunjukkan 45 persen remaja mengalami stres dan kecemasan karena penggunaan teknologi yang berlebihan. Mereka menjadi lebih sering berhalusinasi dan menjadi sulit mengendalikan dirinya.
Generasi Z dan generasi milenial merupakan generasi yang sangat terpengaruh oleh kemajuan teknologi informasi dan media sosial. Meskipun kemajuan ini memberikan begitu banyak manfaat, tetapi kebiasaan menggunakan teknologi secara berlebihan ternyata dapat menyebabkan efek negatif pada perkembangan otak manusia. Terutama gangguan otak berupa penurunan kecerdasan yang disebut brain rot.
Brain rot atau dikenal sebagai "pembusukan otak" adalah kondisi ketika kemampuan kognitif, analisis, memori, serta mengingat individu menjadi menurun karena kebiasaan menggunakan teknologi secara berlebihan. Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan dalam berpikir kritis, kepekaan mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan suatu masalah.
Mengutip laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gejala brain rot dapat berupa kesulitan berkonsentrasi dan memperhatikan detail, mengalami kesulitan dalam mengingat dan memahami informasi, sulit berpikir kritis dan mengambil keputusan, mengalami stres dan kecemasan, serta terlalu ketergantungan kepada teknologi (kecanduan).
Penyebab brain rot saling berhubungan antara satu penyebab dengan penyebab lainnya. Misalnya, penggunaan teknologi berlebihan dengan kurangnya aktivitas fisik dan olahraga.
Di sisi lain terjadi pola makan yang tidak seimbang pada individu. Kurangnya tidur dan istirahat serta adanya stres dan tekanan kerja yang tinggi juga turut menyebabkan terjadinya fenomena ini.
Melihat beberapa penyebab di atas, cara mencegah penurunan kinerja otak dapat dilakukan dengan mulai membatasi penggunaan teknologi, melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur, mengatur pola makan dengan menu makanan yang seimbang, memperhatikan agar tidur dan istirahat yang cukup, dan terakhir, harus lebih sering melakukan praktik relaksasi dan meditasi untuk mereduksi tingkat stres yang tinggi.
Khusus bagi generasi Z dan generasi milenial, agar dapat terhindar dari dampak buruk brain rot mulailah menggunakan aplikasi pengatur waktu layar, lakukan aktivitas di luar ruangan, budayakan kembali membaca buku dan artikel. Ditambah mengikuti kursus atau pelatihan lain yang lebih bermanfaat serta memulai mengatur gaya hidup sehat dalam rangka menjaga keseimbangan.
Brain rot merupakan ancaman serius bagi generasi Z dan generasi milenial jika tidak diantisipasi dengan baik. Dengan memahami gejala, penyebab, dan cara mencegahnya, kita berharap dapat menjaga kesehatan otak dan meningkatkan kemampuan kognitif atau kecerdasan kita. Mari kita waspada dan mengambil langkah-langkah antisipatif sebagai ikhtiar pencegahan.
Mengenai fenomena kecerdasan dan brain rot ini, saya teringat pada salah satu artikel yang pernah terbit di Solopos. Artikel ditulis oleh Ichwan Prasetya, 25 September 2024, membahas tentang kecerdasan eksistensial. Ia menyebut bahwa dalam konteks komunikasi dan persebaran informasi di era digital, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi digital mendorong banyak orang untuk meninggalkan kedalaman makna (deep meaning).
Makin banyak orang yang merasa cukup dengan segala permukaan. Manusia menjadi kering dalam pemahaman dan pemaknaan. Sedangkan mereka menjadi cenderung abai terhadap penguasaan tentang kedalaman makna. inilah yang dapat menyebabkan terjadinya “pembusukan otak” atau yang kita sebut sebagai fenomena brain rot.
Dalam artikel itu juga disebutkan era serba digital telah membuat manusia hanya tahu informasi serba sedikit, tapi banyak hal. Sehingga menjadi gejala umum dan kurang memiliki makna mendalam. Memaknai secara mendalam, memahami secara komprehensif, dianggap ketinggalan informasi karena meniscayakan hanya tahu serba sedikit hal.
Menyingkap dan mengantisipasi dampak buruk dari gejala ini, Ichwan menyebutkan pentingnya mengembalikan kecerdasan eksistensial manusia dengan budaya membaca. Kecerdasan ini, bisa dibangun dengan sangat baik lewat budaya membaca buku dan ditambah aktivitas diskusi, karena kegiatan ini telah dapat melahirkan tendensi post-digital.
Tendensi ini yang dapat mempertahankan hakikat kemanusiaan meskipun berhadap-hadapan dengan teknologi digital. Dengan memahami kecerdasan eksistensial niscaya memahami memahami kekhasan manusia.
Tiap manusia memiliki kekhasannya, yaitu konteks makna yang selalu ambigu, motivasi yang sering kali tak tertebak, imajinasi yang tanpa batas, kekayaan pengalaman pribadi yang unik, selera yang spesifik, dan ikatan empatis-etis antarindividu.
Ikatan empatis-etis ini yang perlu digarisbawahi. Etis sebagai dasar etika dan moralitas sangat mempengaruhi bagaimana cara berpikir maupun kinerja seseorang. Masifnya penggunaan gawai dan teknologi digital memang tidak bisa dibendung harus diimbangi dengan bekal moral yang memadai. Salah satunya dengan menjaga kewarasan dengan menumbuhkan kecerdasan autentik dalam tubuh manusia agar terhindar dari fenomena brain rot.
Cerdas tidak hanya soal matematis, tetapi juga soal empiris-etis. Anak yang cerdas bukan hanya digambarkan dengan angka-angka kuantitatif, tetapi juga dapat dituangkan dalam bentuk kata-kata yang bersifat kualitatif dan bernilai. Inilah hakikat yang disebut kecerdasan autentik.
Ditulis oleh: Dartim Ibnu Rushd, S.Pd., M.Pd. (Dosen Fakultas Agama Islam UMS)
Sumber: Koran Solopos Edisi Senin Legi, 30 Desember 2024

Gaya komunikasi pejabat publik terus menuai sorotan. Berujung blunder dan memicu kekecewaan rakyat.
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.