Delusi Magis-Mistis
Kedepankan Komunikasi Terapeutik

Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainuddin Surakarta, Jawa Tengah, sudah menjadi rumah kedua bagi Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D. Arum telah akrab dengan dunia keperawatan pasien gangguan jiwa sejak akhir dekade 90-an. 

Guru Besar Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini juga aktif meneliti ilmu keperawatan pasien di RSJD Surakarta. Mulai dari pasien dengan masalah psikososial, hingga gangguan jiwa berat. Salah satu penelitian terbarunya mengeksplorasi waham atau delusi pada pasien skizofrenia.

Skizofrenia adalah gangguan mental berat yang mengganggu pikiran, perasaan, dan perilaku manusia. Penderita kerap kesulitan membedakan antara kenyataan dan khayalan. 

Kementerian Kesehatan memperkirakan penderita skizofrenia di Indonesia mencapai 2,6 juta orang. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menduduki peringkat pertama provinsi dengan prevalensi skizofrenia pada rumah tangga sebesar 9,3 per 1.000 rumah tangga. Disusul Jawa Tengah 6,5 permil dan Sulawesi Barat 5,9 permil rumah tangga.

Gejala skizofrenia paling umum adalah waham atau delusi. Arum banyak menemukan gejala ini pada sejumlah penderita skizofrenia yang ia temui. “Pada umumnya gejala yang menonjol itu waham atau halusinasi,” ujarnya.

Delusi pada pasien skizofrenia terbagi ke dalam beberapa jenis. Mulai dari waham curiga, waham kebesaran, waham persecutory atau penganiayaan, waham agama, waham pikiran magis, hingga waham pengalaman mistis. 

Guru Besar Keperawatan UMS Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D. sewaktu menjalani pengukuhan guru besar di Auditorium Mohammad Djazman UMS, 29 April 2026. Humas UMS/Imam Safii

Delusi Magis-Mistis

Saat memulai penelitian terhadap gejala delusi pada pasien skizofrenia, Arum dihadapkan pada berbagai jenis delusi pada pasien. Ia lalu memfokuskan penelitiannya pada waham magis-mistis. 

Sebanyak 30 pasien menjadi partisipan dalam penelitian bertajuk “Magical Thinking and Mystical Experience: An Exploration of Delusional Disorder in Schizophrenic Patients” ini. Mereka adalah pasien yang terlibat dalam asuhan keperawatan di RSJD Surakarta. Pasien dan keluarganya turut dilibatkan sebagai partisipan dalam penelitian ini.

Dari 30 partisipan itu, terdapat 13 orang memiliki delusi yang kental dengan unsur magis dan mistis. Temuan ini kemudian diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yakni kekuatan magis dan pikiran mistis atau entitas gaib. 

Pada kelompok kekuatan magis, partisipan meyakini bahwa mereka memiliki alat-alat sakti atau kekuatan magis. Misalnya, tongkat ajaib, tubuh yang kebal, kekuatan supernatural, atau kemampuan ilmu hitam. Partisipan percaya keberadaan alat dan kekuatan magis itu membuat mereka merasa ditakuti dan dihormati oleh orang lain.

“Saya bisa menghilang dan muncul lagi di tempat lain. Ya, senang rasanya memiliki kekuatan seperti itu,” ucap Arum, menirukan perkataan salah satu partisipan. 

Sementara pada kelompok pengalaman mistis, partisipan merasa mendapat perlindungan atau pendampingan dari kekuatan gaib yang lebih besar. Beberapa contohnya, antara lain roh harimau, roh leluhur yang kuat, kakek berjubah putih, iblis, hingga merasa didewakan atau terhubung langsung dengan Tuhan.

“Kekuatan saya juga karena saya dijaga oleh dua harimau putih besar di kanan dan kiri saya. Kedua harimau itu selalu melindungi saya dan memberi saya kekuatan. Ya, saya senang dijaga oleh harimau. Tidak ada yang berani bersama saya,” kata partisipan lainnya.

Arum menduga faktor riwayat kehidupan partisipan dapat berpengaruh pada kondisi delusi yang dialami oleh partisipan. “Halusinasi pada pasien tidak muncul secara tiba-tiba tanpa sebab,” katanya.

Terdapat empat faktor pemicu munculnya gangguan jiwa pada 30 pasien partisipan tersebut. Antara lain perceraian sebanyak 11 orang (36,66 persen), kebangkrutan sebanyak 8 orang (26,68 persen), kehilangan pekerjaan sebanyak 7 orang (23,33 persen), hingga tekanan dari atasan di tempat kerja sebanyak 4 orang (13,33 persen). Kegagalan di dunia nyata justru melahirkan perasaan putus asa, harga diri yang rendah, dan merasa tidak berdaya. 

Kondisi ini membuat alam bawah sadar menciptakan fantasi bahwa partisipan adalah sosok yang sangat kuat dan mendapatkan perlindungan dari kekuatan gaib. Ini merupakan bentuk kompensasi atas kelemahan yang dialami partisipan. 

