Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, Muhamad Wahid Faturahman, akrab disapa Wahid, telah menaruh minat pada dunia permesinan. Kecintaannya pada mesin ia teruskan sewaktu kuliah di Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Wahid beruntung sebab ia mengambil program double degree atau gelar ganda. Membuka kesempatan belajar permesinan di Dong-Eui University, Korea Selatan. Memang, negara tersebut adalah negara maju dengan sektor manufaktur dan teknologi sebagai penopangnya.
Tidak heran jika kemajuan Korea Selatan telah menarik minat sejumlah negara untuk bekerja sama, termasuk Indonesia. Pada 2021, perusahaan otomotif asal Korea Selatan, Hyundai, membuka pabriknya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.
Wahid, yang saat itu telah lulus, melihat pembukaan pabrik tersebut menjadi peluang besar. Bermodalkan pengalaman studinya dan kemampuan berbahasa Koreanya, ia pun melamar kerja ke Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). Gayung bersambut, Wahid diterima sebagai body process engineering.
Sebagai seorang body process engineering, ranah tanggung jawab Wahid terletak pada pembuatan atau manufaktur badan mobil. Tugas utama body processing engineering antara lain melakukan analisis kualitas pengelasan, mempersiapkan pengembangan model baru, menerapkan teknologi baru pada proses manufaktur, serta efisiensi proses produksi.
“Saya juga memastikan proses di bodi itu dari awal sampai akhir itu bagus,” ujar Wahid dalam wawancara virtual akhir Juni lalu.
Wahid berperan penting dalam menerjemahkan desain yang disusun di Korea menjadi sebuah produk mobil jadi. Tidak heran jika Wahid kerap menghadapi sejumlah tantangan pada profesinya itu.
Perkembangan teknologi yang pesat menjadi tantangan utama pekerja industri manufaktur. Wahid harus menyusun sejumlah langkah ke depan untuk menyiasati perkembangan teknologi itu. “Agar tetap agile dalam rangka memenangkan persaingan dengan kompetitor lainnya,” sambungnya.
Bekerja di perusahaan asal otomotif asal Korea Selatan membuat Wahid memahami pentingnya proses kerja global. HMMI tak sebatas urusan bikin mobil. Rangkaian produksinya berkaitan dengan budaya kerja global yang menjunjung tinggi keselamatan, kualitas, dan integritas.
Wahid percaya di tengah industri yang serba cepat, ketangguhan, fleksibilitas, dan kecepatan beradaptasi adalah kunci untuk tetap bertahan. Hal tersebut didorong dengan semangat untuk terus berkembang, berinovasi, dan melihat hambatan sebagai peluang untuk berkembang.
“Setiap proses dilakukan dengan standar tinggi, karena kami percaya kendaraan terbaik hanya bisa lahir dari ketelitian dan tanggung jawab,” imbuh dia.
Dedikasi Wahid terhadap manufaktur pun mendapat apresiasi dari HMMI. Tahun 2024, Wahid memperoleh empat penghargaan dari HMMI. Wahid menerima penghargaan komite energi terbaik karena mampu melakukan penghematan energi.
Penghargaan berikutnya adalah departemen energi terbaik karena menyumbang ide penghematan energi di departemen bodi. Gagasan Wahid dan departemennya juga diakui lewat dua buah penghargaan, yakni pemenang ketiga usulan karyawan dan pemenang pertama usulan departemen.
“Bagi saya, bekerja di HMMI bukan hanya membangun karier, tapi juga membentuk karakter disiplin, tangguh, dan adaptif. Sebuah pengalaman berharga yang terus saya bawa ke masa depan,” tegasnya.

Muhammad Wahid Faturahman saat menerima penghargaan HMMI Employee Recognition 2024 bersama President Direktur HMMI Lee Bong Kyu, di kantor HMMI, Januari 2025. Dok.Pribadi
Belajar ke Korea
Lahir di Madiun, Jawa Timur, 6 Juni 1997, Muhamad Wahid Faturahman tak pernah membayangkan akan masuk ke jurusan teknik mesin. Selama duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Wahid hobi bermain musik. “Biasa, lah, anak muda saat itu ikut-ikut festival band, gitu,” seloroh dia.
