Wellness Tourism di Indonesia
Wellness Tourism Lahirkan Healing Environment

Wellness tourism atau wisata kebugaran kini mulai menjamur di sejumlah daerah di Indonesia. Industri wellness tourism terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat dan sejahtera.

Kesadaran untuk hidup sehat rupanya dilakukan oleh Rizka, 32 tahun, kreator konten asal Surakarta, Jawa Tengah. Ia telah mengikuti sejumlah kegiatan fisik, seperti yoga, pilates, treking, dan sejumlah aktivitas fisik lainnya selama tiga tahun terakhir. “Untuk menjaga kebugaran tubuh,” katanya saat dihubungi pada Kamis (9/7/2026).

Minggu pagi, 5 Juli 2026, lalu, Rizka bertandang ke Taman Balekambang, Surakarta, sambil membawa matras yoga miliknya. Hari itu ia mengikuti sesi yoga dalam acara Suaragafest. Acara tersebut adalah satu dari sekian banyak gelaran di Indonesia yang mengedepankan atraksi wellness

Bagi Rizka, mengikuti sesi yoga di ruang terbuka hijau seperti Balekambang memberikan pengalaman berbeda dibandingkan yoga di dalam ruangan. Ia mengaku dapat merasakan energi positif dari sesama peserta yang hadir pagi itu. Rizka pun merasa lebih rileks karena dapat menikmati lingkungan taman.

“Menurut aku yoga di tempat terbuka seperti Balekambang memberikan pengalaman berbeda. Aku ngerasa relax sekali. Sambil mendengar instrumen gamelan, suara kicau burung, dan view pepohonan. Makin ngerasa hadir sepenuhnya di momen itu,” ujar Rizka, yang juga seorang model itu.

Wellness Tourism di Indonesia

Wellness tourism adalah jenis wisata yang bertujuan untuk menjaga kebugaran tubuh. Tren ini berkembang seiring ramainya wisatawan yang mulai melirik kesehatan, relaksasi, dan kesejahteraan pribadi sebagai bagian dari aktivitas.

Kementerian Pariwisata sempat mempromosikan wellness tourism dalam Osaka World Fair 2025. Pameran ini turut berkolaborasi dengan Rumah Atsiri Indonesia, Mustika Ratu, dan Taman Wisata Candi. 

Sejumlah wisata wellness tersebut berbasis nilai tradisional Indonesia, seperti essential oil, pewangi ruangan, parfum tradisional, minuman jamu kemasan, serta produk wellness lainnya. 

Wellness tourism di Indonesia juga didukung dengan maraknya perhelatan olahraga, antara lain event lari, maraton, hingga olahraga berbasis meditasi seperti yoga. Bersamaan dengan itu, destinasi wellness tourism kian menjamur di beberapa daerah. 

Sejumlah destinasi yang belakangan ini tengah naik daun, antara lain Rumah Atsiri Indonesia di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah; Pullman Vimala Hills Resort and Spa di Ciawi, Jawa Barat; Danau Toba di Sumatra Utara. Tidak heran jika Global Wellness Institute menempatkan Indonesia di peringkat ke-19 dunia untuk wisata kebugaran. 

Mengutip laman Global Market Insights, nilai pasar wellness tourism Indonesia pada 2025 tembus 7 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut ditaksir akan meningkat pada 2035 hingga mencapai 20,6 miliar dolar AS. 

Dosen Permukiman Kota dari Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., menjelaskan tren pariwisata wellness mulai meledak semenjak pandemi Covid-19. Saat itu, kesadaran untuk menjaga kesehatan dan kewarasan tubuh mulai muncul. Mulai dari aktivitas olahraga di rumah, lari pagi, bersepeda, hingga yoga. 

“Pas Covid itu kan orang langsung pada sadar yoga, kan gitu ya. Terus pada sadar minum jamu, kan begitu. Nah itu tuh sebetulnya mulai berkembang dari situ,” ujar Dyah, Kamis.

Setelah pandemi usai, rutinitas menjaga kebugaran tubuh rupanya tak memudar. Hal ini rupanya ditangkap oleh sejumlah jenama maupun penyelenggara event untuk menjadikan aktivitas kebugaran sebagai atraksi wisata.

Salah satu yang menjadikan atraksi kebugaran sebagai agenda wisatanya adalah Kota Solo. Tak hanya olahraga, wellness tourism juga berkembang di sektor budaya dan kuliner, seperti spa tradisional maupun industri jamu.

Di Bali, wellness tourism hadir dalam sejumlah akomodasi resor yang menawarkan keindahan pantai maupun lingkungan pedesaan atau pegunungan. Sementara di Sumatra, sejumlah pemerintah daerah mulai menggencarkan destinasi wellness tourism. Salah satunya adalah Danau Toba yang mulai diarahkan sebagai destinasi meditasi dan yoga bernuansa alam. 

Wellness Tourism Lahirkan Healing Environment

Wellness tourism, menurut Dyah, tidak melulu berorientasi pada kebugaran fisik seperti olahraga. Wisata sejenis dapat diarahkan pada pengembangan healing environment, yakni lingkungan yang berorientasi pada upaya restoratif. 

Maksudnya, dia melanjutkan, wellness tourism harus merangsang panca indra wisatawan agar lebih rileks untuk mendukung kesejahteraan tubuh secara fisik dan mental. Dia mencontohkan rangsangan visual dapat terjadi saat wisatawan memandangi lingkungan hijau dengan vegetasi pepohonan rindang. Rangsangan audio juga dapat dimunculkan dari kicau burung, gemericik air, maupun suara bambu yang bergesekan. 

Indra penciuman juga dapat dirangsang dengan aroma bunga maupun rempah-rempah. Sedangkan indra pengecap dapat dirangsang lewat kuliner khas di setiap daerah di Indonesia. “Selain olahraga, melatih tubuh juga dapat dilakukan lewat menari,” imbuhnya.

Dyah memandang wellness tourism seharusnya dapat beririsan dengan kearifan lokal di setiap daerah di Indonesia. Baik budaya, olahraga, maupun kuliner, semuanya dapat berpadu menciptakan healing environment-nya sendiri. “Setiap daerah harus punya keunikan tersendiri,” tegasnya.

Sinergi antarpemerintah daerah dan dukungan masyarakat sangat penting dilakukan. Ia mencontohkan Kota Solo, Jawa Tengah, yang kaya dengan warisan budaya dan kuliner, memiliki kekurangan di bidang wisata alam. Maka, koordinasi dengan Kabupaten Karanganyar juga diperlukan untuk menggaet wisatawan lewat sejumlah paket program wisata. 

Di bidang infrastruktur, pemerintah harus jeli membangun konektivitas antartempat wisata di daerahnya. Misalnya dengan membangun jalur pejalan kaki dengan tutupan pohon rindang. Tujuannya untuk menggerakkan masyarakat agar aktif berjalan kaki. Langkah ini, menurut Dyah, dapat mendorong masyarakat untuk bergerak aktif dan selaras dengan visi wellness tourism


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Karya Mahasiswa

image-featured
26 Mei 2026

DentAware karya mahasiswa FKG UMS diperkaya lima fitur skrining berbasis AI. Mendeteksi masalah gigi dan mulut secara cepat dan praktis.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
17 April 2026

Tanaman belukar yang tumbuh liar rupanya dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pada wastra. Idenya lahir dari keprihatinan akan cemaran pewarna tekstil pada lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
12 Desember 2025

Degsalture menjadi detergen ramah lingkungan yang ditawarkan mahasiswa UMS. Menggabungkan bahan alami dengan formulasi pembersih yang aman bagi air dan kulit.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.