Puasa memiliki manfaat yang tinggi untuk kesehatan fisik melalui proses autofagi dan detoksifikasinya. Hal tersebut disampaikan dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat mengisi tabligh akbar dalam rangkaian Gema Kampus Ramadan (GKR) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Dirinya memaparkan hasil penelitian dr. Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2016. Disebutkan bahwa autofagi (proses membuat tubuh lapar) berjalan lebih baik ketika orang berpuasa. Agus menekankan umat Islam untuk bersyukur sebab agama memberikan tuntunan puasa.

“Proses autofagi itu semacam proses di mana tubuh akan mengenali sel-sel yang rapuh atau rusak untuk melakukan proses reses, bahkan ada proses untuk memperbaiki sistem tubuh itu,” papar dr Agus saat mengisi tabligh akbar di Masjid Sudalmiyah Rais UMS, Rabu (13/3/2024).


Tubuh dapat memilih mana yang harus dirusak, dirombak, atau dimatikan. Menurut Agus, kematian sel oleh autofagi adalah untuk memperbaiki tubuh. Penelitian dr. Yoshinori menyebutkan saat manusia melakukan puasa dalam waktu selama 8 hingga 16 jam, maka akan terjadi proses autofagi.

Dia menambahkan jika autofagi bagus, maka kondisi fisik seseorang jauh lebih baik, bahkan bisa menghadapi agen penyakit termasuk terduga kanker. “Proses autofagi itu jauh lebih baik ketika orang itu berpuasa,” tekannya.

Selain manfaat autofagi, puasa juga membawa manfaat untuk mencegah penuaan dini atau jamak disebut anti-aging. Agus mengatakan puasa dapat menjadikan seseorang menjadi awet muda.

“Sebetulnya proses anti-aging akan berjalan dengan baik kalau autofagi itu berjalan dengan baik,” terang Ketua PP Muhammadiyah itu.

Selain menerangkan tentang manfaat puasa dalam autofagi, dia juga menerangkan manfaat puasa dalam proses detoksifikasi dari sisa racun metabolik di dalam tubuh yang harus dikeluarkan.

Dia memberikan contoh melalui hasil riset berkaitan dengan kondisi fungsi ginjal seseorang ketika melakukan puasa Ramadan. Pada minggu pertama dan kedua, fungsi ginjal terpantau belum membaik. Namun, saat memasuki minggu ketiga dan seterusnya, kondisi ginjal menjadi lebih baik. Agus juga menyebut literatur lain yang mengatakan proses detoks selama puasa akan berfungsi jika puasa dilakukan minimal 21 hari dan bisa mencapai 40 hari.

Agus meyakini jika dalam ajaran Islam terdapat anjuran berpuasa 30 hari Ramadan dan ditambah enam hari puasa Syawal, maka akan membantu proses detoks di dalam tubuh. “Kalau ingin puasa itu bermanfaat sehat, puasa lah dengan dosisnya Allah,” pungkas dia.


Penulis: Maysali

Editor: Gede

Sumber: News UMS

Tertarik mendengarkan tabligh akbar?

Berita Unggulan

image-featured
30 Juli 2026

Muhamad Wildan Fadhila terbang ke Qatar untuk menjadi teknisi kelistrikan kapal milik Milaha. Merawat instalasi kelistrikan kapal, sekaligus membuka eksposur global.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
29 Juli 2026

Rakornas Fosma PTMA 2026 mendorong sinergi kampus Muhammadiyah dan 'Aisyiyah untuk fokus pada pengembangan talenta inovasi berdampak.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
27 Juli 2026

Prof. Andri Nirwana, S.TH., M.Ag., Ph.D. merintis Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir sebagai langkah awal memperkuat kajian Al-Qur'an di Muhammadiyah.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.

Explore our newsworthy articles on ums.ac.id

icon

Research

Featured articles unpacking research by UMS lecturers.

icon

Global Pulse

In-depth articles featuring infographics.

icon

Academia Star

Profiles of outstanding UMS lecturers and students.

icon

Alumni Stories

Inspiring stories of UMS alumni building their careers.