Budidaya maggot merupakan salah satu cara yang saat ini sedang banyak dilakukan di beberapa tempat karena dianggap dapat digunakan untuk menangani permasalahan sampah khususnya sampah organik. Namun, tak jarang masih banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai budidaya maggot, sehingga hal tersebut masih sering menjadi kendala untuk memulai budidaya maggot ini.
Program pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui skema pembiayaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) tahun 2024, memberikan kesempatan kepada dosen Prodi Kesehatan Masyarakat yang diketuai oleh Rezania Asyfiradayati, S.K.M., MPH. untuk melakukan pelatihan budidaya maggot pada mitra sasaran Kelompok Bijak Kelola Sampah, Desa Bendan, Boyolali selama Juli-Oktober 2024.
Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan belatung merupakan larva dari jenis lalat black soldier fly (BSF) atau hermetia illucens. Maggot awalnya berasal dari telur, kemudian bermetamorfosis menjadi lalat dewasa.
“Kegiatan diawali dengan transfer informasi atau sosialisasi terkait pengertian maggot, siklus hidup maggot sampai tata cara dan tahapan budidaya. Kegiatan ini pun diikuti kurang lebih 15 anggota kelompok yang diketuai oleh Obby Hageng, S.K.M.,” ungkapnya, Senin (25/10/2024).
Anggota kelompok sangat antusias dalam kegiatan pengabdian, dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta pengabdian.
Setelah dilakukannya sosialisasi terkait maggot, tim pengabdian UMS dan kelompok mitra melakukan pemetaan alat dan bahan yang diperlukan untuk memulai budidaya maggot.
“Kegiatan teknis dimulai dengan pembuatan beberapa biopond sebagai tempat maggot dengan luas 2m x 1m sebanyak 13 kolam, serta kandang lalat sebagai tempat indukan dengan luas 2,5m x 2m,” jelas Rezania.
Setelah semua siap, lanjutnya, tim pengabdian memberikan informasi lanjutan dengan membawakan telur maggot, maggot kecil, maggot dewasa, hingga pupa agar kelompok sasaran mengetahui secara langsung bentuk dari siklus maggot tersebut.

Pemberian makan berupa sampah dapur untuk maggot dalam biopond. dok.Istimewa
Berdasarkan penjelasan dosen Kesehatan Masyarakat UMS itu, budidaya maggot memerlukan konsistensi dan ketelatenan, karena pemberian makan yang berupa sampah organik dari sampah dapur harus terus menerus diberikan kepada maggot di kolam biopond setiap harinya.
“Mitra juga telaten saat memindahkan pupa yang akan dijadikan indukan lalat dan memanen maggot yang akan dijual pada pembeli setiap hari. Kegiatan ini telah berlangsung selama empat bulan, dan kelompok mitra selalu memberikan informasi terkini terkait perkembangan budidaya maggot yang ada di kelompok tersebut,” tambahnya.
Hingga kini, tim pengabdian UMS masih melakukan monitoring pemanenan. Sekali panen, pihak mitra dapat memanen sebanyak 15kg maggot. Hasil panen kemudian dijual kepada peternak lele yang ada di sekitar lahan budidaya maggot dengan harga Rp7.000,-/kg.
“Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian budidaya maggot bisa meningkatkan pendapatan kelompok sasaran, meskipun belum maksimal. Harapannya semoga kelompok mitra dapat meningkatkan lahan dan memaksimalkan media yang ada, sehingga pemanenan maggot maksimal dan berkualitas,” pungkasnya.
Penulis: Fika
Editor: Genis
Sumber: News UMS
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.







