Sepanjang Juli 2024, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah melaksanakan berbagai kegiatan dalam rangka pembangunan lahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Catur, Boyolali, Jawa Tengah.
Ketua Tim PPK Ormawa IMM FIK UMS, Isna Alfiyani, menguraikan tujuan pembangunan lahan TOGA, antara lain revitalisasi lahan, memasifkan potensi lahan, meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan untuk mengurangi prevalensi diabetes melitus dan hipertensi, meningkatkan keterampilan warga tentang pembudidayaan TOGA di lahan kosong milik desa, dan membentuk dua kelompok atau komunitas untuk menunjang pembudidayaan TOGA.
“Penanaman toga sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh masyarakat beserta Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Namun mereka belum melakukan program berkelanjutan dan penanaman toga hanya untuk bahan konsumsi pribadi,” ujar Isna.

Para peserta PPK Ormawa bersama warga mempersiapkan lahan TOGA. dok.IMM FIK UMS
Proses penggarapan lahan dimulai sejak 1 Juli 2024 lewat kegiatan kerja bakti. Tim PPKO IMM FIK bersama warga desa membersihkan lahan penanaman bibit dan saung TOGA. Kegiatan ini melibatkan pembersihan sampah, pencabutan rumput liar, dan merapikan lahan.
Tim PPKO IMM FIK kemudian melakukan persiapan material dengan menebang bambu di hutan sekitar desa. Bambu yang telah ditebang kemudian dipotong menjadi bagian-bagian yang akan digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan. Kegiatan berlanjut dengan perataan tanah. Proses ini terdiri atas pencabutan rumput liar, tanaman yang tidak diperlukan, dan pohon-pohon kecil untuk mempersiapkan lahan yang rata dan siap ditanami.

Proses pembangunan pondasi untuk menaungi lahan TOGA. dok.IMM FIK UMS
Setelah lahan siap, dimulailah pembangunan lahan bibit dengan melakukan pengecoran pondasi. Tim PPK Ormawa juga membangun jalan menuju lahan TOGA untuk memudahkan akses dan mobilisasi. Tak lupa mereka juga membangun saung dan melakukan pemetaan akhir untuk memastikan semua tanaman yang digunakan mendapat tempat untuk penanaman.
Selama proses pembangunan, Isna menuturkan sempat menemui sejumlah tantangan. “Tantangan yang dihadapi adalah waktu pembangunan pondasi memerlukan waktu lebih lama, serta pemilihan tanaman karena masih ada beberapa tanaman yang belum tumbuh di musim kemarau,” imbuh dia.
Tim PPK Ormawa bersama tokoh masyarakat kemudian membeli bibit TOGA. Isna mengungkapkan jenis bibit tersebut telah disepakati berdasar kebutuhan para warga, antara lain kencur, temulawak, daun dewa, bunga telang, kayumanis, lempuyang, rosela, kunyit, serai, sirih, dan lidah buaya.

KIRI: Salah satu tanaman obat. KANAN: Seorang mahasiswa dan warga tengah memandangi lahan TOGA yang hampir rampung. dok.IMM FIK UMS
“Dilihat dari prevalensi penyakit yang ada di Desa Catur seperti hipertensi dan diabetes melitus, tanaman seperti kunyit, jahe, dan lidah buaya bisa digunakan sebagai obat alami untuk penyakit tersebut,” ujar mahasiswa Keperawatan UMS itu. “Tanaman ini dapat dikonsumsi secara langsung, atau jadikan sebagian minuman ramuan herbal.”
Setelah penanaman selesai, Tim PPK Ormawa menggelar edukasi mengenai perawatan serta edukasi terhadap Kader TOGA (KAGACA). Isna berharap program ini akan bermanfaat bagi masyarakat desa setempat, “Bisa menjadi ladang ekonomi tambahan untuk warga dan membantu program desa mengenalkan keunggulan yang ada di desa catur,” pungkasnya
Penulis: Khoiruna Malihah, Hafidz Dinulloh (Jurnalis PPKO IMM FIK UMS)
Editor: Gede Arga Adrian
Karya Mahasiswa
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







