Pagi belum sepenuhnya terang ketika pintu hanggar dibuka. Udara Ungaran, Semarang, biasanya masih dingin dan sedikit berembun.
Dari dalam perusahaan karoseri bus PT Laksana Bus Manufaktur terdengar suara logam beradu dan percikan api menyambar dari sambungan rangka baja. Begitu cerita Singgih Eko Yudistiro yang melewati ruang produksi sebelum memasuki ruang kerjanya.
Pria kelahiran Cilacap 1992 itu sehari-harinya tak hanya memantau layar. Belum lama ini, September 2025, Singgih dipercaya menjadi Brand and Marketing Communication Manager di PT Laksana Bus Manufaktur. Salah satu produsen karoseri bus terbesar di Indonesia. Bus-bus buatan mereka melintasi setiap sudut kota di negara ini, bahkan menembus pasar Asia Selatan dan Pasifik.
“Memang hitungannya baru sebentar masuk Laksana. Akhir tahun kemarin bikin annual report. 60 persen traffic media sosial Laksana semuanya itu disumbang dari konten empat bulan terakhir,” kata Singgih akhir Februari.
Ketika pertama masuk, media sosial perusahaan terbilang belum luwes. Penuh foto unit dan spesifikasi teknis. Informasi ada, tapi kurang memainkan emosi publik.
Padahal, menurut Singgih, orang tak pernah membeli sekadar mesin. Mereka membeli rasa percaya.
“Produk kita kuat. Tapi orang belum kenal kisah di baliknya,” ujar dia.
Dirinya lalu melakukan gebrakan kecil dengan mengubah pola pendekatan. Dengan menggaungkan kampanye National Pride sebagai salah satu strategi pemasaran mereka mengenalkan bus-bus buatan dalam negeri yang tak kalah keren.
“Jadi saat campaign Transjakarta kemarin, aku tuh kepengen mengedepankan nation pride. Selama ini kan orang tahunya Transjakarta tuh, complete built up (CBU), semuanya beli dari China. Impor dari Zhengzhou Yutong Group Co., Ltd., Zhongtong Bus Holding Co., Ltd., dan sebagainya,” resahnya.
Sementara produk nasional hanya kebagian 10 persen dari total pengadaan. Dia ingin menggelitik opini tersebut, khususnya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT Transportasi Jakarta waktu itu.
“Aku ngomongin narasi kenapa harus impor? Kalau kami bisa bikin bus yang nggak kalah bagus dari buatan luar,” ucap Singgih penuh ambisi.

Hasilnya terasa. 60 persen traffic tahunan yang dikatakan Singgih di awal datang dari periode kampanye Transjakarta. Interaksi melonjak. PT Laksana Bus Manufaktur mendapat exposure kencang dari berbagai media saat itu.
“Brand itu soal cerita. Kalau ceritanya kuat, orang-orang akan berdatangan sendiri,” katanya.
Temukan Arah di Ilmu Komunikasi
Meski lahir di Cilacap, tapi ingatan masa kecil Singgih nyaris seluruhnya berwarna Solo. Di kota itulah ia tumbuh, bersekolah, dan belajar banyak hal.
Sebagai anak tunggal, rumahnya kerap terasa lengang. Tak ada saudara untuk diajak bertengkar atau berbagi cerita. Waktu senggang lebih sering ia habiskan sendirian.
Buku menjadi teman paling setia. Apa saja dibaca, terutama cerita sejarah.
Di sekolah pun Singgih cukup sering tampil. Ikut lomba puisi, lomba resensi buku, hingga didapuk menjadi pembawa acara (master of ceremony) untuk kegiatan di sekolahnya, SMA Negeri 2 Surakarta.
Singgih pernah dipercaya memandu kegiatan yang dihadiri wali kota Solo saat itu, Joko Widodo, dalam agenda Meet Mr. Mayor. Pengalaman kecil itu membuatnya sadar, dirinya memang nyaman berbicara di depan publik.
Meski begitu, soal jurusan kuliah ia justru bimbang. Sempat ingin masuk sekolah masak. Pernah terpikir arkeologi. Tak ada yang benar-benar mantap. Hingga tes minat bakat mengarahkannya ke Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
“Jujur, itu pilihan ketiga. Orang tua mengarahkannya malah kedokteran gigi. Tapi merasa nggak mantep aja milih itu,” kenang dia.
Pilihan yang nyaris tak ia rencanakan itu justru menjadi fondasi seluruh kariernya. Di kampus, ia tak betah hanya duduk di kelas.
Singgih dan teman-temannya terhitung senang membuat kegiatan kecil di luar aktivitas kampus. Diskusi, forum nonton film, obrolan kritis. Salah satunya memutar film dokumenter The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer.
