Instagram Menjadi Ruang Belajar
Berkali-kali Gagal, Berkali-kali Belajar

Pagi itu di penghujung Juni 2026, BI Corner Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tampak ramai. Beberapa mahasiswa duduk melingkar sambil membuka laptop. 

Di tengah aktivitas tersebut, Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad, terlihat menyimak salah satu temannya yang mengajaknya berdiskusi. Mahasiswa kelahiran Kalabahi, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menjadi salah satu mahasiswa yang diamanahi dekanat untuk menghidupkan BI Corner sebagai ruang akademik yang aktif dimanfaatkan mahasiswa.

Bukan tanpa sebab dekanat mempercayakan Amanah itu kepadanya. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa Akuntansi, Syaban dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi nasional hingga internasional. Pengalaman itu kemudian membawanya dipercaya menjadi narasumber di sejumlah kegiatan akademik hingga rutin membagikan tips menulis esai melalui Instagram.

Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad. Humas UMS/Azhar Muzaqqi

“Padahal semester satu itu, saya mau lomba cuma karena ikut-ikutan. Ikut, gagal. Ikut lagi, gagal. Ikut lagi, gagal,” kenangnya sembari tertawa kecil. Ia mengaku mengalami lebih dari sepuluh kali kegagalan pada berbagai kompetisi poster, infografis, hingga esai.

Instagram Menjadi Ruang Belajar

Semakin sering mengikuti lomba, Syaban menyadari satu persoalan. Masih banyak mahasiswa yang ingin berkompetisi, tetapi tidak tahu bagaimana memulai menulis karya ilmiah sebagaimana dirinya dahulu.

Syaban akhirnya mulai mengunggah konten seputar kepenulisan esai, karya tulis ilmiah, kompetisi, hingga pengembangan diri di dunia perkuliahan melalui Instagram pribadinya @el_musyaffa23 sejak Agustus 2025. Materi-materi yang diunggahnya dikemas menjadi konten carousel dan video berdurasi pendek yang mudah dipahami mahasiswa. 

“Sebelum Agustus 2025 pernah buat konten, tapi jarang naik dan nggak terfokus isi kontennya apa. Saya belajar banyak dari Mas Saminur (teman Duta Kampus UMS) juga soal konten. Lama-lama ramai,” ucapnya.

Konten pertamanya yang menjadi titik balik adalah konten template esai. Padahal saat itu, akun Instagram Syaban baru memiliki sekitar 1.800 pengikut. Konten itu mampu menembus 60 puluh ribu views, 14.5 ribu likes,  dan 4.949 komentar.

Lambat laun jumlah pengikutnya melonjak hingga sekitar 5.000 pengikut. Kini awal Juli 2026, akun Instagram Syaban telah diikuti 8.655 akun.

Tak semua kontennya memiliki capaian yang sama. “Konten tentang tips membuat esai ilmiah itu yang paling diminati. Konten tertinggi sekarang itu viewers-nya hampir satu juta, like hampir 63 ribu, disimpan lebih dari 20 ribu kali, dan dibagikan belasan ribu kali,” ujar dia penuh syukur.

Beragam konten edukasi yang dibagikan Syaban melalui Instagram/@el_musyaffa23

Respon positif juga terus berdatangan seiring waktu melalui pesan langsung di Instagram-nya. Tak sedikit mahasiswa yang meminta masukan terhadap karya ilmiahnya atau sekadar berkonsultasi mengenai kompetisi yang akan diikuti. Ada pula yang kembali menghubunginya setelah berhasil lolos sebagai finalis bahkan meraih juara berkat menerapkan tips yang ia bagikan.

“Kalau ada yang mengabarkan berhasil lolos atau juara setelah belajar dari konten saya, rasanya senang sekali. Berarti apa yang saya bagikan benar-benar bermanfaat,” tutur Syaban.

Konsistensi Syaban berbagi konten edukasi perlahan membuka pintu lain. Tak hanya diundang sebagai pemateri di berbagai komunitas dan kampus, Syaban juga beberapa kali dipercaya menjadi juri lomba esai, seperti lomba yang diselenggarakan Politeknik Negeri Malang (Polinema), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan terakhir Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP).