Inspirasi untuk menekuni dunia teknik mesin justru datang dari sang ayah yang berprofesi sebagai teknisi mesin pengeboran tambang. Anak pertama dari dua bersaudara ini melihat dunia teknik mesin sangat keren dan cocok dengan jiwanya. “Kayaknya seru, nih, perkuliahannya,” gumamnya kala itu.
Wahid tak berkecil hati sebab tertolak masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri. Ia memutar otak dan melihat peluang di Teknik Mesin UMS. Apalagi jurusan tersebut menawarkan program gelar ganda ke sejumlah kampus di luar negeri. Pada 2015, Wahid memulai perjalanannya di UMS.
Pilihan kampus untuk melanjutkan gelar ganda saat itu adalah Dong-Eui University di Busan, Korea Selatan. Pada 2017, Wahid berangkat ke Korea Selatan untuk mengambil gelar gandanya.
Wahid menghabiskan dua tahun belajar di Indonesia dan tiga tahun belajar di Korea Selatan. Termasuk satu tahun untuk mengikuti kelas bahasa Korea.
Bahasa adalah tantangan tersendiri untuk mengikuti program gelar ganda. Apalagi ia tak pernah mempelajari bahasa Korea sedikit pun. Aksara hangul sangat asing di matanya. “Saya sampai di Bandara Incheon, baca pun enggak bisa. Sama sekali enggak bisa,” kenangnya.
Beruntung, Wahid tidak datang sendiri. Ia tiba di Korea bersama mahasiswa UMS lainnya yang kebetulan memahami bahasa Korea. Wahid pun tinggal bersama keluarga Indonesia selama kuliah di Korea.
Untuk melatih kemampuan bahasanya, Wahid menantang dirinya untuk berkomunikasi dengan warga setempat. Ia pun mengambil pekerjaan sampingan sebagai customer service di salah satu bank swasta Korea. Walhasil kemampuan berbahasa Koreanya semakin melesat.
Pengalaman belajar di Korea Selatan pun sangat berkesan untuknya. Patut diakui, kemajuan Korea dimulai dari pendidikannya. Ia merasakan betul lengkapnya fasilitas pendidikan dan dukungan yang diberikan untuk setiap mahasiswa di sana.
Contohnya mesin pencetak tiga dimensi yang tersedia sampai 20 buah. “Enggak perlu menunggu terlalu lama. Untuk eksplorasi itu juga kita bisa lebih cepat, lebih detail gitu,” bebernya.
Kemajuan pendidikan dan teknologi di Korea Selatan rupanya memupuk semangat nasionalisme warganya. Tak jarang Wahid menyaksikan sendiri dosen pengajarnya kerap mengucapkan “uri nara” yang berarti “negara kami” setiap kali memperkenalkan teknologi dari Korea.
Kini, selepas lulus dari Dong-Eui University, Wahid masih menggunakan bahasa Koreanya secara aktif. “Karena saya juga jadi penerjemah bahasa Korea. Jadi ada beberapa dokumen yang mesti saya terjemahkan dan komunikasikan agar orang lokal dapat memahami,” tuturnya.
Baca Juga: Apa Itu Double Degree? Simak Pengertian dan Manfaatnya
Untuk Mahasiswa Teknik Mesin
Empat tahun berkarier di dunia manufaktur membuat Wahid sadar pentingnya adaptasi terhadap dunia digital. Kemampuan beradaptasi itu sangat penting dilakukan sedari usia muda. Apalagi saat seorang mahasiswa memasuki dunia kerja yang tak seluruhnya persis dalam teori.
“Enggak melulu apa yang kita telan di perkuliahan itu terus nantinya bisa 100 persen diimplementasikan. Di industri manufaktur enggak seperti itu,” tegas dia.
Industri manufaktur sangat dinamis sebab transformasi teknologi sangat cepat. Di sisi lain, kemampuan berpikir kritis juga harus dikedepankan. Musababnya masalah yang muncul di dunia kerja seringkali tidak linear satu sama lain.
Ia mewanti-wanti para mahasiswa untuk menanamkan mental pekerja keras. Di saat yang sama, mahasiswa harus menumbuhkan ikhlas dalam menghadapi masalah. Wahid mendasarkannya pada pengalaman hidupnya. Saat hati ikhlas, peluang lain akan terbuka lebar. “Ikhlas itu untuk menjadi pijakan,” tandasnya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