Tanjakan Karier
Selepas menamatkan jenjang sarjana, Singgih masuk sebagai humas dan protokol di Sekretariat DPRD Kota Surakarta. Di sinilah ia merasa benar-benar ditempa.
Puncaknya datang pada September 2019. Gelombang demonstrasi mahasiswa merebak di banyak kota, termasuk Solo. Ribuan massa turun ke jalan menolak pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dan UU KPK.
Pagi hingga siang halaman gedung dewan sesak. Spanduk dibentangkan. Orasi bersahutan. Ketika situasi memanas, gas air mata meletup. Orang-orang berlarian dan tampak kacau.
Singgih berdiri tak jauh dari pintu utama, kata dia. Memegang kamera dan hp untuk mencatat kejadian.
“Kerja sambil deg-degan. Takut iya, tapi tugas harus tetap jalan,” jelasnya.
Di tengah kekacauan seperti itu, informasi tak boleh keliru. Ia harus cepat menyusun rilis resmi, memastikan kronologi akurat, dan mencegah kabar simpang siur yang bisa memperkeruh keadaan.
11 bulan di DPRD Kota Surakarta, Singgih mengaku belajar banyak soal komunikasi krisis. Usai dari birokrasi, ia hengkang ke sektor swasta. Ia bergabung dengan Netra Group, mengelola promosi unit usaha hotel, restoran, hingga transportasi.
Ritmenya berubah total. Singgih lebih banyak merancang kampanye, kegiatan, dan kerja sama media. Belajar membaca perilaku konsumen, kapan orang bepergian, apa yang membuat mereka tertarik, bagaimana satu kalimat bisa memengaruhi keputusan membeli.
Dari situ, jalurnya makin condong ke pemasaran digital. Ia melanjutkan peran serupa di 168 iLuFA dan kemudian memimpin strategi konten di Socmedia Group.
Beberapa bulan bekerja sebagai Head of Content Strategist di Socmedia Group, Singgih mendapat panggilan dari almamaternya. Lamaran yang pernah ia kirim ternyata sampai langsung ke meja pimpinan kampus.
Singgih dipercaya menjadi Public Relations & Marketing Communications Coordinator UMS. Tugasnya membenahi wajah komunikasi kampus, mulai dari hal-hal mendasar, seperti memetakan audiens, menyusun kalender konten, merapikan alur kerja tim hingga membaca performa media sosial lewat data.
“Nggak ada gebrakan instan. Hanya konsistensi untuk riset menggunakan data. Setiap bulan report dipelajari. Apa yang naik dipertahankan. Apa yang turun diperbaiki,” jelas Singgih.
Grafik nampak menanjak. Akun TikTok kampus yang semula hanya sekitar 4 ribu pengikut melonjak menjadi 35 ribu dalam 4-6 bulan pertama. Sementara di Instagram, jangkauan konten menembus 48 juta impresi dengan lebih dari 1 juta interaksi, dan pertumbuhan audiens mencapai puluhan ribu akun dalam setahun kepemimpinan Singgih.
Bekal pengalaman Singgih di birokrasi, promosi bisnis, hingga strategi digital itu akhirnya membawa dia ke fase terbaru. Ia bergabung dengan PT Laksana Bus Manufaktur untuk menangani brand dan marketing communication.
Di Laksana, perannya tetap sama. Memastikan produk kuat di lapangan, juga kuat dalam komunikasi. Seperti saat menangani kampanye armada Transjakarta, Singgih dan tim merancang konsep kreatif yang mengangkat identitas Jawa Tengah yang merupakan kampung halaman Laksana lewat tulisan-tulisan ringan di badan bus.
Bukan pesan korporat yang kaku, melainkan kalimat catchy seperti “Bangga Buatan Indonesia, Produk Asli Jawa Tengah”, disusul selipan tahu bakso, getuk, hingga istilah jenaka yang akrab di telinga pada kampanye pertama. “Pesannya harus fun, gampang diingat, tapi maknanya sampai,” kata Singgih.

Baginya, produk sebesar apa pun tetap butuh cerita yang jelas agar dipahami pasar. Pasar Laksana pun bukan hanya domestik. Bus buatan mereka telah melaju ke berbagai negara, seperti Fiji, Thailand, Kamboja, Laos, Bangladesh, Timor Leste, hingga Sri Lanka.
Artinya, komunikasi yang ia bangun tak melulu berbicara dalam satu kota atau satu provinsi, melainkan lintas negara. “Produk bagus saja nggak cukup, ya. Orang harus tahu kenapa itu bagus, dan ini yang konsisten aku kerjakan sampai sekarang,” pungkas Singgih.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








