Dering telepon membangunkan pewarta foto Harian Solopos, Muhammad Ferri Setiawan, suatu malam di bulan Oktober 2018. Panggilan masuk dari Redaktur Pelaksana Foto Solopos tertulis di layar telepon genggamnya. Ferri lekas meraih ponselnya dan menerima panggilan itu.
Dari seberang telepon, sang redaktur meminta Ferri untuk turun ke lapangan. “Pasar Legi kebakaran,” ucap suara dalam telepon. Ferri yang tengah beristirahat usai seharian dinas liputan, kembali mengenakan jaket, mengambil kamera, dan menyalakan motor. Segera saja ia membelah dinginnya Kota Solo malam itu.
Api masih berkobar saat Ferri tiba di Pasar Legi. Usai memarkirkan kendaraannya, Ferri dengan sigap mengeluarkan kamera dari tasnya. Sejurus kemudian, peristiwa kebakaran di pasar induk tersebut berhasil diabadikan dalam beberapa jepretan foto.
Memori liputan kebakaran Pasar Legi masih terekam jelas dalam ingatan alumni Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan 2010 itu. Ferri adalah sosok yang sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. “Memang passion,” katanya dalam wawancara virtual, Sabtu (21/9/2024).
Urusan alat tak jadi soal. Pria yang mengaku tidak mempunyai kamera pribadi ini, rutin menggunakan kamera Canon seri 5D, 6D, atau 7D yang disediakan kantor untuk liputan. Adapun lensa yang kerap digunakan adalah lensa tele L-Series 70-200mm, serta lensa wide L-Series 17-40mm dan 10-22mm.
Sepanjang kariernya sebagai pewarta foto, Ferri mafhum dengan tugas liputan mendadak. Meski sama-sama seorang jurnalis, kata dia, pewarta foto sangat terikat momen dan waktu. Lain halnya dengan wartawan tulis yang dapat mengulas kembali peristiwa yang terjadi dengan mewawancarai saksi mata usai peristiwa terjadi.

Karya foto Ferri bertajuk Sapi Timbal dalam buku foto Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2018. dok.Istimewa
Obrolan kami semakin seru saat membahas mengenai ancaman terhadap jurnalis. Ferri pernah mengalaminya saat tengah meliput sebuah aksi unjuk rasa. Usai mengabadikan aksi massa dalam jepretan foto, Ferri bergegas kembali ke kantor. Namun, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang janggal.
Ia pun memperhatikan sekitarnya dan menyadari dirinya tengah dibuntuti dua orang. Ferri segera mengambil langkah seribu untuk kabur dari pandangan dua sosok itu. Setelah dirasa aman, barulah Ferri kembali ke kantor. Belakangan ia menyadari kalau dua orang tersebut merupakan pentolan dari aksi massa. “Mungkin nanti takutnya kalau framing berita yang muncul tidak sesuai dengan ekspektasi mereka,” ujar dia.
Ferri mengiyakan jika bekerja sebagai seorang jurnalis memang penuh tantangan. Namun, dia berpegang teguh pada idealismenya yang menginginkan pekerjaan yang membuat hidupnya penuh warna. “Dengan saya bekerja, saya akan berkarya. Maka saya akan dikenang sejarah sebagai seorang pewarta,” ucapnya mantap.
Baginya, puncak karier seorang pewarta foto adalah saat karya yang dihasilkan mampu menyampaikan pesan kepada para pembaca tanpa perlu menuliskan narasi tambahan. Ferri menyebut foto jurnalistik mempunyai kekuatan narasi yang tidak ditemukan pada foto komersial lainnya. Sedangkan fungsi takarir pada foto hanya mempertegas informasi dalam gambar.
Tak hanya bekerja mewartakan kabar, Ferri juga aktif berkompetisi dalam ajang perlombaan foto, termasuk lomba foto jurnalistik. Salah satu foto yang ia ikutkan dalam lomba adalah foto kawanan sapi yang mencari makan di Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo, Mojosongo, Solo.
