
Badal Umroh dari Kacamata Tarjih Muhammadiyah
Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Strip antibiotik yang tersisa di dalam laci obat rumah bukanlah pemandangan yang asing bagi banyak keluarga. Obat yang semula diresepkan dokter untuk mengatasi infeksi itu kerap disimpan setelah gejala mereda, dengan harapan dapat digunakan kembali saat sakit datang di kemudian hari.
Kebiasaan menyimpan antibiotik sebagai “obat cadangan” ternyata masih banyak ditemukan di masyarakat. Tak sedikit pula yang mengonsumsi kembali antibiotik tersebut tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), apt. Hidayah Karuniawati, S.Farm., M.Sc., Ph.D., menangkap fenomena tersebut ke dalam penelitiannya yang bertajuk “Assessment of Storage Behavior of Antibiotics and Influence Factors Among Household Members in Boyolali, Indonesia: A Cross-sectional Study”. Rupanya antibiotik menjadi salah satu jenis obat yang paling banyak disimpan di rumah tangga setelah analgesik atau obat antinyeri.
“Antibiotik itu hanya untuk membunuh bakteri, tidak untuk membunuh virus, jamur, maupun parasit. Kalau penggunaannya tidak tepat maka bisa menyebabkan resistensi, dan itu yang bahaya” ujar Hidayah saat diwawancarai di Laboratorium Biologi Farmasi UMS, Jumat (19/6/2026). Resistensi antibiotik ialah kondisi ketika bakteri tak lagi mempan dibunuh oleh obat yang sebelumnya efektif.
Bagi sebagian orang, menyimpan antibiotik terasa sebagai keputusan yang masuk akal. Obat itu pernah membuat mereka sembuh. Ketika penyakit serupa datang kembali, tinggal membuka laci, mengambil beberapa kapsul yang tersisa, lalu mengonsumsinya seperti sebelumnya.
Tak perlu pergi ke dokter. Tak perlu antre di fasilitas kesehatan. “Dari 407 responden yang diteliti, sebanyak 184 responden atau lebih dari 45,2 persen masih menyimpan antibiotik di rumah dan melakukan pengobatan sendiri dengan antibiotik untuk penyakit ringan,” beber Hidayah.
Menurutnya, masyarakat menganggap antibiotik dapat digunakan kembali kapan saja tanpa perlu memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Apalagi ketika gejala yang dirasakan dianggap mirip dengan penyakit sebelumnya.

“Kadang-kadang kalau sakit itu pas malam hari atau hari libur kata sebagian responden, sementara fasilitas kesehatan tutup. Akhirnya mereka merasa sudah punya obat di rumah dan tinggal digunakan lagi,” tuturnya.
Hidayah menyebut, tak semua penyakit membutuhkan antibiotik. Keluhan yang terlihat mirip belum tentu memiliki penyebab yang sama.
“Radang tenggorokan, misalnya, ini merupakan salah satu penyakit yang oleh sebagian masyarakat diobati dengan antibiotik. Radang kan bisa disebabkan oleh virus dan akan membaik dengan sendirinya ketika daya tahan tubuh meningkat,” jelas dia.
Batas antara penyakit yang memerlukan antibiotik dan yang tidak sering kali tampak kabur bagi masyarakat awam. Akibatnya, antibiotik sering diposisikan sebagai stok obat wajib di rumah, layaknya obat demam atau obat sakit kepala.
Selain itu, sebagian masyarakat menyimpan antibiotik karena sisa antibiotik dari pengobatan sebelumnya. Padahal, dalam penggunaan yang tepat, seharusnya tidak ada sisa antibiotik karena pasien perlu mengonsumsi seluruh antibiotik sesuai dosis dan lama terapi yang telah diresepkan.
Adanya sisa antibiotik dapat mengindikasikan bahwa pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya, baik karena merasa sudah sembuh maupun karena alasan lainnya. “Kebiasaan ini tidak hanya berisiko menyebabkan infeksi tidak tuntas dan berulang, tetapi juga dapat meningkatkan peluang terjadinya resistensi antibiotik,” imbuh Hidayah.
Sisa antibiotik yang kemudian disimpan sebagai obat cadangan juga berpotensi digunakan kembali tanpa konsultasi tenaga kesehatan. Semakin memperbesar risiko penggunaan antibiotik yang tidak rasional.
Bakteri yang sudah resisten membuat pengobatan menjadi semakin sulit. Pasien membutuhkan antibiotik yang lebih kuat, lebih mahal, dan dalam beberapa kasus pilihan obat yang tersedia menjadi semakin terbatas.
Yang sering luput dipahami masyarakat, resistensi tidak berhenti pada satu orang saja. “Bakteri yang resisten terhadap antibiotik itu bisa menular ke orang lain,” jelas Hidayah.
Artinya, kebiasaan seseorang mengonsumsi antibiotik secara sembarangan dapat berdampak pada orang-orang di sekitarnya. Anggota keluarga, tetangga, bahkan masyarakat yang sama sekali tidak pernah menggunakan antibiotik secara tidak tepat dapat terkena konsekuensinya.
Ungkapan Hidayah sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) melalui Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS). WHO mencatat resistensi antibiotik terus meningkat di berbagai negara, termasuk pada bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae yang kerap menyebabkan infeksi saluran kemih, infeksi aliran darah, hingga infeksi di rumah sakit.

