Masalah Lingkungan dan Kesehatan
Tentang Degsalture
Terserap Pasar

Masalah Lingkungan dan Kesehatan

Detergen adalah salah satu produk rumah tangga paling sering digunakan. Hampir setiap hari, jutaan liter air sabun mengalir dari bak cucian, masuk ke selokan, sungai, lalu bermuara ke laut. 

Di balik busa yang tampak sepele, limbah detergen mengandung zat kimia yang sulit terurai. Akibatnya terjadi penurunan keanekaragaman biota air, limbah detergen yang meresap ke dalam tanah pun mencemari sumber air. 

Dari aspek kesehatan, detergen pasaran yang banyak mengandung SLS (sodium lauryl sulfate) atau bahan pembersih sintetis yang dikenal menghasilkan busa berlebih namun meninggalkan residu berbahaya. Pengguna yang memiliki kulit sensitif biasanya akan merasakan efek panas karena kandungan SLS pada detergen, bahkan sampai memicu iritasi kulit.

Kekhawatiran inilah yang menggerakkan lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk menghadirkan solusi. Mereka menamakan inovasi itu Degsalture, detergen ramah lingkungan berbentuk stik yang dikemas dengan edible film berbahan pati singkong.

Ketua tim, Yulia Fitriyani, gagasan Degsalture lahir dari keresahan sederhana, yakni limbah detergen yang makin menumpuk, terutama dari usaha laundry. “Sering lihat selokan penuh busa dari laundry. Kalau kesapu hujan bisa masuk ke sungai. Padahal itu bahan kimianya berat,” tutur mahasiswa Pendidikan Biologi UMS itu, Jumat (12/12/2025).

Keresahan itu juga dirasakan oleh rekan-rekan timnya, yakni Intan Mega Puspita (Pendidikan Biologi), Raisya Najwatu Zahra (Pendidikan Biologi), Hilda Putri Aulia (Teknik Kimia), Agviolisa Kusuma Wardhani (Farmasi). Mereka melihat kebutuhan besar akan detergen yang tidak hanya efektif membersihkan, melainkan juga aman bagi lingkungan dan kulit.

Yulia Fitriyani (kedua kiri) bersama tim dan dosen pembimbing, Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si. Dok.Pribadi

Akhirnya Yulia dan tim sepakat membuat detergen tanpa SLS, pemutih, dan fosfat. Lantaran senyawa kimia tersebut menimbulkan banyak permasalahan bagi lingkungan dan kesehatan.

Dalam proposal tim disebutkan, kondisi demikian membuat penggunaan detergen menjadi salah satu sumber pencemar domestik terbesar di Indonesia. Di daerah perkotaan, limbah rumah tangga termasuk detergen menyumbang proporsi signifikan dalam penurunan kualitas sungai, terutama di wilayah dengan kepadatan laundry rumahan yang tinggi.

Tentang Degsalture

Degsalture hadir dengan mengandalkan dua bahan utama dari alam, yaitu daun jambu biji. Yulia menjelaskan, daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai senyawa aktif seperti alkaloid, fenolik, steroid, flavonoid, terpenoid, kuinon, tanin, dan saponin yang membantu proses pembersihan pakaian tanpa merusak perairan.

Hal serupa juga ditemukan pada daun sage (Salvia officinalis L.). Tim mengacu pada penelitian Alhasyimi (2016), daun sage mengandung vitamin A, C, dan E, flavonoid, saponin, zink, serta beragam senyawa aktif yang berfungsi sebagai antioksidan, antibakteri, antijamur, antiinflamasi, antiviral, hingga antialergi. 

“Kombinasi kedua daun ini membuat Degsalture memiliki daya bersih yang cukup optimal tanpa merusak lingkungan dan tetap aman bagi kulit sensitif maupun lingkungan,” kata Yulia.

Produk Degsalture buatan Yulia dan tim yang berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2025. Humas UMS/Imam Safii

Kedua bahan tersebut dikombinasi dengan enzim protease agar efektif mengangkat noda berbasis protein, seperti keringat dan bekas makanan. “Kami ingin tetap memprioritaskan fungsi detergen tanpa meninggalkan aspek ekologis,” jelas Yulia.

