Jurnalis Lapangan ke Jurnalis Data
Mengadvokasi Hak Digital Bersama SAFEnet

Sore itu, di penghujung 2014, Nenden Sekar Arum masih berkutat di depan layar laptopnya di kantor Bisnis Indonesia Group. Sama halnya dengan beberapa rekan kantor Nenden yang serius di meja masing-masing, hingga ruangan itu dipenuhi suara keyboard yang ditekan cepat. Di layarnya, file laporan keuangan dan grafik pertumbuhan ekonomi terpampang nyata. Alumni Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tahun 2011 itu tampak tengah mempersiapkan artikel analisis dampak kebijakan politik terhadap kinerja keuangan industri di sektor tertentu.

Dengan teliti, Nenden menganalisis angka-angka dalam laporan tersebut. Sudah jadi tanggung jawabnya, mengolah sebuah data yang begitu kompleks menjadi narasi yang mudah dipahami para pembaca.

“Di Bisnis.com, saya benar-benar belajar bahwa data bisa membuka mata kita tentang realitas yang sebenarnya. Angka-angka ini bisa mengungkap fakta yang tak terlihat di permukaan, dan itu adalah kekuatan jurnalisme data,” ujarnya.

Dunia jurnalisme yang kini ia tekuni bukanlah jalan yang direncanakan jauh-jauh hari. Ia menemukan passion di dunia jurnalistik justru melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan. Di sana, ia belajar dasar-dasar jurnalisme, seperti teknik wawancara, menulis berita, hingga merangkum laporan investigasi.

“Masuk Teknik Informatika karena penasaran tentang cara membuat sebuah game, soalnya hobi saya main game waktu SMA. Tapi pas jadi mahasiswa baru, justru kepincut LPM Pabelan, akhirnya ya sering turun ke lapangan untuk meliput kegiatan kampus, atau mengangkat isu-isu yang dekat dengan mahasiswa,” katanya mengenang masa-masa kuliah.

Nenden menjadi begitu aktif di LPM Pabelan hingga banyak orang di kampus mengira dia adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi. “Padahal saya anak Teknik Informatika, tapi saking seringnya meliput, banyak yang salah sangka,” kelakarnya disertai tawa kecil. Pengalaman di LPM Pabelan telah membentuk kecintaannya pada dunia jurnalistik, meski latar belakang akademisnya sangat berbeda.

Jurnalis Lapangan ke Jurnalis Data

Keahliannya menulis berita kemudian menjadi bekal Nenden untuk memulai karier profesionalnya di PT Aksara Solopos sebagai jurnalis lapangan.

“Rasanya senang sekali waktu diterima di Solopos. Akhirnya, saya bisa mempraktikkan semua yang saya pelajari dari LPM Pabelan dengan skala yang lebih besar,” kenangnya.

Bekerja di Solopos membuat dirinya meliput berbagai isu sosial dan ekonomi, dari perkembangan UMKM hingga kebijakan pemerintah daerah yang berdampak pada masyarakat di Solo dan sekitarnya. Selama bekerja, ia pernah ditempatkan untuk meliput wilayah Sragen, Sukoharjo, dan Solo Kota. Katanya, "Karena Solopos itu penempatannya per wilayah."

Hanya saja di tengah-tengah rutinitasnya tersebut, Nenden mulai memikirkan cara lain untuk mempertajam tulisan-tulisannya. Memanfaatkan data laporan yang kerap ditemui di lapangan sebagai pisau untuk mempertajam narasi jurnalistik.

“Saya kerap berpikir, bagaimana kalau data yang saya temukan itu bisa dimanfaatkan untuk memperkaya artikel? Akhirnya, ya, saya belajar untuk membaca dan memvisualisasikan data. Sebetulnya waktu kuliah juga sering belajar data, jadi cukup familier,” katanya. Keinginan tersebut membuat Nenden memberanikan diri melangkah keluar dari liputan lapangan yang selama ini sudah dikuasainya. Kariernya di Bisnis Indonesia Group menandai peralihan dari jurnalisme lapangan ke jurnalisme data, sebuah bidang yang semakin jauh ia tekuni, terlebih saat dirinya bergabung dengan Katadata sebagai researcher and data analyst pada 2018.

“Di Solopos, saya terbiasa mencari informasi dari narasumber di lapangan, tapi di Bisnis.com, saya mulai melihat bagaimana suatu data dapat menambah ketajaman suatu cerita,” jelasnya.

Wanita yang kini menetap di Tangerang itu memiliki peran penting dalam menyajikan artikel ekonografik berbasis bukti. Ia bertanggung jawab untuk mengolah dan menganalisis data yang kompleks menjadi visualisasi yang menarik dan mudah dipahami.

"Dengan memanfaatkan grafik, infografik, atau diagram, kami sebagai data journalist membantu pembaca memahami tren dan pola yang ada dalam isu-isu ekonomi dan sosial saat itu," imbuhnya.

Di tengah kesibukannya bekerja, Nenden seperti merasa perlu memperdalam ilmu teknologi dan data yang selama ini menjadi fokusnya. Ia lantas melanjutkan studi S-2 Advanced Computer Science di University of Birmingham, Inggris, dengan beasiswa LPDP.

“Akhirnya saya memutuskan resign dari Bisnis Indonesia Group, kalau tidak salah ingat September 2016. Lalu fokus merampungkan studi selama satu tahun di UK,” ungkapnya mengingat-ingat.

Keseriusannya pada dunia data semakin mantap setelah Nenden berhasil mendirikan Indonesian Data Journalism Network (IDJN) pada 2019, bersama kawan-kawannya yang juga menggeluti dunia data journalism.