Pada 2018, Ferri melombakan foto di TPA Putri Cempo tersebut dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI), sebuah kompetisi bergengsi bagi pewarta foto Tanah Air. Berkat kegigihannya, dirinya diganjar penghargaan dan berhasil menduduki podium ketiga untuk kategori foto nature and environment.

Muhammad Ferri Setiawan tengah memegang Piala APFI dan buku yang memuat karya foto para pemenang. dok.istimewa
Jatuh Cinta pada Ilmu Komunikasi
Muhammad Ferri Setiawan, 32 tahun, awalnya tidak berniat masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi. Pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 20 Juni 1992, itu semula hendak melanjutkan studi ke jurusan Pendidikan Seni Rupa.
Ferri adalah sosok yang gemar menggambar. Pendidikan Seni Rupa menjadi pilihan lantaran ingin seperti kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru tanpa perlu meninggalkan kegemarannya.
Sayang, ibunya yang berprofesi sebagai guru biologi itu tidak merestui pilihan Ferri. “Kalau kamu jadi guru, ya jangan guru seni rupa lah. Yang lain,” ucap Ferri mengulang perkataan ibunya. “Padahal saya sudah seneng banget. Kan sesuai passion yaitu menggambar.”
Di tengah kegundahannya, seberkas harapan muncul. Tetangganya yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Gigi UMS merekomendasikan Ferri untuk melanjutkan studi di Ilmu Komunikasi Kelas Internasional UMS. “Coba saja dulu,” perintah tetangganya. Maka, jadilah Ferri mahasiswa angkatan pertama Ilmu Komunikasi Kelas Internasional UMS.
Tak ada kesulitan berarti selama Ferri menempuh studi. Bahasa Inggris yang ditakuti sebagian orang, nyatanya bukan masalah bagi dia. Justru Ferri sangat senang belajar bahasa. Belajar otodidak menjadi kunci Ferri menguasai bahasa Inggris. Misalnya dengan menonton film berbahasa Inggris tanpa membaca teks terjemahannya.
Kuliah di Ilmu Komunikasi justru memberikan pengalaman tersendiri bagi Ferri. Dirinya pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Audio in Media. Tugasnya menyampaikan materi pembelajaran dari dosen kepada mahasiswa. Ferri sempat gugup karena tidak jago public speaking.
“Untungnya, para mahasiswa saat itu cukup antusias dengan materi yang saya sampaikan, sehingga rasa gugup yang sempat menjadikan kepala saya tiba-tiba kosong sejenak,” kenang dia.
Kelas yang Ferri ikuti terdiri atas 13 orang mahasiswa. Kendati jumlahnya dikit, dirinya tak lantas berkecil hati. Dia pun memperluas lingkaran pertemanannya dengan mahasiswa yang menggemari fotografi. Lingkaran pertemanannya semasa kuliah telah menumbuhkan minat Ferri pada dunia fotografi.
Banting Setir Jadi ASN
Medio 2020, pergulatan batin Ferri membuat dirinya memutuskan banting setir menjadi tenaga kontrak di Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Meski telah menjadi pegawai instansi pemerintahan, pekerjaannya tidak lepas dari dunia jurnalistik. Ferri menjabat sebagai Tenaga Ahli Jurnalistik di bawah Unit Humas BBWSBS. Tugasnya pun bertambah menjadi seorang humas.
“Pekerjaan ini cukup bertolak belakang dengan pekerjaan sebelumnya. Meski demikian, bekal pendidikan Ilmu Komunikasi yang sudah saya miliki, mulai saya praktikan kembali satu per satu,” ujar dia.
Ferri pun dihadapkan dengan tantangan baru, meliputi komunikasi media dan kelembagaan, penyusunan materi informasi, hubungan internal dan eksternal, penanganan krisis, advokasi dan edukasi, serta kegiatan monitoring dan evaluasi.

