Ada beragam cara yang jamak dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama luka bakar. Mulai dari mengoleskan salep luka bakar, mengaliri luka bakar dengan air mengalir, hingga menggunakan pasta gigi. Meskipun demikian, cara-cara itu ternyata kurang tepat. Alih-alih menyembuhkan luka bakar, penanganan luka bakar yang sembrono malah membuat luka bakar tidak kunjung membaik dan berujung infeksi.
Berkaca pada kenyataan itu, Tim Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan alternatif pertolongan pertama luka bakar dalam bentuk sediaan plester hidrokoloid berbahan tanaman St. John’s Wort. Inovasi ini tak hanya membantu pertolongan pertama luka bakar, tetapi juga berhasil membawa mereka meraih medali emas dalam ajang kompetisi internasional bergengsi.
Setelah melalui serangkaian penelitian, inovasi plester hidrokoloid untuk luka bakar itu kemudian dilombakan dalam ajang International Science and Invention Fair 2023 di Universitas Udayana, Bali. Dalam kompetisi yang digelar tanggal 7-11 November 2023 itu, Tim FKG UMS, yang beranggotakan Dhiya’ Nada Putri (Pendidikan Dokter Gigi 2020), Nada Utari Rusmanda (Pendidikan Dokter Gigi 2021), Alya Aqila Majid dan Amara Syifa Tifani (Profesi Dokter Gigi) itu, berhasil menjadi kampiun untuk kategori life science dengan topik utama luka bakar.
International Science and Invention Fair (ISIF 2023) merupakan kompetisi yang digelar di bawah naungan Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Kompetisi ini menjadi wadah untuk membina inventor muda yang berbakat, inovatif, dan kreatif. ISIF 2023 diikuti oleh 819 tim dari 32 negara seperti Indonesia, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Maroko, Turki, hingga Vietnam.

Berawal dari PKM
Dhiya’ Nada Putri menceritakan awal mula pembuatan plester luka bakar berbahan tanaman St. John’s Wort itu. Ide cemerlang itu berawal saat Dhiya’ mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2023. Dalam PKM itu, Dhiya’ menceritakan tema yang diangkat saat itu adalah pemanfaatan minyak tanaman St. John’s Wort untuk penyakit ulkus di rongga mulut.
“Tema yang diangkat saat itu tentang minyak tanaman St. John’s Wort yang diaplikasikan pada penyakit ulkus di rongga mulut. Objek penelitiannya pada waktu itu menggunakan tikus diabetes,” tutur Dhiya’ dalam wawancara, Jumat (1/12).
Seiring berjalannya waktu, Dhiya’ kemudian membentuk tim untuk menciptakan inovasi pembuatan plester luka bakar berbahan tanaman St. John’s Wort agar dapat diikutkan dalam ISIF 2023. Dhiya’ menyandarkan idenya ini pada riset mengenai pemanfaatan tanaman St. John’s Wort yang sudah ada sebelumnya. Akan tetapi, lanjut Dhiya’, riset tersebut belum dibuat dalam bentuk sediaan plester luka bakar, sehingga menurutnya, celah ini menjadi potensi untuk dikembangkan.
“Saya kebetulan pernah membaca tentang uji coba tanaman ini pada orang yang dicabut giginya. Dalam riset itu, orang yang menggunakan tanaman St. John’s Wort mengalami penyembuhan perdarahan yang lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Makanya saya coba kombinasikan untuk ulkus yang kemudian digunakan juga untuk luka bakar,” sambung dia.
Kenapa St. John’s Wort?

Pemilihan tanaman St. John’s Wort bukan tanpa alasan. Tanaman St. John’s Wort (Hypericum perforatum) merupakan tanaman dari keluarga Hypericaceae. Tanaman ini umumnya dijumpai di kawasan Eurasia dan Afrika Utara. Alya Aqila Majid, salah satu anggota tim menuturkan, salah satu negara yang menjadi tempat tumbuhnya tanaman ini adalah Turki.
Tak hanya itu, Alya juga memaparkan tanaman St. John’s Wort mengandung sejumlah senyawa yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Sehingga, menurut Alya, tanaman ini sangat cocok digunakan sebagai pertolongan pertama luka bakar.
“St. John’s Wort itu mengandung senyawa hyperforin yang dapat membantu proses penyembuhan luka dengan cara menginisiasi proses proliferasi (pembentukan sel-sel baru). Jadi lukanya akan cepat sembuh,” terang Alya.
Tanaman St. John’s Wort di Indonesia sendiri masih asing di telinga sebagian besar kalangan. Penelitian tanaman ini, tutur Dhiya’, masih terbatas dan sumber literatur mengenai penelitian tanaman ini masih berasal dari luar negeri. Meskipun demikian, Dhiya’ menjelaskan Pemerintah Indonesia sendiri telah menjadikan tanaman St. John’s Wort sebagai tanaman obat-obatan herbal alternatif.
“Tanaman St. John’s Wort di indonesia itu mulai dikembangkan. Tercantum dalam Permenkes Nomor 88 Tahun 2013. Indonesia sedang mengembangkan fitofarmaka baru untuk mengurangi impor bahan obat-obatan. Nah, salah satunya tanaman St. John’s Wort yang merupakan 10 tanaman global di dunia yang tingkat penjualannya tinggi,” sambung Dhiya’.
Sediaan Plester Hidrokoloid