Baginya media sosial menjadi ruang berbagi dan saling belajar. Prinsip itulah yang mendorongnya untuk terus menghadirkan konten edukasi yang dapat membantu banyak mahasiswa memahami dunia karya tulis ilmiah. 

“Saya berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mencoba. Kalau pengalaman yang saya bagikan bisa membantu mereka berkembang lebih cepat, itu sudah menjadi kebahagiaan buat saya,” harapnya.

Berkali-kali Gagal, Berkali-kali Belajar

Jauh sebelum berkuliah di UMS, Syaban menghabiskan masa kecilnya di Alor. Kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Assalam Sukabumi, Jawa Barat. Di lingkungan pondok itulah Syaban mulai ditempa dengan kedisiplinan, budaya membaca, hingga latihan berbicara di depan umum menggunakan tiga bahasa.

Orang tuanya bukan tipikal yang menuntut Syaban menjadi juara kelas tiap tahun. Yang selalu mereka tekankan hanyalah proses belajar.

“Ayah sama ibu nggak pernah mematok harus juara. Yang penting saya harus belajar dan terus berproses. Mendukung juga ketika ikut lomba-lomba kalau saya berminat,” ujarnya.

Mulanya Syaban bercita-cita menjadi diplomat. Ia sempat lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di jurusan hubungan internasional. 

Rencana tersebut berubah setelah Syaban menjalani masa pengabdian di pondok. Kewajiban mengabdi membuat kesempatan itu hangus. 

Tahun berikutnya, ia mengaku tak lagi dapat mengikuti jalur tersebut sehingga memilih melanjutkan studi melalui jalur mandiri. Meski diterima di beberapa perguruan tinggi, tetapi atas pertimbangan orang tua, Syaban akhirnya memilih melanjutkan studi di UMS.

Kuliah di UMS membuat Syaban akhirnya tertantang mengikuti berbagai kompetisi. “Waktu itu benar-benar nggak ngerti lomba karya ilmiah seperti apa,” ujar dia. 

Hasilnya bisa ditebak. Proposal demi proposal gugur. Poster ditolak. Infografis tak lolos. Esai pun bernasib sama.

Alih-alih menyerah, Syaban justru menjadikan setiap ketidakberuntungan sebagai bahan belajar. Ia mulai berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa berprestasi UMS, seperti Saminur Fauzan, Arief Surya, dan Samiyem, yang merupakan teman satu organisasi dan duta kampus. 

Syaban saat menjadi juri lomba esai nasional yang diselenggarakan oleh UGM (kiri) dan raihan medali emas pada ajang Asian Youth Innovation Award 2026, Malaysia. Dok.Pribadi

Syaban mulai belajar bagaimana menemukan ide, menyusun argumentasi, hingga memahami pola penilaian juri dari mereka. “Setelah banyak ngobrol sama mereka, lambat laun saya jadi ngerti cara berpikir di lomba dan ngonten. Oh di sini letak salah saya kemarin,” ungkap Syaban sambil mengacungkan telunjuknya.

Perubahan itu mulai terasa ketika memasuki semester tiga. Kegagalannya mulai bergeser menjadi kemenangan.

Kompetisi internasional di Malaysia menjadi ajang pertama yang berhasil ia menangi. Sejak saat itu, prestasi berdatangan silih berganti. Ia meraih medali emas pada International Youth Excursion Network 2025; Juara 1 Lomba Esai Nasional 2025; medali emas dan special award pada Asian Youth Innovation Award Kuala Lumpur, Malaysia 2026; medali perak pada International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition, Bangkok, Thailand 2026, dan lain-lain.

Meski demikian, Syaban mengaku tidak pernah menganggap medali sebagai tujuan utama. Baginya, yang paling menarik justru proses berpikir ketika menyusun sebuah karya ilmiah dan berdampak bagi sesama.

“Entah kenapa kalau esai itu saya lebih enjoy. Karena saya memang suka menulis dan mencari solusi dari sebuah masalah aja, sih,” tandasnya.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Muhammad Nur Haqqi

Ingin mengikuti jejak Syaban?

Penelitian

image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.