Perubahan iklim rupanya bukan hanya isapan jempol belaka. Jutaan penduduk di zona equator seolah terpanggang kala didera hawa panas El Nino, tak terkecuali Indonesia. Melansir BMKG, rata-rata suhu di Indonesia seharusnya berkisar 26,6 derajat Celcius. Namun belakangan ini, rata-rata suhu sudah mencapai 27 derajat Celcius, sedangkan suhu maksimum mencapai 38,7 derajat Celcius yang terukur di Stasiun Meteorologi Kertajati, Jawa Barat pada 9 Oktober 2023.
Isu tersebut lantas mengundang guyonan sebagian masyarakat dengan mengatakan penyebab suhu ekstrem adalah karena ‘neraka bocor’. Benarkah demikian?
Dalam artikel ini, kami mencoba menggali penyebab cuaca panas yang sempat merajalela dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat bersama Drs. Yuli Priyana, M.Si. (Dosen Fakultas Geografi UMS) dan dr. Budi Hernawan, M.Sc. (Dosen Fakultas Kedokteran UMS).
Fenomena El Nino
Lontaran pertanyaan serius tentang musim kemarau berkepanjangan menjadi pembuka dialog kami dengan Pak Yuli. Dosen Mata Kuliah Meteorologi dan Klimatologi itu menjelaskan cuaca panas dan kekeringan di Indonesia lazimnya terjadi selama musim kemarau ketika curah hujan berkurang secara signifikan. Namun kali ini, El Nino turut memperpanjang cuaca panas dan kekeringan di Nusantara.
“El Nino adalah fenomena peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah, yang sudah pasti memengaruhi pola cuaca di Indonesia,” terangnya pada Jumat (20/10).
Kondisi inilah yang mengakibat tekanan udara pada wilayah perairan Indonesia dan sekitarnya menjadi tinggi, sehingga angin bergerak keluar dari wilayah tersebut. Hal serupa terjadi pada udara lembap yang menjadi bahan baku awan.
El Nino Berkepanjangan, Apa Dampaknya?
Mengingat bahwa negeri ini memiliki ketergantungan tinggi pada sektor pertanian, lanjutnya, cuaca panas yang ekstrem dapat memicu berbagai dampak negatif terhadap lingkungan.
“Cuaca panas yang melahirkan musibah kekeringan berpotensi menguras ketersediaan air untuk konsumsi manusia, pertanian, dan industri. Parahnya akan terjadi persaingan sumber daya air,” ungkap dosen yang akrab disapa Pak Yuli itu.
Jika ketersediaan air di sektor pertanian mulai menyurut, kemungkinan besar para petani akan mengalami penurunan hasil panen, baik tanaman pangan maupun tanaman komersial. Dengan demikian, produksi pangan dan pendapatan petani akan ikut terganggu.
“Beberapa wilayah mungkin mengalami curah hujan tidak teratur yang dapat merugikan pertanian dan menyebabkan kekeringan musiman. Hal ini terjadi karena cuaca panas yang ekstrem juga dapat memengaruhi pola hujan,” imbuh Pak Yuli.
Ia juga menerangkan perihal peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh kemarau panjang tak berkesudahan. Tak ketinggalan, Kepala BMKG pun turut mengimbau hal tersebut.

Sumber: BMKG
"Masyarakat dimohon selama bulan Oktober ini kondisinya masih kering, maka yang tidak dibakar pun bisa terbakar. Jadi jangan mencoba-coba dengan sengaja atau tidak sengaja untuk mengakibatkan nyala api karena pemadamannya akan sulit dilakukan," kata Dwikorita di Jakarta, Selasa (3/10).
Sebab kebakaran hutan dapat mengganggu ekosistem alami dan mengancam keanekaragaman hayati. Organisme yang hidup di lingkungan yang berubah mungkin mengalami kesulitan dalam beradaptasi.
