Berawal dari Dorongan Kakak
Bakti untuk FIK UMS

Kedua tangan Umi Budi Rahayu tampak telaten memberikan pijatan pada bahu seorang pasien di tempat praktik pribadinya di Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pijatan itu merupakan bagian dari metode fisioterapi yang ia aplikasikan pada pasien-pasiennya.

Selain memberikan pijatan, Umi juga memberikan penanganan melalui gerakan-gerakan dalam membetulkan struktur tubuh pasien. Dengan sabar, ia menuntun pasien untuk melatih gerakan bahu yang mengalami nyeri dan anomali gerakan. “Oke, yups, luruskan, good,” tuturnya lembut. 

Umi mengaku pasiennya datang dari beragam masalah kesehatan, seperti gangguan otot, sendi, tulang, cedera, pascaoperasi, hingga pasien stroke. Umi menyebut mayoritas pasiennya datang dengan keluhan nyeri dan keterbatasan gerak sendi, nyeri pinggang, saraf terjepit dan stroke, yang membutuhkan penanganan fisioterapi agar dapat pulih dan kembali beraktivitas normal.

Sudah lebih dari dua dekade, Umi Budi Rahayu menekuni akademisi dan praktisi di bidang keilmuan fisioterapi neuromuskular. Guru Besar Fisioterapi Neuromuskular Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini telah menaruh minat pada fisioterapi saraf atau neurologi sejak kuliah. Menurutnya, sistem saraf sangat menarik dipelajari karena berperan dalam memegang kendali tubuh manusia. 

“Saraf itu kan sentral. Jadi yang mengendalikan semua pergerakan, sistem tubuh, apapun itu tidak pernah lepas dari sentral yang pusatnya dari otak,” kata Umi saat ditemui di ruang kerjanya pertengahan Juni lalu.

Minatnya itu terus berlanjut saat bekerja sebagai dosen di Fisioterapi UMS. Penelitiannya banyak berfokus pada pemulihan pasien pascastroke. 

Beberapa penelitiannya itu, antara lain latihan harmonisasi otak untuk meningkatkan daya ingat pada pasien pascastroke, studi tentang plastisitas otak dengan protein Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) pada pasien stroke, pemulihan saraf, dan pengembangan keseimbangan dan fungsi motorik dalam pemulihan stroke. 

Umi tak mau penelitiannya terhenti sebatas naskah semata. Ia pun mulai mengembangkan alat bantu pemulihan pasien pascastroke, bernama Personal Balance Feedback, selama tiga tahun terakhir. 

Alat bantu ini berbasis elektronik dan sensor yang diciptakan khusus untuk membantu proses pemulihan keseimbangan pasien stroke sejak masa awal pemulihan atau mobilisasi dini. Alat ini dilengkapi dengan sensor yang membantu mendeteksi kondisi tubuh pasien secara real time

Setelah mengalami serangan stroke, pasien yang kondisinya telah stabil, harus segera turun dari ranjang untuk berlatih gerakan-gerakan fungsional. Sebab, keseimbangan merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai untuk mendapatkan gerakan fungsional tubuh.

Untuk itu, alat ini dapat mendeteksi secara presisi seberapa besar gangguan keseimbangan tumpuan kaki maupun goyangan badan pasien pascastroke. Mengingat penderita stroke umumnya mengalami kelemahan pada separuh badannya. 

“Sebetulnya mendeteksi sampai seberapa besar penderita stroke itu mengalami gangguan keseimbangan,” imbuh dia.

Umi menggarisbawahi pentingnya kemampuan mempertahankan keseimbangan tubuh pada pasien pascastroke. Kemampuan ini adalah syarat dasar mutlak yang harus dikuasai pasien stroke sebelum kembali beraktivitas harian. Menurutnya, latihan keseimbangan sejak dini menggunakan Personal Balance Feedback dapat mencegah gejala sisa cacat yang lebih berat, seperti kelumpuhan atau berjalan pincang. 

Kini, Personal Balance Feedback sudah berhasil dipatenkan. Tentunya dengan melibatkan sejumlah pakar dari Teknik Informatika dan Teknik Elektro UMS. Umi menyebut alat ini berada di tingkat kesiapan teknologi 7 menuju 9. Ia mengaku tengah merapikan rancangannya, mengurus perizinan, hingga uji validitas. 

“Penelitian 3 tahun ini kami merapikan prototipe ini menjadi alat yang memang benar-benar siap, siap digunakan di pasaran,” jelasnya.

Selain inovasi alat bantu tersebut, Umi juga mengemukakan gagasan mengenai neurorestorasi, yakni pendekatan pemulihan saraf melalui mekanisme regenerasi. Konsep ini memberikan pelatihan motorik pada pasien pasca stroke. 

Menurut Umi, pelatihan motorik memicu terjadinya neuroplastisitas, yaitu kemampuan saraf untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru. Konsep ini idealnya diterapkan pada 1-2 hari pascaserangan stroke. 

