Kondisi Lingkungan
Desibel di Dua Masjid
Penyebab Desibel Berbeda
Agar Lebih Nyaman

Sejak pendiriannya pada 1586, Kesultanan Mataram Islam telah berkembang pesat menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia sepanjang abad ke-16 hingga awal abad ke-18. Selama berabad lamanya, falsafah Jawa mengalir lembut dalam alam pikiran pembesar Mataram Islam dan penduduknya. Menciptakan harmoni yang selaras dengan ajaran Islam. Salah satu filosofi Jawa yang lahir pada era Mataram Islam adalah catur gatra tunggal.

Catur gatra tunggal adalah penyatuan empat elemen ke dalam satu filosofi menjadi satu kesatuan tunggal. Melansir Detik.com, catur gatra tunggal erat kaitannya dengan konsep tata ruang kota pada zaman itu. Empat elemen yang disatukan antara lain: Pemerintahan, peribadatan, perekonomian, dan ruang sosial. Hal ini tercermin dari keberadaan alun-alun sebagai ruang sosial yang dikelilingi oleh masjid, kantor pemerintahan, hingga pasar.

Meskipun Kesultanan Mataram Islam telah terpecah, para pewarisnya masih menghidupkan konsep catur gatra tunggal dalam kesehariannya. Salah satu elemen yang masih aktif adalah elemen peribadatan. Di Solo, elemen ini tercermin dari keberadaan Masjid Agung milik Keraton Kasunanan Surakarta dan Masjid Al Wustho milik Pura Mangkunegaran. 

Seiring perkembangan zaman, kedua masjid ini masih eksis menjaga perannya sebagai tempat syiar agama Islam. Pertumbuhan aktivitas perekonomian masyarakat di sekitarnya tidak menyurutkan peran sentral masjid ini. Kedua masjid masih dihadiri jamaah kala waktu salat tiba. Peran syiar agama Islam hadir lewat kegiatan kajian rutin setiap pekannya.


Keberadaan dua masjid dan aktivitas para jamaahnya membuat Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta, penasaran untuk meneliti tingkat ketenangan kedua masjid itu. Temuannya tertuang dalam riset berjudul “The Difference of the Surrounding Environment's Function Complexity on the Formation of Environmental Sound Character”. Riset ini terpublikasi dalam Jurnal Civil Engineering and Architecture dan terindeks Scopus Q2.

Kondisi Lingkungan

Dihubungi melalui Zoom Meeting, Selasa (11/03/2024), Nur Rahma melihat terdapat perbedaan karakter lingkungan antara dua masjid itu. Lingkungan Masjid Agung Surakarta berkembang menjadi sentra bisnis perdagangan dan pariwisata sehingga selalu ramai. 

Sedangkan lingkungan Masjid Al Wustho berkembang menjadi kawasan pendidikan. Terlihat dari berdirinya TK, SD, dan SMA yang mengapit masjid itu. Menurut Nur Rahma, lingkungan Masjid Al Wustho relatif sepi dibanding Masjid Agung.

“Kalau di Masjid Agung itu kan lingkungannya bisnis ya. Ada Pasar Klewer, PGS (Pusat Grosir Solo), dan alun-alun. Nah, kalau di Masjid Al Wustho lingkungannya ini pendidikan. Ada sekolah Muhammadiyah di utara masjid dan TK di selatan masjid,” ujar Nur Rahma.

Desibel di Dua Masjid

Perbedaan itu membuat Nur Rahma menduga adanya pengaruh antara kondisi lingkungan sekitar masjid dengan tingkat kenyamanan lingkungan masjid. Ia lalu mendalami dugaan itu lewat serangkaian riset untuk meneliti unsur akustik di lingkungan masjid. 

Soundscape itu pemandangan suara yang apa adanya,” lanjut dia. Nur Rahma bercerita lebih dalam mengenai risetnya itu. Riset selama dua tahun (2019-2021) itu berfokus pada soundscape dan unsur-unsur yang memengaruhinya di lingkungan kedua masjid itu. 


Soundscape itu tidak hanya suara-suara yang indah, tapi justru komponen apa saja yang memengaruhi suara, hingga melibatkan persepsi orang yang mendengarkan suara,” imbuhnya.

Selama proses riset, dirinya menggunakan alat ukur akustik berupa sound level meter dan alat perekam zoom h6 handy recorder. Sound level meter adalah alat pengukur tingkat kebisingan. Alat ini digunakan untuk mengukur desibel suara secara real time. Sedangkan zoom h6 handy recorder digunakan untuk merekam kondisi sekitar. Perekaman dilakukan kontinu dari pagi hingga petang selama satu sampai dua pekan. 

Riset yang dipublikasikan pada tahun 2022 itu menunjukkan hasil di luar dugaan. Tingkat kebisingan di Masjid Agung cenderung lebih rendah dari Masjid Al Wustho. Dari tangkapan sound level meter, tingkat kebisingan di Masjid Agung mencapai 60,8 dB. Sedangkan tingkat kebisingan di Masjid Al Wustho mencapai 63,8 dB. 

Angka tersebut masih di bawah batas kebisingan 70 dB. Namun menurut Nur Rahma, terjadi anomali sebab kondisi sekitar Masjid Agung cenderung lebih ramai tetapi mempunyai kebisingan lebih rendah ketimbang Masjid Al Wustho.

“Meskipun selisihnya sedikit, perbedaan tiga desibel sebetulnya sudah sangat jelas dirasakan,” jelas Kaprodi Arsitektur UMS itu.

