Tak pernah sekali pun terbesit olehnya, jika bidang desain grafis akan menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Dialah Agung Setyawan, pria kelahiran Sragen yang merupakan alumni Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tahun 2010.
“Dulu saya berpikir bahwa karier saya akan berakhir sebagai engineer di perusahaan tambang atau industri seperti lulusan fakultas teknik pada umumnya. Namun berjalannya waktu, takdir yang Allah tuliskan untuk saya ternyata lain,” celetuknya mengawali percakapan daring bersama kami.
Jatuh Cinta pada Desain Grafis
Minggu pertama Agung sebagai mahasiswa baru kala itu disambut meriah dengan kegiatan Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), kegiatan yang menjadi jembatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal beragam UKM dan organisasi mahasiswa di tingkat universitas.
Agung ingat betul, dirinya sempat mengamati lembar demi lembar cetakan koran karya mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan yang sengaja dipamerkan di meja booth mereka. Desain layout yang rapi dan menarik berhasil mencuri perhatian Agung. Sejak saat itu pula ia memantapkan hati untuk bergabung bersama LPM Pabelan demi menekuni desain koran.
“Di LPM Pabelan, saya menjadi bagian dari tim desain majalah atau koran, spesifiknya di layout. Di tahun itu internet belum menjamur seperti sekarang, media juga masih konvensional: semua serba cetak. Jadi saat mendesain, review hingga proses cetak, saya langsung bisa mengevaluasi garapan saat itu juga, bagian mana yang kurang presisi, atau kekurangan yang lain,” ungkap Agung.
Berkat kepiawaiannya dalam mendesain, Agung sempat digandeng dosen pada beberapa event seminar dan kerja sama instansi di luar kota. Tentunya Agung diminta bergabung untuk mendesain materi presentasi sekaligus menjadi operator presentasi. Cintanya pada desain grafis kemudian terus bertumbuh.
“Saya menyambut ajakan beliau-beliau ini dengan senang hati. Mahasiswa mana yang tidak senang diajak jalan-jalan gratis, menginap di hotel mewah, dan diberikan pekerjaan yang menjadi minatnya?,” sambungnya.
Meniti Karier di Media Lokal
Pria kelahiran 1984 itu mengaku bahwa dirinya bukanlah mahasiswa yang pandai dalam ilmu akademik. Studinya sempat tersendat beberapa semester. Namun Agung berterus terang kepada kami jika dirinya tak lantas leha-leha saja ketika statusnya sudah berubah menjadi “mahasiswa tua”.
“Sempat saya bergabung di salah satu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di Solo, namanya Konsorsium Monitoring dan Pemberdayaan Institusi Publik (KOMPIP). Belum genap setahun di KOMPIP, saya melamar kerja di Solopos. Kebetulan kantor KOMPIP itu langganan beberapa koran dari media lokal, salah satunya koran Solopos. Nah, saya dapat informasi lowongan dari koran tersebut. Alhamdulillah posisi yang dicari adalah desainer layout koran,” ingat Agung.
Berbekal pengalaman mendesain koran di LPM Pabelan, Agung akhirnya berhasil lolos seleksi. Ia resmi menyandang profesi sebagai desainer layout koran di Solopos selama kurang lebih dua tahun.
“Di tengah-tengah menjalani kesibukan itu, saya mulai kepikiran untuk menyelesaikan skripsi. Akhirnya saya mengejar revisi dan bimbingan sampai dinyatakan lulus. Saya resign dari Solopos itu justru setelah wisuda ya,” tambahnya.
Selepas mengangkat toga dan resmi menyandang gelar sarjana dari Fakultas Teknik UMS, Agung hengkang ke Kota Bogor bersama kawan. Ia mencoba peruntungan lain di bidang marketing perumahan.
“Memasuki bulan keempat, saya merasa tak cocok dengan pekerjaan tersebut. Lalu memilih pulang ke Solo dan melamar di media lokal, Joglosemar. Di sana saya bekerja sebagai desainer layout koran lagi, sama seperti saat di Solopos,” jelas Agung yang kini tengah menempuh studi magister di Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret (UNS).
Dalam ceritanya, Agung terpaksa berhenti dari Joglosemar di tahun kelima ia bekerja di sana, lantaran koran Joglosemar berhenti beroperasi. Setelahnya, ia mencoba mewadahi kemampuan mendesainnya dengan menawarkan jasa kepada klien secara online.
Melebarkan Sayap
“Sejak awal tahun 2020, saya mulai bekerja freelance. Saya iseng saja mencoba salah satu marketplace yang mewadahi para freelancer untuk bertemu klien dari berbagai belahan dunia, yang bayarannya menggunakan dolar,” jelas Agung.
Perbedaan waktu yang cukup signifikan sering terjadi kala Agung dan klien asing berdiskusi dan meninjau konsep desain yang akan dikerjakan. Hal ini justru membuat Agung lebih memiliki waktu dengan keluarganya sepanjang fajar masih bersinar.