Proses penelitian tidak berlangsung semalam. Gagasan ini mulai dikembangkan sejak Yulia mengikuti kompetisi esai ilmiah di Universitas Negeri Surabaya pada 2024, sebelum ia memutuskan mengusung dan mengajukan proposal ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dinakhodai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) pada 2025.

Tahap awal riset dilakukan melalui serangkaian uji laboratorium, mulai dari uji pH, uji organoleptik, hingga uji kadar air di Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Kota Surakarta. Tujuannya untuk memastikan detergen tetap stabil, aman digunakan, dan tidak kehilangan daya bersihnya. 

“Alhamdulillah, hasilnya sesuai ekspektasi. Tidak ada kendala besar. Untuk itu kami ajukan ke PKM 2025 dan lolos pendanaan,” sambung mahasiswa semester 5 itu.

Dibantu dosen pembimbing, Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si., Yulia dan tim menyempurnakan formula hingga siap dipasarkan. Mereka pun memastikan Degsalture tetap stabil sebelum diproduksi dalam jumlah lebih besar, serta menyesuaikan metode produksi agar produk layak masuk tahap komersialisasi awal.

Selain ramah bagi air, Degsalture pun memperhatikan sisi keberlanjutan kemasan. Dus luarnya dibuat dari kardus biodegradable.

“Kami tidak mau menciptakan solusi untuk satu masalah, tapi menambah masalah lain, berupa plastik,” kata Yulia. Desain kemasan dan logo dibuat mandiri, begitu juga proses branding agar produk mudah dikenali konsumen.

Terserap Pasar

Batch pertama Degsalture berjumlah 50 kemasan. Penjualan dilakukan melalui media sosial, Shopee, Tokopedia, hingga TikTok Shop. Harga satu kemasan Degsalture berisi 10 stik dibandrol Rp23 ribu.

“Tantangan kami sekarang adalah edukasi. Banyak yang memilih detergen murah tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan kulit. Detergen SLS yang dijual dipasaran itu kan murah-murah sekali, dan kami juga harus bersaing diharga,” resah Yulia.

Kini, Degsalture memasuki fase pengembangan lanjutan. Yulia dan tim sedang merancang versi detergen cair untuk memperdalam riset dan melihat potensi formulasi yang lebih fleksibel.

Selain itu, mereka berniat mengikuti kompetisi internasional terkait inovasi lingkungan dengan berkolaborasi bersama petani jambu biji dan sage agar rantai pasok bahan lebih berkelanjutan. Tim juga telah mulai mengurus Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk poster Degsalture, sebagai langkah awal perlindungan kekayaan intelektual sebelum melangkah ke tahap produksi lebih besar. 

Degsalture sendiri sudah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem Online Single Submission (OSS). “Harapannya ke depan Degsalture bisa masuk pasar yang lebih luas,” harapnya.

Detergen mungkin terlihat sebagai kebutuhan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Namun, limbah yang dihasilkannya dapat menjadi masalah besar bagi ekosistem air bila tidak dikelola.

Degsalture menjadi wujud kecil dari semangat Yulia dan tim untuk menghadirkan perubahan, bahwa membersihkan pakaian tak harus mencemari lingkungan juga mengabaikan kesehatan kulit. “Kami ingin masyarakat sadar bahwa kebiasaan mencuci yang baik bukan hanya soal pakaian bersih, tetapi juga tidak mengabaikan keberlangsungan bumi,” pungkas dia.


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Teropong Jagat

image-featured
13 Juni 2026

Begadang jadi hobi mayoritas orang Indonesia. Penggunaan gawai diduga menjadi biang keladinya. Apa dampak begadang bagi tubuh manusia?

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
8 Juni 2026

Keberadaan kaum homoseksual di ruang publik menimbulkan keresahan masyarakat. Menambah risiko penyakit menular, termasuk HIV dan berbagai infeksi menular seksual lainnya.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
3 Juni 2026

Mikroplastik ditemukan di berbagai bentuk ekosistem di sekitar kita. Mulai dari tanah, tubuh organisme, hingga air hujan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.