“Di IDJN, kami memberikan pelatihan kepada jurnalis tentang cara mengolah data, agar mereka lebih percaya diri dalam menggunakan data sebagai sumber utama artikel mereka. Saya saat itu merasa data journalism Indonesia masih begitu tertinggal, berbanding terbalik dengan di UK. Banyak jurnalis Indonesia yang masih kesusahan memvisualisasikan data, padahal sekarang kalau menulis apa-apa harus disertai data,” jelasnya. Bagi Nenden, IDJN tercetus sebagai tempat belajar bagi jurnalis-jurnalis muda yang ingin mengasah keterampilan dalam menganalisis data dan menyajikannya melalui cara yang lebih informatif.

Mengadvokasi Hak Digital Bersama SAFEnet

Setelah beberapa tahun bergelut di dunia jurnalisme data, ketertarikan Nenden mulai bergeser. Ia semakin tertarik pada isu kebebasan berekspresi di dunia maya dan peran teknologi dalam memperjuangkan hak-hak digital. Ketertarikan itu kian menguat setelah menyaksikan kasus-kasus penyalahgunaan UU ITE yang kerap dijadikan alat untuk membungkam suara-suara kritis di media sosial.

“Pas UU ITE mulai berlaku, banyak yang dituding melakukan pencemaran nama baik hanya karena mengkritisi kebijakan pemerintah. Bagi saya itu suatu keadaan yang sangat memilukan, kebebasan berekspresi ialah hak asasi manusia yang memungkinkan setiap orang untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas,” ucapnya.

Tepat pertengahan 2020, Nenden memutuskan untuk terjun ke dunia advokasi hak digital dengan bergabung ke Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet). Mulanya, ia tergabung sebagai project officer yang bertanggung jawab merancang sistem pengumpulan dan analisis data terkait pelanggaran hak digital, seperti kasus penyalahgunaan UU ITE atau kekerasan berbasis gender di ruang digital.

“Kira-kira sepuluh bulan kemudian saya diangkat menjadi Kepala Divisi Freedom to Express, mengemban upaya advokasi terkait kebebasan berekspresi yang ranahnya masih sama, yaitu di dunia digital,” tambahnya. 

Salah satu kasus yang paling menantang baginya adalah mengadvokasi seorang aktivis yang ditahan karena mengkritik kebijakan pemerintah di media sosial. “Kami harus melakukan pendekatan ke banyak pihak, mulai dari pemerintah hingga media untuk memberikan tekanan agar kasus ini bisa ditinjau ulang,” tutur Nenden.

“Ini perkara prinsip, bahwa setiap orang berhak untuk menyuarakan pendapatnya tanpa rasa takut,” lanjutnya.

Baru-baru ini, SAFEnet meraih pengakuan atas kontribusinya dalam memperjuangkan hak-hak digital di Indonesia. Pada perayaan ulang tahun ke-26 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), SAFEnet dianugerahi penghargaan untuk kategori Koordinasi Penanganan Kekerasan Berbasis Gender dan Penguatan Layanan Dukungan Korban.


Nenden (kiri) menjadi perwakilan SAFEnet dalam Malam Peringatan 26 Tahun Komnas Perempuan (16/20/2024). dok.istimewa

“Penghargaan ini sangat berarti bagi kami. Bukti dari upaya kami selama beberapa tahun terakhir dalam mendampingi korban kekerasan berbasis gender secara online,” kata Nenden.

Selama beberapa tahun terakhir, SAFEnet telah menjadi mitra berdedikasi Komnas Perempuan dalam menangani kasus-kasus kekerasan berbasis gender yang terjadi di ranah digital, dengan menyediakan ruang aman bagi para korban dan memastikan mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan.

“Kami bekerjanya tidak hanya di level nasional, namun internasional juga dengan berjejaring bersama organisasi masyarakat sipil di Asia Tenggara dan negara-negara lain di dunia. Kami terbuka untuk menjajaki kerja sama bersama mereka yang memiliki kepedulian sama terkait hak digital,” ucapnya menambahi.

Setelah berkecimpung selama hampir setengah dekade, Nenden merasa hak digital merupakan elemen tak terpisahkan dari kehidupan modern. Baginya, teknologi seperti memiliki dua sisi; satu sisi dapat berfungsi sebagai alat pembebasan, sementara sisi lainnya berpotensi disalahgunakan sebagai alat penindasan. Keyakinan tersebut kemudian mendorong Nenden untuk terus berjuang, berkomitmen memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan bersama, bukan sebagai alat untuk menekan.

Kini dengan menjabat sebagai Executive Director SAFEnet, Nenden berada di garis depan dalam memperjuangkan hak-hak digital di Indonesia. Ia dipercaya memimpin berbagai inisiatif untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan hak digital serta mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan adil.

Nenden sendiri acap kali menyoroti tantangan berat yang masih membayangi hak digital di Indonesia. Kesadaran masyarakat yang masih minim hingga kurang berpihaknya kebijakan pemerintah menjadi salah dua tantangannya.

Awal tahun ini, Nenden pun memutuskan untuk melanjutkan studi di Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Keputusan dibuat lantaran ia ingin memperdalam pemahaman mengenai dinamika politik dan kebijakan publik, yang sangat relevan dengan peranannya dalam advokasi hak digital. Tuturnya, “Karena advokasi hak digital akan menjadi jalan krusial yang saya pilih sebagai upaya merawat demokrasi.”

  

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Ingin membangun jejaring profesional dengan Nenden?

Teropong Jagat

image-featured
13 Juni 2026

Begadang jadi hobi mayoritas orang Indonesia. Penggunaan gawai diduga menjadi biang keladinya. Apa dampak begadang bagi tubuh manusia?

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.