Pada 2023, satu dari enam infeksi bakteri yang terkonfirmasi laboratorium dilaporkan resisten terhadap antibiotik. Kondisi ini menjadi ancaman serius karena dapat membuat pengobatan semakin sulit, meningkatkan risiko komplikasi, dan berkontribusi terhadap jutaan kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, dikutip dari web London School of Hygiene & Tropical Medicine.
“Kalau semua antibiotik sudah tidak mempan lagi, ya penyakit itu jadi tidak bisa disembuhkan lagi,” ujar Hidayah memperingatkan.
Antibiotik sebenarnya bukan obat yang dapat dibeli secara bebas. Obat ini termasuk kategori obat keras yang hanya boleh diberikan berdasarkan resep dokter, kecuali antibiotik tertentu, dapat diberikan oleh apoteker tanpa resep dokter. Namun kenyataan di lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan aturan tersebut.
Dalam penelitiannya, Hidayah masih menemukan beberapa responden yang memperoleh antibiotik yang diminum dengan membeli langsung tanpa resep. Ada yang mendapatkannya dari toko obat atau warung kelontong.
Hidayah menjelaskan regulasi mengenai pembatasan antibiotik sebenarnya sudah lama diterapkan. Antibiotik hanya dapat diberikan oleh fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, apotek. Warung kelontong tidak boleh menjual antibiotik.
Namun dalam praktiknya, masih terdapat oknum yang menjual antibiotik tanpa mengikuti ketentuan tersebut. Di sisi lain, permintaan dari masyarakat juga masih tinggi karena banyak yang ingin mendapatkan antibiotik secara cepat tanpa harus memeriksakan diri terlebih dahulu.
Peneliti juga menemukan bahwa amoksisilin, tetrasiklin, dan FG Troches menjadi jenis antibiotik yang paling banyak ditemukan di rumah tangga responden. Selain disimpan di kotak obat, banyak responden yang juga asal menyimpan antibiotik, seperti di laci, di lemari, di kulkas, di kamar tidur, hingga di dapur.
“Tempat-tempat itu dipilih karena mudah dijangkau ketika dibutuhkan sewaktu-waktu kata mereka. Padahal antibiotik yang disimpan terlalu lama atau tidak disimpan sesuai ketentuan berisiko mengalami penurunan kualitas,” jelas Hidayah.
Karena itu, menurut Hidayah, upaya melawan resistensi antibiotik tidak cukup hanya melalui regulasi. Edukasi dan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci yang tidak kalah penting.
“Kalau mengubah perilaku memang tidak mudah. Harus dilakukan terus-menerus dan melibatkan banyak pihak,” katanya.
Perubahan itu mungkin dimulai dari langkah yang sederhana. Tidak membeli antibiotik tanpa resep, menghabiskan antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan, dan tidak menggunakan kembali obat sisa pengobatan sebelumnya.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Muhammad Nur Haqqi

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.