Baru-baru ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Boyolali mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Training of Trainers untuk Majelis Tabligh PDA Boyolali sebagai Fasilitator Lapas Wanita", Minggu (25/8/2024). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang tersebut diikuti oleh sekitar 40 pengurus majelis tabligh dari PDA dan PCA se-Kabupaten Boyolali.
Pengabdian masyarakat tersebut merupakan hasil kerja sama antara Tim PkM UMS yang didukung oleh Hibah RisetMu dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan PDA Kabupaten Boyolali. Tim PkM UMS dipimpin oleh Ayu Khoirotul Umaroh, M.K.M., bersama dengan dua anggota tim lainnya, yaitu Anisa Catur Wijayanti, M.Epid., dan Nurul Latifatul Hidayati, M.Ag..
FGD dibuka dengan sambutan Ketua PDA Kabupaten Boyolali, Sri Hidayati, yang menyampaikan Aisyiyah akan selalu siap untuk berkontribusi pada masyarakat. Dalam hal ini, Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MPK) PDA Boyolali telah lama terlibat dalam memberikan fasilitasi keagamaan pada Warga Binaan Pemasyarakatan Wanita Rutan Kelas IIB Boyolali.
Kegiatan berlangsung dengan sangat baik dan bermanfaat, karena pada dasarnya warga binaan perlu didampingi untuk mendukung rehabilitasi mental, spiritual, dan pengembangan keterampilan mereka. Pendampingan tersebut membantu mereka mengatasi tekanan emosional, memperkuat nilai moral, serta mempersiapkan diri untuk reintegrasi sosial yang sukses setelah keluar dari lapas. Dengan pendampingan yang tepat, peluang mereka untuk hidup lebih baik dan menghindari pengulangan pelanggaran hukum akan meningkat.

Tim PkM UMS menggelar Focus Group Discussion di Ruang Pertemuan Gedung PDA Boyolali (25/8/2024).
FGD tersebut merupakan kegiatan pembuka dari serangkaian kegiatan PkM yang akan dilaksanakan oleh Tim PkM UMS. Ayu, ketua PkM Hibah RisetMU, berharap kegiatan PkM yang dilaksanakan dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan para pengurus majelis tabligh, khususnya saat menjalankan peran sebagai fasilitator pendamping wanita di lapas.
“Semoga para peserta bisa mengembangkan dan menerapkan program pendampingan yang lebih terstruktur dan terpublikasi dengan baik. FGD ini juga mendukung para pendamping agar lebih profesional dan berdampak positif bagi warga binaan,” jelasnya.
Dalam sesi FGD, peserta aktif berkontribusi dalam menyusun tata tertib, kurikulum pendampingan, serta SOP kunjungan ke lapas. Hasil dari pertemuan FGD kemudian dituangkan dalam aplikasi Sahabat LapasMU, panduan fasilitator dalam menjalankan perannya.
“Dengan begitu, semua fasilitator akan punya kesamaan persepsi dan kesiapan dalam menyampaikan materi pendampingan,” tambah Ayu.
Beberapa materi keterampilan hidup yang perlu dikuasai fasilitator selanjutnya ialah komunikasi efektif serta financial and time management. Kedua materi tersebut akan melatih warga binaan agar semakin produktif, semakin banyak melakukan kebaikan, dan mendapatkan berkah kebahagiaan.
“Misalnya, fasilitator dapat menceritakan pengalaman hidupnya sebagai seorang ibu pekerja, aktivis, atau pendakwah sebagai contoh motivasi hidup,” kata Ayu.
Berikutnya, kegiatan PkM akan dilanjutkan dengan pelatihan penyampaian materi pendampingan, cara penggunaan aplikasi Sahabat LapasMU, serta pembuatan press-release kegiatan.
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