Temuan itu diperkuat dengan testimoni pengunjung saat mengisi kuesioner. Hasilnya 80% pengunjung menyebutkan Masjid Al Wustho lebih bising ketimbang Masjid Agung.


Penyebab Desibel Berbeda

Selisih desibel kedua masjid itu menimbulkan tanda tanya. Mengapa kondisi lingkungan yang kontras malah menimbulkan hasil yang berkebalikan? Nur Rahma menduga beberapa faktor yang memengaruhi kondisi masjid sehingga menghasilkan tingkat kebisingan yang berbeda. 

Tata letak Masjid Agung Solo diduga berpengaruh pada tingkat kebisingannya. Masjid Agung mempunyai halaman yang luas dibanding Masjid Al Wustho. Jarak bangunan utama Masjid Agung dengan pagar dan jalanan lebih lebar. Hal ini membuat tingkat kebisingan kendaraan di sekitar Masjid Agung menjadi rendah saat sampai ke lingkungan masjid. 

“Karena bunyi kendaraan harus melewati pagar dan area halaman yang luas, jadi saat mencapai ke masjid, otomatis frekuensi kebisingan akan berkurang,” terang Nur Rahma.

Faktor kedua adalah pemilihan material bangunan. Halaman Masjid Al Wustho ditutupi batu paving block, sedangkan halaman Masjid Agung menggunakan pasir laut selatan. Menurut Nur, paving block merupakan pemantul suara yang baik dan membuat kondisi lingkungan masjid kian bising.

Paving itu ternyata efeknya sangat besar. Karena terbuat dari semen, dia adalah reflektor suara yang baik. Suara motor, klakson, atau suara para murid di sekitar Masjid Al Wustho akan memantul dan menimbulkan bising yang lebih,” jelas dia.

Faktor ketiga adalah vegetasi. Keberadaan vegetasi tanaman tidak hanya meredam kebisingan, tetapi juga membawa kesejukan di sekitar masjid. Di Masjid Agung terdapat satu jenis tanaman yakni pohon sawo kecik (Manilkara kauki) yang banyak ditanam di pekarangan masjid. Jenis tanaman ini tidak dijumpai di halaman Masjid Al Wustho. 

Manfaat sawo kecik ternyata mampu meredam bunyi bising dari lingkungan sekitarnya. Rahma mendasarkan argumennya pada riset yang pernah dilakukan tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang pohon sawo kecik. Hasil tersebut selaras dengan temuan risetnya di area Masjid Agung.

“Ada riset dari IPB yang menyebutkan pohon sawo kecik mampu menyerap bunyi karena bentuk dan tekstur daunnya. Di Masjid Agung pohon ini (sawo kecik) jumlahnya lumayan banyak. Sedangkan di Al Wustho tidak ada pepohonan serupa sehingga bunyi bising tidak terserap dengan baik,” kata Nur.

Nur Rahma menyebut pemilihan komponen lanskap yang tepat akan mampu meredam kebisingan di area masjid.

Agar Lebih Nyaman

Menjadikan kenyamanan di area masjid adalah keharusan. Sebab, suasana masjid yang nyaman akan membuat umat Islam lebih khusyuk memunajatkan pengharapan pada Allah ta’ala. 

Bagaimana cara agar masjid bisa lebih nyaman untuk digunakan dalam beribadah? Wanita yang mengidolakan arsitek Tadao Ando itu memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membuat lingkungan masjid menjadi lebih nyaman, antara lain:

  • Menanam tanaman di halaman masjid untuk meredam suara dari jalanan.
  • Memasang instalasi air seperti kolam atau air mancur untuk memberikan suara tenang yang ditimbulkan gemericik air. 
  • Memasang penghalang antara jalan dengan area dalam masjid berupa pagar.
  • Memerhatikan jarak antara masjid dengan jalanan.

Selain perbaikan di luar masjid, untuk meningkatkan kenyamanan di dalam masjid, Nur Rahma memberikan beberapa tips, yaitu:

  • Untuk masjid dengan lahan terbatas, jika ada dana lebih dapat merenovasi masjid dan menempatkan ruang ibadah di lantai dua. Lantai bawah dapat digunakan untuk kepentingan sosial.
  • Perhatikan tata letak sound system. Pemasangan pengeras suara dipasang menghadap jamaah dengan tinggi sekitar dua meter.
  • Gunakan material bersifat absorber atau memiliki koefisien serap bunyi yang tinggi seperti karpet atau kayu.
  • Tidak menggunakan keramik untuk melapisi tembok. Keramik adalah media pemantul bunyi. Jika digunakan di dalam ruangan, bunyi akan memantul dan menambah kebisingan atau echo. Bahkan terkadang membuat suara imam menjadi tidak jelas dan tidak jernih.

“Desain masjid yang tepat akan membuat suasana menjadi tenang dan nyaman beribadah,” tutup Nur Rahma.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Baca jurnal penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Berita Unggulan

image-featured
13 Juni 2026

Begadang jadi hobi mayoritas orang Indonesia. Penggunaan gawai diduga menjadi biang keladinya. Apa dampak begadang bagi tubuh manusia?

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
12 Juni 2026

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?

image-featured
10 Juni 2026

Tim FEB UMS berdiskusi dengan perwakilan PPI Jepang. Bahas strategi branding destinasi wisata Indonesia agar semakin dikenal oleh masyarakat internasional, khususnya di Jepang.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.