Babak Baru di Polandia
Modal Nekat Masuk Kelas Internasional UMS

Pagi baru saja dimulai di Kota Katowice, Polandia Selatan. Di sebuah apartemen sederhana, Amnaduny Akhara Nurhasan menyalakan laptopnya. Tak lama kemudian, layar dipenuhi baris-baris kode program yang harus ia selesaikan sebagai software engineer di Rockwell Automation, perusahaan penyedia layanan otomasi industri dan transformasi digital asal Amerika Serikat. 

Seusai bekerja, Amna, panggilan akrabnya, lanjut menggarap riset doktoralnya tentang analisis pergerakan mata untuk mendeteksi gangguan neurologis hingga menjelang malam tiba. Rutinitas seperti ini terasa begitu jauh dari kehidupannya belasan tahun silam.

Alumni Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu menghabiskan masa kecilnya sebagai anak yang gemar bermain PlayStation, gim online, dan mengutak-atik komputer.

Ia sama sekali tak membayangkan suatu hari akan tinggal ribuan kilometer dari tempat tinggalnya di Kartasura. Kini bekerja di perusahaan global, sekaligus menempuh studi magister dan doktoral dengan beasiswa penuh.

“Kalau dipikir sekarang memang nggak pernah kebayang, sih!” ujarnya awal Agustus, sembari terkekeh mengingat perjalanan panjang yang membawanya ke Polandia.

Babak Baru di Polandia

Karier Amna mulai menemukan ritme ketika sebuah pesan singkat dari seorang teman datang dan mengubah arah hidupnya. Temannya mengajaknya mendaftar beasiswa studi magister dari Pemerintah Polandia. 

“Saya daftar tiga jam sebelum penutupan. Dokumennya benar-benar seadanya,” kenangnya.

Amna bahkan belum memiliki sertifikat IELTS saat itu. Sebagai gantinya, ia bisa menggunakan surat keterangan dari UMS yang menyatakan bahwa selama menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Elektro Internasional, bahasa pengantar yang digunakan ialah bahasa Inggris. Berbekal dokumen tersebut, ia nekat mengirim seluruh berkas pendaftaran.

Beberapa pekan kemudian, pengumuman yang dinantikannya akhirnya keluar. Dari sekitar 300 hingga 400 pendaftar asal Indonesia, hanya 14 orang yang dinyatakan lolos. Nama Amna termasuk di antaranya.

Polandia menjadi babak baru dalam perjalanan hidup Amna. Ia menempuh studi Master of Science in Data Science di Silesian University of Technology. Ketertarikannya pada computer vision yang telah tumbuh sejak mengerjakan skripsi di UMS semakin berkembang ketika ia mendalami machine learning, akal imitasi (AI), hingga analisis data.

Saat masih menempuh studi magister, Amna terpilih mengikuti program Erasmus+ Student Exchange di Universidad Carlos III de Madrid, Spanyol. 

“Waktu S2 saya juga cari kesempatan magang. Akhirnya keterima di Rockwell Automation,” ujar Amna. Magang yang semula hanya diniatkan untuk menambah pengalaman justru berujung tawaran bekerja. Rockwell Automation Polandia kemudian merekrut Amna sebagai software engineer penuh waktu. 

Amnaduny Akhara Nurhasan (kiri) bersama rekan-rekan di Rockwell Automation, Polandia. Dok.Pribadi

Ritme itu terus berlanjut hingga ia menuntaskan studi magister. Pada Oktober 2024, Amna kembali ke almamaternya menjadi mahasiswa doktoral Applied Informatics di Silesian University of Technology.

“Mahasiswa yang diterima pada program doktor secara otomatis memperoleh pendanaan penuh dari Pemerintah Polandia. Menerima beasiswa sekitar 3.500 zloty, atau setara Rp20 juta per bulan buat mendukung biaya hidup sekaligus riset yang dijalankan,” beber Amna.

Kini Amna masih bekerja penuh waktu di Rockwell Automation. Bertugas mengembangkan berbagai perangkat lunak yang membantu proses pelatihan teknis bagi karyawan maupun klien perusahaan di berbagai negara, termasuk perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan teknologi Rockwell Automation.