Upaya Mitigasi Pemerintah Indonesia
Permasalahan perubahan iklim sebenarnya menjadi salah satu fokus utama Presiden Joko Widodo dan pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian PUPR berbagai upaya mitigasi El Nino mulai digencarkan, seperti pembuatan bendungan, embung hingga sumur bor.
“Negara-negara dan organisasi internasional bahkan berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O) yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Upaya ini mencakup pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, peningkatan efisiensi energi, dan peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan,” ungkap Dosen Meteorologi dan Klimatologi itu.
Pemerintah memerlukan banyak uluran tangan untuk mengatasi permasalahan yang cukup pelik ini, seperti kolaborasi dari berbagai bidang hingga meningkatkan kesadaran publik.
“Misalkan bidang pendidikan. Pendidikan dan kesadaran publik tentang perubahan iklim, energi terbarukan, dan praktik berkelanjutan sangat berpotensi mengubah perilaku dan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Bahaya Heat Stroke hingga Dehidrasi
Berbagai keluhan tentang cuaca panas yang tak biasa mulai ramai terdengar di telinga kita akhir-akhir ini. Keluhan-keluhan tersebut lantas menjadi jembatan kami untuk berjumpa dengan dr. Budi.
"Memang cuaca panas beberapa hari ini dan ke depan sedang tidak biasa. Untuk itu kita perlu mengenali dampaknya bagi kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan," terang dr. Budi.

Tubuh kita akan bereaksi terhadap kenaikan suhu dengan cara meningkatkan aliran darah ke kulit, yang membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit. Proses inilah yang menyebabkan tubuh mengeluarkan keringat.
"Perlu diingat bahwa berkeringat bisa menyebabkan cairan tubuh dan garam menghilang. Situasi seperti itu dikombinasikan dengan penurunan tekanan darah, dan apabila tekanan darah menurun terlampau jauh, risiko serangan jantung pun semakin meningkat," tuturnya dengan teliti.
Dosen Fakultas Kedokteran UMS itu menyebutkan apabila faktor-faktor yang membantu pengurangan efek negatif dari cuaca panas ekstrem belum tersedia, gejala serius seperti heat stroke dan heat exhaustion kemungkinan akan terus mengintai.
“Heat stroke adalah kondisi paling serius ketika suhu tubuh meningkat secara signifikan dan tubuh tidak dapat lagi mendinginkan diri sendiri. Harus dapat penanganan medis segara! Kalau tidak, imbasnya ke nyawa,” tegas dokter Budi.
Sementara itu, orang-orang yang memiliki aktivitas kategori berat dan di luar ruangan sering mengabaikan dampak buruk akibat cuaca panas ekstrem. Banyak dari mereka yang secara sadar kurang mencukupi konsumsi air harian, bahkan ‘masa bodoh’ ketika melihat kondisi kulit yang mulai kering.
“Jangan sekali-sekali menyepelekan kebutuhan minum harian kalau tidak mau terkena dehidrasi. Penggunaan sunscreen (tabir surya) ber-SPF tinggi untuk menghindari kulit dari paparan matahari secara langsung juga sangat penting,” imbuhnya.
Kelompok Rentan
Peringatan dari dr. Budi membawa kami mengulik lebih dalam terkait kelompok rentan yang berisiko mengalami kondisi kesehatan merugikan akibat perubahan iklim.
“Anak-anak dan bayi, orang tua, orang tua dengan penyakit kronis atau obesitas hingga para pekerja yang beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang paling berisiko. Kesadaran penuh untuk mengenakan pakaian yang tepat, memperbanyak minum air putih, dan menghindari aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan menjadi kewajiban kita untuk saat ini,” lanjut Dosen Pengampu Blok Premedial Science and Homeostatic itu.
Menurutnya, jika suhu panas mencapai angka 40 derajat Celsius, hampir semua orang kesehatannya akan menurun. Sebagaimana kasus yang tengah ramai terjadi di beberapa negara. Oleh karena itu, ia berpesan agar masyarakat di Indonesia tak lupa menerapkan prinsip stay cool, stay hydrated, and stay informed.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