Di sisi lain, riwayat yang berhubungan dengan unsur spiritual dan budaya juga berpengaruh pada kemunculan waham magis-mistis. Pasien yang Arum temui umumnya memiliki riwayat yang terpengaruh oleh konsep kejawen. 

Kepercayaan ini memadukan unsur ketuhanan dengan elemen magis dan mistis. Tradisi ini kemudian termanifestasi dalam bentuk delusi, seperti merasa terhubung dengan dewa, leluhur, harimau putih, atau pusaka gaib. “Riwayat ini memang berhubungan,” tambahnya.

Kedepankan Komunikasi Terapeutik

Melakukan penelitian pada pasien skizofrenia membawa tantangan tersendiri. Dalam beberapa kasus skizofrenia akut, pasien tidak dapat diajak berbicara. “Beberapa hari enggak bisa diajak berbicara,” jelas dia.

Arum lalu memfokuskan penelitiannya pada pasien skizofrenia yang sudah tidak dalam fase akut. Ia juga mengedepankan teknik komunikasi terapeutik kepada setiap pasien. Komunikasi ini dirancang khusus untuk memancing pasien agar dapat mengekspresikan perasaannya. 

Jika pasien sedang dalam fase akut, Arum akan menunggu sekitar dua hingga tujuh hari untuk memastikan pasien dalam kondisi tenang. Tujuannya agar pasien dapat bercerita secara runut dengan kondisi yang lebih stabil. Tak lupa Arum mengajukan surat persetujuan dengan keluarga pasien.

Untuk memulai wawancara dengan pasien pun harus dilakukan secara perlahan. Arum biasa membuka percakapan dengan kalimat sederhana. Seperti “Sudah makan atau belum?” atau “Tadi makannya apa?”. Kuncinya, kata Arum, adalah membuat pasien merasa setara. 

Prinsip utama komunikasi terapeutik adalah memahami kondisi pasien. Hal ini membuat pola komunikasi terapeutik pada pasien gangguan jiwa dapat berbeda satu sama lain. “Prinsipnya adalah mengaplikasikan komunikasi terapeutik yang sesuai dengan gejala gangguan jiwa pada pasien,” terusnya. 

Proses penelitian melibatkan mahasiswa Profesi Ners UMS dan dosen Fakultas Kedokteran UMS, dr. Erna Herawati, Sp.KJ. Arum juga melibatkan para perawat di RSJD Surakarta. 

Selama melakukan wawancara, Arum dan timnya mengedepankan etika dan intervensi peneliti pada pasien. Dalam penelitian profesi keperawatan jiwa, peneliti wajib melakukan observasi partisipatif berkelanjutan. Mulai dari diagnosis keperawatan, memberikan terapi secara holistik, hingga melakukan evaluasi pemulihan.

“Iya, namanya observasi partisipatif. Kita mengobservasi, melakukan tindakan, treatment, sampai mengevaluasi keberhasilannya seperti apa. Makanya untuk penelitian di RSJD harus bersama perawat di sana,” tuturnya.

Arum mengamini gangguan kejiwaan kronis tidak bisa sembuh total. Cara agar kondisi pasien menjadi lebih baik adalah dengan mengendalikan gangguan tersebut agar tidak kambuh. 

Dukungan dari keluarga, lingkungan, dan institusi kesehatan terdekat dengan pasien perlu dilakukan agar terus menjaga kesehatan jiwa pasien. “Pasien harus diperlakukan sebagai manusia pada umumnya, serta dihormati harkat dan martabatnya,” tegasnya. 

Disinggung mengenai rencana ke depan, Arum tengah menyiapkan strategi pembinaan kader posyandu kesehatan jiwa di sejumlah puskesmas di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebab, belum semua puskesmas memiliki posyandu kesehatan jiwa. 

“Maka rencana saya ini mau melatih kader-kader kesehatan jiwa. Kader-kader ini sebagai perpanjangan tangan untuk membina masyarakat agar siap menerima pasien dan keluarganya. Karena stigma itu tidak hanya kepada pasien, pada keluarga juga,” tandasnya. 


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Muhammad Nur Haqqi

Baca artikel penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Teropong Jagat

image-featured
17 Juli 2026

Gaya komunikasi pejabat publik terus menuai sorotan. Berujung blunder dan memicu kekecewaan rakyat.

image-featured
9 Juli 2026

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, “wellness tourism” di Indonesia semakin dilirik sebagai suatu kebutuhan. Diprediksi bernilai miliaran dolar AS.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
7 Juli 2026

Polycystic Ovary Syndrome tak melulu soal siklus haid yang berantakan. Kondisi ini dapat memengaruhi kesuburan dan meningkatkan risiko penyakit metabolik jika tak ditangani dengan baik.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.