Tampil perdana di ajang Perlis International Engineering Invention & Innovation Exhibition (Pi-ENVEX) 2024 yang diselenggarakan di Malaysia, mahasiswa dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil menyabet medali perak dengan inovasi mereka yang bertajuk “ECAPA-POLYBAG: A Natural Polybag Innovation Biodegradable and Nourish Plants”. Mereka adalah Alya Tsurrayya, Aulya Rahma Santi, Sa’adah Luthfia Fatimah, Ilma Khoirunissa, dan Aisyah Nur Afifah.

Pi-ENVEX sendiri merupakan ajang internasional yang diselenggarakan oleh ENVEX Young Researcher Club (EYReC), Universiti Malaysia Perlis (UniMAP). Kompetisi ini memberikan kesempatan kepada para inovator atau ilmuwan muda untuk berbagi ide kreatif tentang penemuan dan kemajuan teknologi di berbagai sektor.
Tentang Inovasi
Dalam cerita Alya, ide polybag ramah lingkungan yang timnya kembangkan berangkat dari keresahan mereka tentang polybag tanaman yang umumnya dijual di pasaran berbahan dasar plastik. Penggunaan polybag plastik yang terlalu banyak dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah. Padahal, sampah plastik dapat menyebabkan terjadinya pencemaran tanah, karena kandungan partikel dan sifatnya yang sukar terurai.
“Biasanya kalau mau menanam, polybag harus disobek dahulu ketika tanaman mulai tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar, padahal dengan tindakan seperti itu kita jadi sering meninggalkan sampah yang tidak dapat terdegradasi,” terang Alya saat bertemu dengan kami via Zoom Meeting, Selasa (30/4).
Alya dan timnya yang baru menginjak semester 2 itu lantas berinovasi untuk mengembangkan polybag ramah lingkungan. Mereka menyadari bahwa sampah organik yang sebenarnya merupakan sumber daya berharga, sering kali diabaikan dan tak dimanfaatkan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, sampah organik mudah didapatkan dan tersedia secara gratis.
Terlebih, mereka menyadari paradoks bahwa sayuran sehat yang kita konsumsi sering kali dihasilkan melalui proses pertanian yang merusak lingkungan. Alasan jamak inilah yang akhirnya mendorong mereka untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan dalam budidaya tanaman.

“ECAPA-POLYBAG ini merupakan hasil dari pemanfaatan sampah organik seperti sabut kelapa, cangkang telur, jerami, dan enceng gondok dengan tambahan tepung tapioka. Kita berlima mengusut lebih dalam terkait manfaat masing-masing bahan tersebut, dan dapat disimpulkan bahwa sabut kelapa membantu menjaga daya tahan tanaman terhadap jamur, menggemburkan, dan dinilai memiliki daya serap yang tinggi; cangkang telur membantu meningkatkan drainase tanah; jerami membantu meningkatkan serapan nitrogen sesuai dengan ketersediaannya di dalam tanah; enceng gondok mampu meningkatkan kesuburan tanah dan kandungan selulosa yang ada pada enceng gondok akan mudah dimakan bakteri, sehingga proses penguraiannya semakin cepat; terakhir, tepung tapioka membantu pertumbuhan pada tanaman yang masih kecil atau baru mengeluarkan tunas,” imbuhnya penuh teliti.
Melalui Serangkaian Uji
Sebelum mencapai tahap pengembangan produk secara nyata, mahasiswa Kesehatan Masyarakat itu telah melewati serangkaian seleksi ketat tingkat universitas dan proses penelitian yang memakan waktu sekitar 3-4 bulan. Tahapan tersebut mencakup studi literatur yang mendalam untuk memahami kondisi dan masalah yang ada, analisis bahan baku potensial, serta uji coba dan eksperimen untuk mengidentifikasi kinerja dan manfaat masing-masing bahan, yang di antaranya:
- Visible properties test dilakukan untuk memeriksa apakah ECAPA-POLYBAG memiliki tampilan yang menarik dan konsistensi yang baik.
- Density test (size/cm) diukur untuk memastikan ukuran dan ketebalan polybag yang sesuai dengan standar yang diinginkan.
- Water absorption test digunakan untuk menentukan seberapa baik polybag dapat menahan air tanah dan kelembaban.
- pH test dilakukan untuk memastikan bahwa lingkungan tumbuh tanaman tetap optimal.
- Decomposition test (week) dilakukan untuk mengukur seberapa cepat polybag dapat terurai secara alami setelah digunakan, sehingga tidak meninggalkan residu yang merusak lingkungan.
- Grow rate test (cm/week) dilakukan untuk memantau seberapa efektif ECAPA-POLYBAG dalam mendukung pertumbuhan tanaman, yang diukur dengan tingkat pertumbuhan tanaman yang diamati dari waktu ke waktu.
“Karena waktu yang terbatas, kami memilih bibit sawi saat melakukan grow rate test. Sawi sendiri merupakan sayuran yang mudah ditanam di polybag, pertumbuhan dan perkembangannya tergolong cepat. Selama proses penelitian pun kami dibimbing dan dipantau oleh Ibu Rezania Asyfiradayati, SKM, M.P.H.. Beliau sangat aktif memberikan arahan serta dukungan penuh kepada tim,” kata Alya.
Melalui beragam proses panjang pengujian, para mahasiswa Kesehatan Masyarakat itu tak hanya terlibat pada angka-angka dan data, tetapi juga tantangan untuk berpikir kreatif dan solutif dalam mengatasi setiap masalah yang muncul. Misalnya, saat menghadapi decomposition test, mereka harus mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses degradasi material, termasuk kondisi lingkungan kala polybag ditempatkan dan kandungan bahan organik di sekitarnya.
Rencana Tindak Lanjut
Dengan kejuaraan pertama yang langsung melenggang di kancah internasional, langkah selanjutnya bagi Alya dan tim adalah mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi serupa yang akan dihelat di Bali pada bulan Agustus mendatang. Mereka berkomitmen untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan yang terdapat pada produk ECAPA-POLYBAG yang telah mereka kembangkan.
“Evaluasi mendalam sangat diperlukan agar dapat memahami potensi keberhasilan pada next event. Sebagai bagian dari rencana tindak lanjut, kami akan pecah menjadi dua tim. Tim pertama bertanggung jawab untuk mengembangkan produk baru, sementara tim kedua akan fokus pada penyempurnaan ECAPA-POLYBAG yang sudah ada.”
Tentunya, medali emas menjadi target utama tim. Namun bagi mereka, kemenangan yang hakiki tak hanya terukur dari kepingan logam yang dikalungkan di atas podium. Yang utama adalah pengalaman untuk berani melangkah, memberikan yang terbaik dari diri mereka, dan mewujudkan visi.
“Semoga saja, prestasi yang kami raih bisa menginspirasi mahasiswa lainnya. Mengingat kami memulainya juga dari kompetisi tingkat universitas. Yang terpenting mau mencoba dan fokus pada tujuan. Selanjutnya kita bisa menggandeng dosen yang kompeten di UMS, karena sebaik-baik inovasi adalah yang sudah melewati bimbingan dan evaluasi dari ahlinya,” pesan Alya mengakhiri.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








