Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengirimkan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Balai Desa Mentoro, Pacitan dengan menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan, Sabtu (22/6/2024). Program pengabdian yang dinakhodai oleh Kusuma Estu Werdani, S.K.M., M.Kes. itu menyasar kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pacitan, khususnya Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Dalam wawancaranya bersama kami, Estu menjelaskan pengetahuan dan kompetensi kader kesehatan perlu ditingkatkan untuk mendukung program penanganan stunting yang meliputi deteksi dini stunting, pendampingan kelompok berisiko stunting (ibu hamil, remaja, calon pengantin, baduta), pembuatan makanan tambahan (PMT) untuk perbaikan nutrisi, dan pelaporan program kesehatan.
"Kader kesehatan di wilayah ini sudah mendapatkan berbagai penyuluhan, baik oleh pihak Puskesmas, Dinas Kesehatan, maupun BKKBN. Tapi, yang dijadikan tim TPPS hanya sebagian saja setiap desa, yaitu sekitar 3-4 dari 20-30 kader kesehatan," jelasnya.
Kondisi yang seperti itu, sambungnya, menyebabkan tidak meratanya pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki seluruh kader kesehatan. Ia dan rekan-rekan pengabdian kemudian berinisiatif memberikan beberapa kegiatan edukasi kesehatan, salah satunya ialah pelatihan terkait cara pembuatan tepung lele.
"Manfaat ikan lele jelas sangat baik untuk meningkatkan nutrisi bagi bayi atau balita dan ibu hamil. Karena setelah diriset, kader kesehatan sangat jarang membuat makanan tambahan (PMT) dengan bahan lele karena bayi, balita, dan ibu hamil kurang menyukai bau amis dari ikan lele," ungkap Estu.
Setelah pelatihan dihelat, para kader kesehatan berpendapat ternyata ikan lele dapat dijadikan berbagai jenis olahan makanan, tidak hanya sebagai bahan sayur atau lauk saja. Tepung lele sangat mudah diproduksi secara mandiri pada skala rumah tangga.

Proses pembuatan tepung lele. dok.pribadi
"Meskipun harganya lebih murah daripada ikan-ikan lainnya, tetapi kandungan omega-3 ikan lele melebihi ikan salmon berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh tim PkM," ucap dosen Kesehatan Masyarakat UMS itu.
Kader kesehatan pun ditunjukkan bahwa banyak jenis makanan yang dapat diolah dengan menggunakan tepung lele sebagai salah satu bahannya, seperti cookies dan roti bolu kering.
Estu berharap program pengabdian UMS tersebut mampu meningkat inovasi dan kreativitasnya kader kesehatan Puskesmas Pacitan dalam membuat PMT, terutama dengan memanfaatkan tepung lele.
Tim PkM UMS kemudian menindaklanjuti kegiatan pengabdian dengan pembuatan lebioponik bersama masyarakat dan menyerahkannya kepada perwakilan kader kesehatan untuk perawatan dan pemeliharaannya. Lebioponik adalah istilah yang dibuat oleh Tim PkM untuk produk ember plastik yang didesain untuk memelihara lele dan tanaman hidroponik, dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh, antara lain ember plastik, netpot, media tanam hidroponik (spons), benih tanaman (sayur), dan benih lele.
"Setelah tiga minggu pemberian lebioponik, benih lele sudah mulai berkembang, meskipun selama pemeliharaan ada benih lele yang mati 2-5 ekor," imbuh Estu.
Benih sayur kangkung yang ditanam juga memperlihatkan pertumbuhan yang baik dengan semakin tingginya tanaman sayuran tersebut. Selain kegiatan pelatihan dan pembuatan lebionik, tim PkM UMS memberikan materi penyuluhan terkait stunting, cara pencegahan stunting dan bayi berat lahir rendah (BBLR), dan optimalisasi peran kader dalam mencegah stunting.
"Setelah penyuluhan, kami mengadakan pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan rerata pengetahuan, yaitu dari 79,61 menjadi 88,44. Maka, penyuluhan kepada kader kesehatan dapat dikatakan efektif ya," pungkasnya.
Sumber: Program Studi Kesehatan Masyarakat UMS
Editor: Genis
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







