Hama tikus masih merajalela hampir di setiap patok sawah milik para petani Indonesia. Tikus menjadi salah satu penyebab kegagalan panen, sebab hewan pengerat itu menyerang seluruh fase pertumbuhan tanaman padi bahkan pada fase penyimpanan.
Masifnya serangan tikus terjadi kala petani memasuki musim tanam. Tanaman padi yang telah dirusak biasanya tumbuh tak optimal dan sebagian tangkainya akan hilang. Sementara itu, inovasi di bidang pertanian masih sangat minim terutama dalam pemanfaatan teknologi. Mayoritas petani Indonesia masih mengandalkan alat-alat konvensional yang kurang efektif dan nihil hasil.
Berangkat dari keresahan yang kerap mengusik ketenangan petani itu, dua mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik (FT), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil mengembangkan terobosan baru, yakni sebuah alat pembasmi tikus yang ramah lingkungan. Mereka adalah Muhammad Rizki Abid Pratama dan Amirul Chanifah.

Ketekunan Amirul dan Rizki dalam berinovasi membawa keduanya menyabet medali emas dan special award di ajang National Education Competition (NEC) 2023, Sabtu (11/11). Mereka juga menggandeng dosen muda dari Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Hardika Dwi Hermawan, S.Pd., M.Sc. sebagai pembimbing lantaran beliau memiliki latar belakang yang mumpuni dalam dunia teknologi dan inovasi.
Sementara itu, National Education Competition sendiri adalah lomba kepenulisan esai tingkat nasional yang dihelat oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Perlombaan ini mengacu pada ide dan gagasan kreatif mahasiswa yang dikembangkan berdasarkan pola pikir ilmiah, informasi kekinian yang reliabel, dan mengandung permasalahan beserta solusinya.
Sekilas Inovasi
Kedua mahasiswa Teknik Kimia tersebut memiliki ketertarikan atas isu-isu yang sedang terjadi di sekitar lingkungan mereka, khususnya di bidang pertanian. Ketertarikan keduanya terfokus pada cara meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Indonesia mempunyai letak yang strategis dalam rangka peningkatan kualitas perindustrian, hal ini karena mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama. Seiring dengan hal tersebut, tantangan dalam menjaga hasil pertanian dari serangan hama tikus menjadi semakin mendesak. Akhirnya kami sepakat bahwa pemanfaatan teknologi menjadi solusi paling efektif untuk mengatasi serangan hama tikus. Alat yang kami buat menggunakan prinsip teknologi panel surya yang dimodifikasi menjadi alternatif pembasmi tikus yang ramah lingkungan karena mengandalkan gelombang ultrasonik,” ungkap ketua tim yang akrab disapa Amirul, Selasa (21/11).
Gelombang ultrasonik yang dihasilkan oleh alat tersebut dapat mengusir tikus tanpa merugikan atau menyebabkan stres berlebihan pada hewan lainnya di sekitar persawahan. Inovasi ini, lanjutnya, dilengkapi dengan alat pengukur pH tanah sehingga mampu memudahkan petani dalam mengatur penambahan pupuk terhadap lahan pertanian. Ke depannya, Amirul dan Rizki akan bekerja sama dengan Desamind Indonesia Foundation untuk membantu para petani secara luas.
“Inovasi ini bisa diproduksi dan dirancang dengan harga yang relatif murah agar dapat dijangkau sebanyak mungkin petani di Indonesia. Kami paham betul tantangan ekonomi yang dihadapi oleh para petani, terutama mereka yang beroperasi dalam skala kecil,” imbuhnya.
Menyokong Gerakan SDGs
Selama ini masyarakat sangat akrab dengan merek-merek pembasmi tikus yang tidak ramah lingkungan. Ironisnya, intensitas penggunaan merek-merek yang merugikan ekosistem dan kesehatan manusia tersebut tak kunjung mereda.
“Kita seharusnya segera beralih ke alternatif-alternatif yang lebih ramah lingkungan. Inovasi yang kami kembangkan merupakan perwujudan dari beberapa gerakan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya: Zero Hunger; Good Health and Well-being, Affordable and Clean Energy; Industry, Innovation, and Infrastructure,” jelas Amirul.
Mereka berkomitmen untuk terus mendukung pertanian berkelanjutan dengan melakukan penguatan produksi domestik tanaman prioritas seperti padi. Tindakan itu lantas menjadi bukti bahwa inovasi yang diusung sesuai dengan salah satu tujuan SDGs, yaitu Zero Hunger.
Dengan terciptanya inovasi pembasmi tikus ramah lingkungan, mahasiswa Teknik Kimia itu ingin membatasi penggunaan zat-zat kimia yang bahaya bagi ekosistem dan kesehatan para petani (mengacu poin SDGs ke-3, Good Health and Well-being). Berbekal ilmu-ilmu di bangku perkuliahan, mereka mengembangkan alat yang efektif dalam mengendalikan populasi tikus tanpa meninggalkan residu berbahaya.
“Penggunaan sinar matahari sebagai sumber listrik pada komponen alat kami, yakni panel surya menjadi bukti dari penerapan Affordable and Clean Energy. Hal tersebut dapat menekan dan mengurangi konsumsi energi fosil. Sedangkan penerapan Industry, Innovation, and Infrastructure kami buktikan lewat pengembangan teknologi di bidang pertanian ini,” ucapnya.
Amirul dan Rizki menaruh harapan besar untuk pertanian Indonesia. Terlalu seringnya negara melakukan impor beras dari luar negeri menjadi salah satu bukti kemunduran dalam ketahanan pangan negara kita.
“Alat pengusir tikus alami ini akan terus kami kembangkan, dan beberapa waktu terdekat akan direalisasikan pilot project-nya. Karena kami sangat berharap di kesempatan baik berikutnya, inovasi kami bisa masuk ke exhibition nasional hingga internasional,” tutur Rizki penuh harap.
“Kami ingin melihat senyum petani yang berhasil meningkatkan kualitas berasnya sendiri.”
Penulis: Genis Dwi Gustati
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







