
Badal Umroh dari Kacamata Tarjih Muhammadiyah
Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Ibadah puasa adalah ibadah yang memiliki segi-segi yang sangat pribadi dan personal, antara lain disebutkan bahwa ibadah ini menjadi kepentingan Allah SWT sendiri. Hikmah dan manfaat puasa akan kembali kepada pelakunya. Betapapun demikian, ibadah puasa sama dengan ibadah-ibadah lain dalam agama Islam, yakni sama-sama memiliki dimensi sosial yang kuat.
Ibadah puasa secara sosial dapat menumbuhkan rasa empati dan kebersamaan lantaran pengalaman lapar dan dahaga yang dirasakan pelakunya. Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada kaum muslim agar membanyak amal yang dapat meningkatkan tolong menolong dan kebersamaan. Momentum bulan Ramadan yang penuh berkah ini hendaknya dimanfaatkan umat Islam untuk menguatkan kebersamaan melalui berbagai aksi layanan dan kedermaan.
Dalam konteks kehidupan sekarang, kerja sama atau tolong-menolong (taawun) antara satu orang dengan yang lain sangat penting dilakukan. Tentu saja kerja sama yang dimaksud adalah dalam kebaikan untuk terciptanya kehidupan yang baik dan sejahtera, bukan kerja sama dalam hal-hal yang dilarang, tindak kejahatan, keburukan dan perbuatan dosa lainnya.
Dalam Al-Qur’an disebutkan perintah tolong-menolong sebagai berikut, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.” (QS. Al-Maidah/5: 2).
Kebaikan (al-birr) dan ketakwaan adalah dua hal berhubungan sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Al-birru bermakna kebaikan yang menyeluruh, mencakup segala macam dan ragamnya, segala perbuatan yang diizinkan agama Islam.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa kebaikan itu mencakup semua perbuatan yang diizinkan agama, baik yang berhubungan dengan diri pribadi, keluarga, tetangga, dan orang lain. Seluruh kebaikan pada dasarnya adalah cermin dari ketakwaan (Al-Baqarah/2: 177).
Dalam kehidupan sehari-hari, perintah tolong-menolong dalam agama ini kerap direpresentasikan dalam aksi-aksi kepedulian. Aksi kepedulian tampak dalam penanganan berbagai korban bencana, aksi dalam pengentasan kemiskinan, dan sebagainya. Banyak organisasi terlibat dalam aksi kepedulian menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan.
Aksi lembaga-lembaga filantropi lainnya dalam memberikan bantuan didorong oleh semangat kepedulian dan sikap tolong-menolong yang tinggi. Bentuk bantuannya bermacam-macam, baik berupa dana, makanan, jasa, tenaga relawan, dan bentuk layanan lainnya.
Kita pantas bersyukur kebiasaan saling bekerja sama dalam aksi-aksi kepedulian menyelesaikan masalah kehidupan masih terus berlangsung. Hal demikian terjadi karena semangat ketulusan dan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah. Energi ketulusan dalam bantuan itu akan menebar kepada orang-orang yang dibantu.
Orang yang memberikan pertolongan dan bantuan kepada orang lain tidak akan merugi. Jika mengukur dengan materi dan hitungan matematis, si pemberi merasa apa yang dimiliki akan berkurang. Tidak demikian. Allah akan memberikan balasan yang lebih baik bagi siapa saja berbuat kebaikan.
Membantu atau menolong orang lain pun maknanya sangat luas dan beragam. Tidak harus membantu menyelesaikan masalah besar atau mengeluarkan uang dengan nilai yang besar. Memberi makanan kepada orang membutuhkan, menyingkirkan barang di jalan yang membahayakan pengendara, menghibur hati teman atau keluarga yang sedang ditimpa musibah adalah bentuk membantu sesama.
Dalam salah satu hadis Nabi Muhammad disebutkan: “Barang siapa yang menolong satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan menolongnya dari satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu suka menolong saudaranya” (HR. Muslim).
Penulis: Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. (Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Sumber: Koran Solopos Edisi Jumat Kliwon, 14 Maret 2025

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?
Nothing’s more special than reading curated news just for you.
Subscribe to the UMS Newsletter for free today.