Potret Ferri saat mengikuti rangkaian kegiatan kunjungan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M. Basuki Hadimuljono, di proyek pembangunan Gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), di kompleks Universitas Gadjah Mada (UGM), di Kabupaten Sleman, D.I.Yogyakarta pada beberapa waktu lalu. dok.Istimewa
Pada 2022, Ferri mencoba peruntungannya dalam seleksi calon ASN Kementerian PUPR dan berhasil lolos sebagai Pranata Hubungan Masyarakat di Balai Prasarana Permukiman Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPPW DIY) di bawah Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Bekerja di Kementerian PUPR menuntut Ferri untuk belajar lebih dalam seputar dunia keteknikan. Apalagi pekerjaannya tidak lagi berhubungan dengan kamera dan lebih sering menulis. Pengetahuan mengenai teknik sipil hingga arsitektur menjadi makanan sehari-harinya selama bekerja.
Pekerjaan tersebut menuntut Ferri untuk mengomunikasikan informasi seputar dunia keteknikan kepada khalayak ramai. Hal ini berkaitan dengan latar belakang Ferri dari dunia komunikasi. Dia memandang orang-orang teknik mempunyai kesulitan dalam menyampaikan bahasa teknik kepada publik.
“Ini menjadi PR bagi saya untuk mentransformasikan bahasa teknis agar lebih mudah dipahami masyarakat,” ungkap dia. Banyak literatur yang harus Ferri pelajari, mulai dari buku hingga berita seputar infrastruktur.
Ferri melihat posisi pranata humas dalam instansi pemerintahan bertugas menjembatani sinkronisasi informasi antarinstansi baik internal maupun eksternal. Pranata humas juga berperan mengelola manajemen risiko dan merilis publikasi.
Selayaknya posisi humas lain, Ferri juga terus memantau perkembangan informasi di media massa maupun media sosial. Tujuannya untuk memantau kabar seputar Kementerian PUPR maupun instansi di bawahnya. Saat terjadi isu miring seputar jajaran instansi PUPR, Ferri harus melakukan cross check untuk memastikan keabsahan informasi yang beredar. Sudah menjadi tugasnya untuk merilis klarifikasi atau siaran pers usai melakukan cross check.
“Ada oknum yang seringkali memberitakan kabar negatif, ternyata dari media bodong,” imbuhnya. Berbekal pengalamannya menjadi wartawan, Ferri dengan mudah menelusuri asal muasal pemberitaan yang berkembang di masyarakat.
Tantangan baru pun muncul manakala Ferri harus menghadapi kritik pedas warganet. Menurutnya, kritik tersebut muncul karena isu seputar pembangunan infrastruktur terbilang sensitif karena menyedot anggaran negara yang cukup besar. Belum lagi jika kritik tersebut dibarengi dengan dengungan dari para buzzer. Ferri dan timnya harus bekerja keras menjawab setiap komentar netizen di media sosial.
Sebagai wajah instansi, pranata humas dituntut lebih luwes dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Di samping itu, ada kode etik yang harus ditegakkan dalam menanggapi komentar warganet. “Tetap kami beri jawaban sebagai bentuk respon dari pemerintah,” katanya. “Kita enggak mungkin diam saja kalau ada berita miring.”
Bekerja di BPPW DIY membuat Ferri merasa lebih berkontribusi bagi negara lewat publikasi pembangunan infrastruktur yang ia wartakan. Pekerjaan tersebut telah membuka mata Ferri betapa pentingnya infrastruktur bagi masyarakat. Dari sorot matanya, dia melihat senyum masyarakat saat infrastruktur yang dibangun pemerintah dapat bermanfaat dalam memenuhi hajat hidup orang banyak. “Saya bisa merasakan betapa bersyukurnya masyarakat ketika memperoleh pembangunan infrastruktur berkelanjutan,” ujar dia.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