“Saya seringnya bekerja saat malam, jadi paginya saya masih bisa mengantar anak-anak ke sekolah, juga belajar di bidang akademik karena kewajiban studi S2 saya,” ucapnya sebagai seorang bapak yang telah dikaruniai dua putri.
Mendengar pengalaman menahun Agung di industri media, membuat kami penasaran akan jam terbangnya dalam menuntaskan satu proyek dari klien. Dengan sedikit memutar mata, ia menjawab pertanyaan kami, “Dua hari tiga malam selesai. Selasa klien mengirim materi, Kamis kami review. Dalam satu edisi majalah atau koran yang biasa saya kerjakan terdiri dari 18-20 halaman.”

Karya-karya Agung Setyawan.
Siapa sangka? Kini Agung sukses mengerjakan produk desain untuk klien dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Jerman, Inggris, Prancis, Denmark, Norwegia, Kanada, Australia, Italia, Portugal, Slovakia, Meksiko, Kolombia, Bahama, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, India, Kamboja, Singapura, Serbia, dan Kota Guatemala. Tak kalah menarik, Agung juga sempat menjajaki proyek desain pada beberapa media asing ternama seperti Independent Appeal Newspaper (Tennessee, Amerika Serikat), The Kingdom Press Newspaper (Florida, Amerika Serikat), Villij News (Florida, Amerika Serikat), Oakland Unseen (California, Amerika Serikat), dan Northeast Ohio Community News (Ohio, Amerika Serikat).

Foto Wali Kota New York, Eric Adams menunjukkan koran LittleAfrica News edisi perdana yang merupakan desain Agung Setyawan. dok. istimewa
“Untuk sekarang, saya aktif mengerjakan proyek desain untuk LittleAfrica News yang terbit di New York dan The Chronicle yang terbit di Michigan. Itu semua saya jalani secara remote ya,” imbuhnya.
Saat pertama kali menangani proyek desain untuk klien asing, pria yang menetap di Solo itu mengaku sempat terkendala bahasa. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya permintaan jasa desain, ia sudah terbiasa dalam memahami permintaan klien.
“Karena sudah berkecimpung dengan pekerjaan ini selama empat tahun, sekarang mudah bagi saya untuk memahami permintaan klien, tipe-tipe desain yang mereka inginkan seperti apa itu sudah terbayang. Zaman juga sudah canggih ya, bahkan ada kecerdasan buatan (AI) yang bisa kita manfaatkan untuk memahami banyak hal, jadi no worries lah,” ujarnya tanpa ragu
Membangun President Todays
Berawal dari tugas studi S2-nya, pria yang senang family time itu merajut peluang lagi di ranah digital dengan mendirikan President Todays. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa portal media online kini jadi tempat di mana khalayak berkumpul dan di sanalah Agung memutuskan bersuara.
"Karena pengalaman saya mengerjakan proyek desain koran atau majalah luar negeri, mau tidak mau saya pasti mengonsumsi pemberitaan yang ada di dalamnya. Dari situ saya ngide untuk membuat portal media juga, jadilah President Todays," tutur Agung.
Tak sendirian, Agung menggandeng rekannya yang merupakan seorang ahli IT (Information and Technology) untuk membantu pemeliharaan portal web President Todays. Sementara dirinya berperan sebagai jurnalis.
"Jujur, saya tak menemui banyak kesulitan dalam menulis, karena menurut saya kunci menulis hanya cukup banyak membaca. Pekerjaan desain koran juga sangat lekat dengan jurnalistik ya, sehingga saya pun belajar banyak dalam menyesuaikan tone pemberitaan di media asing," imbuh pendiri President Todays itu.
Menyoal perkara nama portal, Agung mengaku tak asal pilih. Nama "President Todays" ia artikan sebagai tokoh-tokoh penting dari seluruh penjuru dunia. Melalui portal ini, dirinya bermaksud menyiarkan berita dan informasi yang bersumber langsung dari para tokoh penting dunia.
"Kami tak memiliki opini, sangat transparan, dan menjunjung tinggi semua nilai serta kebijakan yang baik dari setiap tokoh. President Todays memiliki lima rubrik, yaitu President, Vice President, Prime Minister, VVIP, dan X," jelasnya.
Menjelang sesi akhir interview, Agung menandaskan mahasiswa UMS harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mencari peluang karier di kancah global. Karena menurutnya, bekal tersebut mampu mendorong mereka agar berani bersaing di pasar internasional.
“Berbagai peluang kini bisa kita dapatkan dari mana saja, khususnya peluang karier. Jika suatu saat kita menemui peluang karier skala internasional yang menarik, coba saja! Kuncinya hanya kerja keras dan berdoa. Apalagi kalau peluang itu menyangkut hal-hal yang kita gemari, pasti tanpa sadar kita selalu mengupayakan yang terbaik untuk mencapai itu semua,” tutupnya menyemangati.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Teropong Jagat
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