“Intervensi dini akan memperkuat perubahan seluler dan molekuler yang mendukung pemulihan fungsi saraf,” ujarnya.

Atas kiprahnya dalam pengembangan ilmu terapi pasien pascastroke, UMS menganugerah Umi sebagai Guru Besar ke-69 bidang Fisioterapi Neuromuskular. Ia dikukuhkan pada 20 Januari 2026 dalam sidang senat terbuka di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS.

Berawal dari Dorongan Kakak

Perempuan kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 20 November 1973, ini mulanya tidak berniat belajar fisioterapi. Bungsu dari empat bersaudara ini kemudian mendapat dorongan dari kakak sulungnya untuk mengambil kuliah fisioterapi. “Prospeknya nanti bagus,” kata Umi mengulangi sang kakak. 

Karier pertamanya di UMS dimulai pada 1998 saat menjadi kepala laboratorium Fisioterapi UMS. Umi kemudian diangkat sebagai dosen pada 2001. Setahun kemudian ia mendapatkan amanah sebagai Sekretaris Prodi Fisioterapi UMS. 

Umi juga sempat menjabat sebagai Ketua Prodi Sarjana Fisioterapi UMS (2006-2014) dan Ketua Prodi Profesi Fisioterapis UMS (2018-2021), sebelum akhirnya menjabat sebagai Dekan FIK UMS pada 2021. 

Di luar kampus, Umi aktif mengikuti kegiatan organisasi sejak 2017. Antara lain ialah Ikatan Fisioterapi Indonesia Cabang Surakarta, Asosiasi Pendidikan Tinggi Fisioterapi Indonesia, Perhimpunan Fisioterapi Neurologi Indonesia Solo Raya, Perhimpunan Fisioterapi Neurologi Indonesia Pusat, hingga NeuroMuscular Taping Institute. 

Bakti untuk FIK UMS

Tak pernah terbesit dalam pikiran Umi, dirinya akan menjadi dekan yang menakhodai Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Memimpin fakultas dengan program studi yang berbeda tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Umi. 

Saat didapuk sebagai dekan pada 2021 lalu, Umi memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan: menciptakan tata kelola organisasi yang efektif dan efisien. Menyatukan pemikiran empat jurusan di FIK UMS, seperti Keperawatan, Ilmu Gizi, Kesehatan Masyarakat, dan Fisioterapi perlu usaha ekstra keras. 

Umi memulainya dengan langkah sederhana. Memahami pola kerja masing-masing jurusan agar menemukan jalan tengah untuk menyatukan pemikiran. Dari sinilah ia mulai menggodok strategi untuk meningkatkan kualitas program studi di FIK UMS.

Setelah tiga tahun menjalani proses penguatan budaya kerja dan organisasi, Umi kemudian menggenjot kualitas pendidikan di FIK UMS. Mula-mula Umi membuka program studi lanjutan untuk masing-masing jurusan. Misalnya, Magister Fisioterapi maupun Profesi Dietisien yang telah berjalan selama dua tahun terakhir.

Umi juga memfokuskan pada peningkatan mutu pendidikan dan pengakuan melalui akreditasi. Hasilnya, seluruh jenjang program studi di FIK UMS berhasil terakreditasi unggul. Termasuk Magister Fisioterapi dan Profesi Dietisien yang berhasil terakreditasi unggul.

Tak cukup akreditasi nasional, Umi juga berhasil membidik akreditasi internasional. Mei lalu, tujuh program studi di FIK UMS berhasil terakreditasi oleh Accreditation Agency in Health and Social Sciences (AHPGS), sebuah lembaga akreditasi asal Jerman. Yakni Sarjana Keperawatan, Profesi Ners, Sarjana Fisioterapi, Profesi Fisioterapis, Sarjana Ilmu Gizi, Profesi Dietisien, dan Sarjana Kesehatan Masyarakat

Perempuan yang terkenal aktif dan sat set ini tak mau pasang target level biasa setelah mendapatkan rekognisi dari lembaga akreditasi global. “Tidak bisa menjadi biasa-biasa saja. Artinya kolaborasi dengan luar, termasuk nanti potensi membuka kelas internasional itu akan kita rintis nantinya,” tegasnya mantap. 

Fokus Umi juga iya curahkan untuk pengembangan sumber daya manusia FIK UMS. Proyeksinya adalah mendorong dosen untuk melanjutkan studi, hingga kenaikan jabatan fungsional. Menurutnya, dosen tidak boleh stagnan dan wajib melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Berkat kegigihannya, FIK UMS kini telah memiliki tiga guru besar. Capaian tersebut menambah daftar guru besar di UMS menjadi genap 96 orang. “Sebelumnya kan enggak ada sama sekali (guru besar FIK). Lektor kepala sudah banyak, tapi guru besar baru pecah telor kemarin,” jawabnya.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Lebih dekat dengan dosen

Penelitian

image-featured
19 Juni 2026

Antibiotik termasuk obat keras yang seharusnya tidak diperjualbelikan bebas. Menyimpan sisa dan mengonsumsinya bisa memicu resistensi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.