“Alhamdulillah, setiap bulan dapat gaji di range 10.000-12.500 zloty,” ucapnya penuh syukur.

Modal Nekat Masuk Kelas Internasional UMS

Siapa sangka, semua pencapaian Amna sekarang bermula dari sebuah keputusan-keputusan kecil yang berani diambilnya. Tahun 2015, Amna memutuskan kuliah di Program Studi Teknik Elektro kelas internasional UMS. 

“Nekat saja masuk kelas internasional. Padahal, bahasa Inggris saya waktu itu terbilang nggak karuan,” kelakarnya.

Alih-alih minder, Amna memilih mengejar ketertinggalan. Ia tinggal di Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS agar lebih sering berinteraksi dengan mahasiswa asing. Sedikit demi sedikit rasa percaya dirinya tumbuh.

Selama kuliah, waktunya nyaris tak pernah kosong. Lantaran Amna dipercaya menjadi Ketua AEROBO, komunitas robotika udara UMS, mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia, aktif di organisasi mahasiswa Muhammadiyah University English Course (MUEC), hingga mengajar Praktikum Pemrograman dan Elektronika sebagai asisten laboratorium.

Ketertarikannya terhadap drone bahkan membawa Amna meneliti sistem pendaratan pesawat tanpa awak menggunakan GPS dan computer vision. Penelitian itu kemudian dipublikasikan ke jurnal internasional.

Merasa belum puas dengan pengalaman yang diperoleh, Amna mulai berambisi merasakan atmosfer belajar ke luar negeri. Baginya, embel-embel “kelas internasional” belum lengkap jika dirinya belum pernah memiliki pengalaman studi ke luar negeri. 

“Bagi saya, embel-embel kelas internasional kok belum lengkap kalau saya belum pernah punya pengalaman belajar di luar negeri,” ujarnya.

Sayangnya, kesempatan pertama tak berjalan mulus. Di semester 5, Amna sudah hampir berangkat ke Wuxi Institute of Technology, Tiongkok. Seluruh persiapan telah rampung, tetapi keberangkatannya kandas akibat persoalan administrasi.

Amna terus menggali peluang lainnya dengan mendatangi International Office UMS hingga bertanya kepada teman-temannya. Pucuk dicinta peluang pun tiba, Amna akhirnya memperoleh kesempatan mengikuti pertukaran pelajar ke Universiti Tun Hussein Onn Malaysia pada semester 7.

Sepulang dari Malaysia, Amna lanjut mengikuti program magang di PT PLN (Persero) sebagai asisten supervisor di salah satu gardu induk. Kemudian melanjutkan magang di Formulatrix Indonesia pada divisi Research and Development Production. 

“Di perusahaan robotika itu (Formulatrix Indonesia), saya terlibat dalam pengembangan Automatic CNC Machine PCB Inspection berbasis image processing. Pengalaman pertama mengenal penerapan computer vision di dunia industri,” jelas Amna. 

Ketika disinggung mengenai apa kunci dari semua perjalanan hidupnya, jawaban Amna ternyata sederhana. “Yang pertama itu niat. Setelah itu siapkan bahasa dan mental. Pokoknya, jangan takut buat mencoba sesuatu, sih,” jawabnya.

Barangkali benar. Sebab jika dulu Amna memilih mengurungkan niat mendaftar beasiswa hanya karena waktu tersisa tiga jam, mungkin rutinitas di Katowice hari ini tak pernah menjadi bagian dari hidupnya.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Ingin berkarier seperti Amna?

Kiprah

image-featured
30 Juli 2026

Muhamad Wildan Fadhila terbang ke Qatar untuk menjadi teknisi kelistrikan kapal milik Milaha. Merawat instalasi kelistrikan kapal, sekaligus membuka eksposur global.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
27 Juli 2026

Prof. Andri Nirwana, S.TH., M.Ag., Ph.D. merintis Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir sebagai langkah awal memperkuat kajian Al-Qur'an di Muhammadiyah.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
6 Juli 2026

Kegagalan demi kegagalan berkompetisi karya ilmiah tak membuat Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad berhenti menulis. Justru berbuah konten edukasi yang menginspirasi ribuan pengikutnya di Instagram.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.