Salah satu warga Palestina yang hadir dalam kolokium internasional “Multicultural Dialogue, Palestine and The Muslim World”, Sabtu (14/12/2024) lalu, di Ruang Sidang BPH Gedung Induk Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), turut membagikan pengalaman penindasan dan kekerasan yang dialami rakyat Palestina.
Ketua Dewan Direksi Institut Yerusalem dari Al-Quds University, Mutasem Taem, membagikan pengalamannya melewati masa-masa mencekam di tanah Palestina. Kekerasan yang terjadi di Gaza, Palestina, bahkan sudah terjadi jauh sebelum peristiwa 7 Oktober 2023 meletus.
Taem mengatakan, Gaza telah mengalami blokade distribusi barang oleh Israel. Blokade tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 1990-an. Namun, sejak Hamas merebut wilayah Gaza pada 2007, Israel kian mengintensifkan blokade dengan mengawasi secara ketat pergerakan orang dan barang di Gaza. “Warga Gaza juga tidak diperkenankan untuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya,” kata Taem.
Pihak Israel juga mengintervensi sejumlah sektor di Palestina. Salah satunya sektor pendidikan. Taem bercerita, orang Palestina tidak diperbolehkan mempelajari kurikulum yang ditetapkan otoritas Palestina.

Ketua Dewan Direksi Institut Yerusalem dari Al-Quds University, Mutasem Taem, saat menuturkan kesaksian dia selama hidup di Palestina, Sabtu (14/12/2024). Humas UMS/Yusuf Ismail
Bahkan di Masjidil Aqsa di Yerusalem, Palestina, kekerasan juga dialami oleh umat muslim yang hendak beribadah. Taem menyebut ratusan masjid dan gereja telah dihancurkan, terutama di wilayah Gaza, Palestina.
“Ini adalah hak kami sebagai orang palestina bahwa masyarakat dunia harus melihat kondisi di palestina sebagai manusia,” lanjut dia.
Seiring meletusnya perang pada 7 Oktober 2023, Taem mengatakan puluhan ribu warga Palestina harus meregang nyawa akibat serangan bertubi-tubi tentara Israel. Al Jazeera menurunkan kabar hingga Minggu (15/12/2024), sebanyak 45.788 warga Palestina tewas terbunuh akibat konflik. Sebagian di antaranya merupakan anak-anak yang jumlahnya mencapai 17.492 jiwa di Gaza dan 169 jiwa di tepi barat. “Ada lebih dari 13 ribu orang Palestina yang masih dipenjara,” tambahnya.
Baca Juga: Israel Bombardir Rafah Usai Putusan Mahkamah
Taem tidak menampik jika pandangan dunia internasional terhadap Palestina masih dipengaruhi standar ganda. Ini terlihat dari ratusan resolusi yang disahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun Mahkamah Internasional yang tak satupun berhasil menghentikan kekerasan dan genosida di Gaza, Palestina.
“Pengadilan internasional telah mengeluarkan resolusi untuk melawan kejahatan Israel. Tapi kita melihat tak ada satupun resolusi yang dilakukan,” terusnya.
Lebih lanjut, Taem menekankan masyarakat dunia untuk terus membicarakan isu-isu mengenai Palestina. Dia berharap ada upaya untuk bersatu dari negara-negara muslim di seluruh dunia agar terus menyuarakan perdamaian bagi Palestina.
Baca Juga: Rektor UMS Serukan 8 Tuntutan Bela Palestina
“Aku tidak membicarakan palestina sebagai seorang muslim tapi agama kami mengajarkan untuk berdiri membela Palestina,” tegasnya. “Kami berharap Al Aqsa kembali ke tangan Palestina.”
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Internasional
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







