Jurusan Farmasi adalah salah satu jurusan favorit kala penerimaan mahasiswa baru mulai dibuka oleh berbagai kampus di Indonesia. Di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sendiri, jurusan yang berada di bawah payung medis ini tak pernah sepi peminat.
Secara umum, Farmasi adalah cabang ilmu yang menggabungkan pengetahuan kesehatan dan fisika-kimia. Farmasi memainkan peran penting dalam pengembangan obat-obatan, termasuk makanan, kosmetik, alat kesehatan, hingga PKRT (Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga). Peran farmasi pun sangat vital dalam memastikan keamanan, efikasi, dan kualitas produk-produk tersebut sebelum sampai ke tangan konsumen.
Kuliah Farmasi
“Pasti di Farmasi cuma belajar tentang obat-obatan!”
Eits, jangan salah! Seperti yang sudah kami singgung di paragraf sebelumnya, ilmu yang akan kamu pelajari di Sarjana Farmasi UMS sangat luas. Kamu tak hanya belajar tentang obat-obatan, tetapi juga ilmu yang dibutuhkan untuk membuat produk farmasi lain di era modern ini.
Setidaknya ada empat alasan menarik yang mungkin akan membuatmu menjatuhkan pilihan pada Sarjana Farmasi UMS. Pertama, Farmasi UMS telah terakreditasi “Internasional” oleh Asean University Network Quality Assurance (AUN-QA); kedua, kamu akan belajar praktikum di laboratorium yang lengkap dengan alat-alat pengujian, seperti untuk pengujian sediaan obat, pengujian halal, dan pengujian tingkat molekuler; ketiga, Farmasi UMS memiliki dua pusat studi, yakni Pusat Studi Halal (PSH) dan Pusat Studi Standardisasi Ekstrak Farmasi (SEFA); keempat, kamu akan berkesempatan mengikuti pertukaran pelajar, magang dan pelatihan di universitas, perusahaan atau institusi ternama, karena Farmasi UMS banyak menjalin kerja sama dalam dan luar negeri.
Seusai menyelesaikan 144 Satuan kredit semester (SKS) atau setara dengan menempuh kuliah empat tahun, kamu akan mendapatkan gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.).
Mata Kuliah Farmasi
Ketika memutuskan untuk berkuliah di Sarjana Farmasi UMS, kamu akan mempelajari berbagai ilmu dasar serta terapan obat-obatan dan produk farmasi lainnya dengan segala sifat fisika-kimia. Di samping itu, untuk dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang baik, kamu juga akan belajar pengelolaan obat dengan ilmu manajemen, seperti marketing dan kewirausahaan.
Berikut ilmu-ilmu dasar yang menjadi pondasimu kala menempuh studi Farmasi di UMS, antara lain:
Ilmu tentang obat: Farmasi Fisika, Nano Teknologi, Praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Solid, Praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Steril dan Non Solid, Analisis Farmasi, Stabilitas Obat, Rancangan Pengembangan Formula. Analisis Produk Halal.
- Ilmu tentang sifat fisika-kimia obat: Kimia Fisika, Kimia Organik.
- Ilmu tentang bahan alam sebagai sumber pengobatan: Farmakognosi, Natural Medicine, Fitoterapi.
- Pelayanan farmasi: Spesialite Obat, Farmakologi, Farmakoterapi, Farmakogenomik, Farmakoekonomi.
- Ilmu tentang kosmetik: Kosmetologi, Analisis Kosmetik.
- Ilmu manajemen: Manajemen Farmasi, Marketing dan Distribusi, Kewirausahaan Mitigasi Bencana.
Prospek Kerja Farmasi
“Kira-kira lulusan Farmasi kerja apa, ya?”
Lulusan Farmasi memiliki prospek kerja yang sangat luas dan beragam. Kamu bisa bekerja di Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), perusahaan farmasi, rumah sakit, industri obat-obatan, hingga apotek. Beberapa di antaranya adalah:
- Apoteker
- Peneliti
- Laboran
- Tenaga pengajar
- Product Development Specialist
- Tim Quality Management: Quality Control (QC), Quality Assurance (QA)
- Staf regulasi
Namun ternyata, masih banyak yang belum tahu kalau lulusan Sarjana Farmasi tak bisa langsung menjadi seorang apoteker, loh. Mengapa demikian?
Setelah menyelesaikan studi Sarjana Farmasi, lulusan harus menempuh pendidikan Profesi Apoteker untuk dapat secara resmi bekerja sebagai apoteker. Di UMS, Program Profesi Apoteker dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun, yang juga mencakup praktik kerja lapangan. Program ini dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan tambahan yang diperlukan untuk praktik profesional di bidang farmasi.
Secara teknis, seorang apoteker memiliki wewenang lebih dalam pengambilan keputusan terkait suatu masalah. Misalnya, dalam pengobatan rasional, seorang sarjana farmasi dapat mengidentifikasi adanya ketidakrasionalan penggunaan obat, namun seorang apoteker berwenang memberikan rekomendasi terkait ketidakrasionalan obat tersebut.
Lulusan Profesi Apoteker akan mendapatkan gelar Apoteker (Apt.) dan terdaftar sebagai anggota Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Mereka juga harus lulus ujian kompetensi yang diadakan oleh pemerintah untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA).
Itulah gambaran mengenai jurusan Farmasi UMS yang perlu kamu tahu. Jika kamu tertarik untuk mendalami ilmu farmasi dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, UMS menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk memulai perjalanan akademismu. Dengan fasilitas yang lengkap, akreditasi internasional, dan peluang prospek karier yang luas, Farmasi UMS menawarkan kesempatan untuk meraih masa depan yang menjanjikan di bidang farmasi.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Karya Mahasiswa
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