Cara mengobati luka bakar yang paling umum digunakan di masyarakat adalah pemberian salep luka bakar. Akan tetapi, menurut para medalis, pemberian salep oles tersebut kurang efektif. Hal ini dikarenakan salep luka bakar akan mudah hilang karena bisa menempel pada baju atau hilang terkena air.
“Sebenarnya, produk konvensional sediaan luka bakar itu sudah ada seperti krim oles atau salep untuk pertolongan pertama luka bakar. Padahal luka bakar itu harus dalam keadaan steril, nggak bisa kena air dan udara terbuka,” jelas Alya.
Melihat kondisi itu, plester hidrokoloid menjadi alternatif yang aman dalam perawatan luka bakar. Meskipun sama-sama mengusung konsep plester luka, fungsi plester hidrokoloid sedikit berbeda bila dibandingkan dengan fungsi plester putih untuk luka.
“Plester yang kami buat itu berbeda dengan yang ada dipasaran. Kami mengkombinasikan dengan hidrokoloid. Kalau yang ada di pasaran itu kan berbahan kain,” kata Dhiya’ menerangkan.
Plester hidrokoloid untuk luka bakar yang dikembangkan Dhiya’ dan timnya mempunyai beberapa keunggulan yakni tahan air, kandungan St. John’s Wort lebih menyerap ke kulit, dan luka bakar menjadi steril.
“Kalau yang ada di pasaran itu kan berbahan kain. Kalau kena air dia akan basah atau lembab. Padahal kalau luka yang terkena basah atau lembab akan berpotensi menimbulkan infeksi. Nah, kami coba kombinasikan dengan plester hidrokoloid jadi kalau kena air, airnya tidak akan masuk ke dalam luka,” tambah Dhiya’.
Plester luka bakar yang dikembangkan Tim Mahasiswa FKG UMS itu mengandung povidone, sejenis antiseptik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. Selain itu, Dhiya’ memaparkan minyak tanaman St. John’s Wort juga diberi campuran minyak zaitun yang membantu mengaktifkan zat-zat yang ada di dalamnya.
“Kami membutuhkan pelarut. Dari semua minyak, minyak zaitun lah yang stabil. Minyak zaitun membuat kandungan hypericin dan hypericum dalam tanaman St. John’s Wort bisa reaktif. Minyak zaitun juga stabil di kulit dan tidak menimbulkan iritasi,” lanjut dia.
Sembuh Lebih Cepat

Proses riset yang memakan waktu satu bulan itu berhasil membuktikan khasiat tanaman St. John’s Wort untuk mempercepat proses penyembuhan luka bakar. Alya mengungkapkan uji coba tersebut dilakukan pada tikus galur wistar.
“Kemarin kita mencoba dengan tikus galur wistar. Bulunya kita cukur dulu lalu membuat perlukaan dengan menempelkan besi panas pada masing-masing tikus. Lalu kami aplikasikan produk ini,” ungkap Alya.

Dari proses uji coba tersebut, kandungan minyak tanaman St. John’s Wort ternyata manjur untuk mengeringkan luka. Temuan ini mulai muncul pada pengamatan hari ketujuh. Luka bakar pada tikus yang diolesi minyak tanaman St. John’s Wort lebih cepat mengering dibandingkan tikus yang tidak diolesi minyak.
Meskipun demikian, Alya menjelaskan penggunaan minyak tanaman St. John’s Wort hanya terbatas pada luka bakar derajat satu dan dua. Hal ini dikarenakan luka bakar derajat tersebut masih dapat disembuhkan secara mandiri.
“Kami berfokus pada luka bakar derajat satu dan derajat dua. Karena luka bakar derajat tiga itu sudah dalam (lukanya) sehingga membutuhkan pertolongan medis yang lebih profesional,” imbuh Alya.
Rencana ke Depan
Disinggung mengenai rencana ke depan, Dhiya’ dan Alya mengatakan perlu adanya riset lanjutan untuk menguji kualitas fisik plester luka bakar hidrokoloid itu. Tetapi Dhiya’ tidak menampik jika temuannya itu sebenarnya telah siap edar.
“Sebenarnya untuk dikomersilkan itu sudah bisa karena sudah ada riset yang bisa kita buktikan. Hanya saja mungkin kita akan menguji sifat fisiknya. Seperti pH atau jika kena air apakah plesternya akan mengembang atau tidak,” ungkap Dhiya’ optimis.
Selain riset lanjutan, Dhiya’ dan Alya mengatakan akan segera mengurus hak paten atas temuannya itu. Dhiya’ menuturkan hak paten sangat penting karena di Indonesia baru Tim Mahasiswa FKG UMS yang menemukan sediaan plester luka bakar berbahan aktif St. John’s Wort.
“Karena orang-orang sama sekali belum tahu tanaman St. John’s Wort, jadi mungkin kalau kita tidak segera mematenkan, takutnya idenya akan diambil orang,” tegas Dhiya’
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







