Hujan masih mengguyur sejumlah wilayah Indonesia, meski kalender telah memasuki pertengahan Mei. Di wilayah-wilayah seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta, intensitasnya memang mulai menurun, tetapi belum menunjukkan pola kemarau yang stabil. Secara klimatologis, periode ini seharusnya sudah memasuki masa transisi ke musim kemarau.
Fenomena ini memunculkan dugaan terjadinya kemarau basah. Kondisi di mana musim kemarau berjalan tidak sepenuhnya kering, ditandai oleh hujan yang tetap bertahan di awal masa kering. Merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini akan datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apa penyebabnya?
Pakar Klimatologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs. Yuli Priyana, M.Si. menjelaskan, prediksi musim kemarau 2025 memang menunjukkan kecenderungan lebih pendek dari normal. Ia menyebut hujan yang masih turun hingga pertengahan Mei disebabkan oleh beberapa faktor atmosferik dan klimatologis yang memperpanjang musim hujan dan menunda peralihan ke musim kemarau.
“Ada beberapa faktor yang menyebabkan bulan Mei ini masih mengalami hujan, meskipun seharusnya sudah memasuki masa pancaroba atau peralihan musim,” ujar dosen Geografi UMS itu secara daring, Jumat (23/5/2025).
Penyebab Musim Kemarau Lebih Singkat

Menurut Yuli, setidaknya ada tiga penyebab utama dari fenomena kemarau singkat tahun ini. Pertama, adanya anomali suhu muka laut. Suhu muka air laut di sekitar Indonesia yang lebih hangat dari biasanya memicu peningkatan penguapan, sehingga memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.
“Kondisi ini menjadi salah satu penyebab bertahannya hujan meski secara klimatologis wilayah-wilayah tersebut seharusnya mulai mengering,” jelas Yuli. Di saat yang sama, ada kecenderungan La Nina lemah yang memperkuat curah hujan di beberapa wilayah.
Kedua, adanya faktor monsun peralihan atau pancaroba. Bulan Mei memang merupakan masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.
Meskipun begitu, dalam periode tersebut, cuaca cenderung tidak stabil, dan hujan masih mungkin terjadi meski frekuensi serta intensitasnya menurun dibanding puncak musim hujan. Katanya, “Peralihan ini tidak terjadi seragam di seluruh wilayah dan bisa bervariasi dari tahun ke tahun.”
Faktor ketiga adalah terjadinya variabilitas iklim internal, yakni fluktuasi sistem cuaca dari tahun ke tahun. Menurut Yuli, salah satu fenomena yang berperan di sini ialah Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur di kawasan tropis.
MJO bisa memicu aktivitas hujan meskipun secara umum wilayah Indonesia sedang menuju musim kering atau kemarau. “Nah, hujan yang masih terjadi di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada bulan Mei ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor meteorologis dan klimatologis tadi,” sambung dia.
Prediksi Musim Kemarau 2025
Menurut prediksi BMKG, musim kemarau terjadi secara bertahap pada bulan Juni di sebagian besar wilayah Indonesia seperti Pulau Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, dan sebagian kecil Sulawesi dan Papua. Sementara itu, puncak musim kemarau tahun 2025 diperkirakan akan terjadi pada Juli hingga Agustus.
“Setelah membaca prediksi, untuk Indonesia bagian barat, puncak kemarau akan berlangsung pada bulan Juli. Wilayah tengah hingga timur mencapai puncaknya pada bulan Agustus nanti,” jelas Yuli.
Data iklim BMKG menunjukkan bulan Agustus 2025 memang menjadi periode dengan curah hujan terendah di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa. “Secara umum curah hujan bulanan paling rendah di Indonesia memang terjadi pada bulan Agustus,” tambahnya.
Demikian durasi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih pendek. Artinya, musim kemarau akan datang lebih lambat dan berakhir lebih cepat dari pola tahun-tahun sebelumnya.
Lantas, kapan musim kemarau 2025 akan berakhir? Menanggapi pertanyaan tersebut, Yuli menyampaikan jika pola iklim terus bergerak seperti saat ini, maka akhir musim kemarau kemungkinan besar akan lebih cepat dari biasanya, bahkan sebelum akhir September.
Prediksi tersebut bisa berubah tergantung dinamika atmosfer global dan regional dalam beberapa bulan ke depan. Secara klimatologis, Yuli menerangkan fluktuasi panjang-pendek musim memang biasa terjadi, dan sangat dipengaruhi oleh fenomena global, seperti El Nino dan La Nina (ENSO).
El Nino biasanya menyebabkan musim kemarau lebih kering dan panjang, sedangkan La Nina membuatnya lebih pendek dan basah. “Saat ini ENSO dalam kondisi netral, tapi ada kecenderungan La Nina lemah yang membuat hujan masih bertahan,” imbuhnya.
Di samping itu, perubahan iklim global pun memainkan peran penting. Pemanasan suhu laut dan atmosfer akibat emisi gas rumah kaca mengganggu kestabilan sirkulasi atmosfer dan menyebabkan pola musim menjadi tidak lagi konsisten.
“Meskipun disebut ‘kemarau basah’, dan berpotensi diikuti hujan lebat, ini bukanlah suatu kepastian. Sebaran hujan mungkin tidak merata. Beberapa wilayah bisa mendapatkan curah hujan yang cukup, sementara wilayah lain tetap mengalami defisit,” tegas Yuli memperingatkan.
Apabila periode hujan tak konsisten dan diselingi dengan periode kering yang panjang, kekeringan tetap bisa menjadi ancaman. Terutama bagi sektor pertanian yang membutuhkan pasokan air yang stabil.
Langkah Pemerintah dan Masyarakat
Untuk mengantisipasi risiko bencana tersebut, Yuli menyarankan pemerintah daerah agar memperkuat sistem pemantauan cuaca, memanajemen air, menyusun rencana mitigasi risiko, hingga mengarahkan koordinasi lintas sektor.
Sementara di tingkat masyarakat, langkah-langkah seperti menghemat air, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, hingga menjaga vegetasi di lingkungan sekitar menjadi bentuk adaptasi awal yang penting. “Misal, para petani juga bisa menyesuaikan jadwal tanam berdasarkan prediksi kemarau di masing-masing daerah untuk mencegah gagal panen,” tambah dia.
Masyarakat juga perlu aktif mencari informasi kredibel dari BMKG dan sumber-sumber ilmiah lainnya. Terakhir, mendukung segala upaya mitigasi perubahan iklim yang dilakukan pemerintah atau dinas terkait.
“Masyarakat sekarang tidak bisa lagi mengandalkan pola musim berdasarkan kalender tradisional seperti Pranata Mangsa. Kita harus bergantung pada data dan informasi ilmiah,” ujar Yuli.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif terhadap perubahan pola musim di Indonesia. Dalam kondisi iklim yang kian dinamis, kesiapan dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Student Stories
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







