Tangan Dr. Ir. Eni Budiyati, S.T., M.Eng. menggenggam kemasan plastik transparan berisi pupuk organik saat ditemui di Program Studi Teknik Kimia, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Eni menunjuk isian kemasan itu seraya berkata, “Ini pupuk dari kotoran domba,” ujarnya pada Kamis (16/7/2026) lalu.
Di ruang kerjanya, terdapat tiga bungkus pupuk organik dari kotoran domba buatannya. Ketua Prodi Teknik Kimia UMS ini mengaku ide pembuatan pupuk organik ini muncul saat melakukan pengabdian masyarakat pada 2023 silam. Ia lalu meneliti kandungan pupuk tersebut untuk memastikan kandungan nutrisi di dalamnya.
Eni menjalin kerja sama dengan peternakan Bamboe Koening Farm di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk memperoleh bahan baku kotoran domba. Cara ini diyakini menjadi solusi untuk mengurangi cemaran limbah kotoran hewan ternak, sekaligus meningkatkan nilai ekonomis barang sisa.
Kotoran domba dipilih karena memiliki tekstur padat dengan bentuk menyerupai biji berukuran kecil. Teksturnya relatif lebih kering dan tidak selembap dan selembek kotoran hewan lain. Menurut Eni, bentuk tersebut akan lebih memudahkan proses pembuatan pupuk organik. Kendati demikian, Eni menyebut, “Semua jenis kotoran hewan ternak bisa jadi pupuk.”

Laporan Badan Pusat Statistik pada 2024 mencatat jumlah domba ternak di Indonesia mencapai 9.034.816 ekor. Satu ekor domba diperkirakan dapat menghasilkan kotoran hingga mencapai 1,8 kilogram per hari. Dengan asumsi menghasilkan kotoran setiap hari, total kotoran yang dihasilkan oleh domba ternak di Indonesia dapat mencapai nyaris 6 juta ton per tahun.
Bila dimanfaatkan dengan baik, kotoran domba dapat diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pasalnya, kandungan nutrisi dalam kotoran domba cukup beragam. Kotoran domba mengandung nitrogen sebanyak 0,7-2,1 persen, fosfor sebanyak 0,4-1,4 persen, dan kalium sebanyak 0,3-2,3 persen.
Mengurai Kotoran Domba dengan Maggot
Berbeda dari pupuk organik pada umumnya, yang dibuat menggunakan fermentasi tetes tebu dan bakteri EM4 atau diurai ke dalam tanah, pupuk buatan Eni memanfaatkan maggot sebagai media pengurai kotoran domba. Maggot adalah larva lalat BSF (black soldier fly). Larva BSF banyak digunakan sebagai media pengurai bahan organik alias dekomposer.
Diketahui, larva BSF memiliki kandungan nitrogen sebesar 2,3 hingga 3,74 persen, karbon organik sebesar 39,08 hingga 47,46 persen, kalium sebesar 5,09 hingga 9,74 persen, fosfor sebesar 1,16 hingga 3,39 persen, dan zat-zat lainnya seperti protein dan lemak.
“Larva BSF akan memakan kotoran hewan tadi. Kemudian setelah dimakan dia akan menghasilkan kotoran juga,” beber Eni. Kotoran yang dihasilkan maggot inilah yang akan digunakan sebagai bahan pupuk organik. Eni pun menamai produknya dengan jenama Pupuk Kodomo. Akronim pupuk kotoran domba media maggot.

Pembuatan Pupuk Kodomo ini dilakukan dengan cara biokonversi larva BSF. mula-mula kotoran domba diangin-anginkan untuk mengurangi kelembapannya. Limbah kotoran ternak Bamboe Koening Farm kemudian difermentasi menggunakan EM4 kurang lebih satu sampai dua pekan.
Eni kemudian menambahkan larva BSF atau maggot dengan rentang umur 5–11 hari. Campuran tersebut lalu didiamkan selama 10–14 hari. Setelah maggot mengeluarkan bekas kotoran maggot atau kasgot, Eni kemudian melakukan pengayakan untuk memisahkan kasgot dengan maggot.
Kasgot inilah yang akan menjadi pupuk organik untuk tanaman. Sedangkan maggot yang tersisa ia gunakan sebagai pakan ikan.
“Teknologi pembuatan pupuk ini mampu menghasilkan pupuk yang lebih baik dan berkualitas bagi tanaman karena usus larva BSF juga mengandung bakteri pengendali patogen serta mampu memicu pertumbuhan tanaman,” ujar Eni.
Eni kemudian meneliti kandungan nutrisi pupuk kotoran domba buatannya. Ia membandingkan antara kotoran domba sebelum diberi perlakuan dengan kotoran domba yang telah diurai oleh maggot. Hasilnya, kadar kalium dan fosfor dalam pupuk meningkat hingga 20 persen.
Mengutip laman Crop Nutrition Laboratory Services, kalium sangat penting bagi kesehatan tanaman. Kalium berfungsi untuk mengatur penyerapan air, membantu ketahanan terhadap penyakit, dan mendukung aktivasi enzim pada tanaman.
Sementara fosfor berperan penting dalam proses transfer energi, perkembangan akar, serta produksi bunga dan buah. Fosfor juga memegang peranan dalam proses fotosintesis dan respirasi tumbuhan.
“Kadar kalium rata-rata pada kompos BSF lebih besar dan lebih baik dibandingkan dengan kompos EM4,” kata Eni.

Berdayakan Peternak Zero Waste
Eni melibatkan lima mahasiswa Teknik Kimia UMS saat memproduksi Pupuk Kodomo pada 2023 lalu. Proses produksi juga melibatkan peternak Bamboe Koening Farm. Eni menyebut pelibatan peternak bertujuan untuk mengedukasi peluang ekonomi dari pengolahan kotoran hewan ternak.
Harga kotoran domba basah di pasaran diperkirakan seharga Rp1.000 sampai Rp3.000 per kilogram atau Rp15 ribu sampai Rp35 ribu per karung seberat 20-25 kilogram. Setelah kotoran kambing diolah menjadi pupuk kotoran domba, harga jualnya meningkat dan dibanderol mulai dari Rp5 ribu per kilogram.
Proses pembuatan pupuk kotoran domba juga mengedepankan prinsip zero waste, yakni mengurangi limbah sisa produksi. Salah satu caranya adalah dengan mengolah maggot yang telah berukuran besar menjadi pakan lele.
“Kalau maggot-nya sudah jadi lebih besar, kemarin kami aplikasikan untuk pakan lele. Jangan sampai maggot-nya berubah jadi lalat,” katanya.
Perjalanan Eni mengembangkan pupuk kotoran domba ini kemudian terangkum dalam artikel bertajuk “Edukasi 'Pupuk Kodomo' Limbah Kotoran Domba dengan Media Larva BSF di Bamboe Koening Farm" yang terbit di Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNSIQ. Eni pun berhasil meraih hak paten atas Pupuk Kodomo buatannya.
Penulis: Gede Arga Adrian
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Pengabdian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







