Suara desiran ombak pantai mengiringi laju kapal Inas dan kawan-kawan pengabdian menuju Desa Seraya Maranu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) di akhir Januari 2024. Inas beberapa kali terpukau akan pemandangan laut yang begitu damai, terlebih saat deretan bukit indah mulai tampak jelas di pelupuk mata.
"Cantik banget!", ucap Inas sambil menepuk pundak kawan di sebelahnya.
Jalur laut adalah akses satu-satunya menuju Desa Seraya Maranu. Setelah menempuh hampir dua jam perjalanan dari Pelabuhan Labuan Bajo, Inas akhirnya menginjakkan kaki di dermaga desa. Ia melangkah pelan menuju pemukiman warga bersama rombongan.

Rombongan Inas telah sampai di dermaga Desa Seraya Maranu (22/01/2024). dok.pribadi
"Desanya asri sekali, masih dengan nuansa rumah panggung dan kampung yang sangat majemuk. Kanan-kiri lautan yang airnya sangat jernih. Apalagi kalau tiba waktu senja, langitnya sangat cantik!," kenang Afny Al Fath Inaszahira, mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang lebih akrab disapa Inas.
Gemar Berinteraksi
Inas yang saat itu menginjak semester 6 memutuskan mendaftar Ekspedisi Jelajah Anak Negeri (EJAN) Batch 7. Ia mengaku tak banyak pertimbangan, sebab dirinya menyenangi kegiatan sosial kemasyarakatan sejak di bangku sekolah menengah. Alasan itu juga yang memicu Inas untuk belajar di Program Studi Psikologi.
Ingatan sulung dua bersaudara itu melayang pada suatu hari di tahun 2021. Hari di mana dirinya mengikuti tes seleksi masuk mahasiswa baru UMS.
Karena ragu berterus terang kepada orang tua mengenai mimpinya, Inas terpaksa mendaftar Akuntansi sesuai saran ibunya. Sambil berharap akan ada hal menarik yang membuatnya jatuh cinta pada ilmu eksak satu ini.
“Satu semester berjalan, makin ngerasa, kayaknya bukan ini deh yang saya cari!,” ucap wanita kelahiran Solo itu sambil tersenyum tipis.
Di tengah kebimbangannya, Inas mulai memberanikan diri menghadap orang tua untuk mengutarakan isi hati. Anak dari pasangan Ahmad Fuad dan Neni Yudiana itu merasa plong ketika pilihannya untuk masuk ke dunia psikologi diberi lampu hijau, terlebih restu dari ayah yang dikenal dengan prinsip tegasnya. Tak mengherankan memang, sebab ayahnya merupakan seorang prajurit: TNI-AD, sementara ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha katering.
Sedari kecil Inas tumbuh dengan kedisiplinan. Ayahnya pernah berpetuah, “Nduk, kalau kamu sudah nyemplung pada pilihan yang kamu yakini, kamu harus siap bertanggung jawab, seberat apapun tugasnya kamu harus tuntaskan.” Kalimat sakti itu terus melecut Inas agar berkomitmen pada pilihan yang dibuatnya.
Tak perlu mengeluarkan seribu rayuan maut, Inas cukup membayar kepercayaan kedua orang tuanya lewat nilai Indeks Prestasi Semester (IPS) yang selalu bagus dan stabil.
Sejak menekuni ilmu psikologi, Inas pun terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kampus, salah satunya ialah bergabung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi UMS selama dua periode. Tahun 2023, Inas menjabat sebagai kepala Bidang Sosial Kemasyarakatan, sedangkan tahun ini menjabat sebagai wakil gubernur.
“Saya suka sekali Mata Kuliah Psikologi Sosial. Saking sukanya, saya kepengen memperkuat pemahaman tentang bagaimana manusia itu berinteraksi dan berperilaku,” katanya penuh antusiasme kepada kami.
Keingintahuan Inas terbayar kala dirinya dipercayai untuk terlibat dalam proyek pengabdian dosen, tepatnya Program Pengabdian Masyarakat Persyarikatan/AUM/Desa Binaan (P2AD) UMS di Klaten. Di bawah naungan Ibu Lusi Nuryanti, Ph.D. yang merupakan dosen favoritnya, Inas mengemban peran sebagai tim relawan psikososial.
Sebelum bergabung P2AD di Klaten tahun 2023, Inas sebenarnya sudah memiliki pengalaman di dunia kerelawanan. Sejak tahun 2021 hingga 2023, ia aktif berkecimpung di Senyum Anak Nusantara (SAN) Chapter Solo, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada kesejahteraan anak-anak kurang mampu.

Potret Inas saat menjadi relawan pendongeng di Perpustakaan Ganesa, Gentan, Sukoharjo. dok.pribadi
Mulanya ia mendaftar sebagai relawan tim motivator di taman baca yang berlokasi di TPA Al Falah Mojosongo, membantu anak-anak yang kurang beruntung untuk tetap semangat dalam belajar. Akhirnya ia masuk dalam kepengurusan, dan di tahun terakhirnya, ia mengemban amanah sebagai koordinator umum SAN Chapter Solo.
Berbagai kegiatan ia lalui bersama kawan-kawan di SAN Chapter Solo. Mulai dari mengelola taman baca, menggelar Kelas Kreativitas dan Edukasi, menggalang dana dan donasi untuk membantu kebutuhan pendidikan, dan banyak hal positif lainnya. Terkadang tubuhnya tak bisa menepis perasaan lelah. Ia juga manusia seperti pada umumnya. Namun, senyum dan tawa lepas anak-anak seperti upah tersendiri baginya.
“Sasaran kami memang anak-anak yang kurang beruntung dalam mengakses pendidikan, rata-rata usia sekolah dasar,” jelas mahasiswa yang hobi berenang itu.
Sering kali kejadian manis datang tiba-tiba dari anak didiknya di Mojosongo kala itu. Anak kecil bernama Farah dan Aufa menghampirinya usai kegiatan membaca dongeng. Tampak sebuah botol minum bekas digambar menyerupai dua insan yang sedang bergandengan tangan.
“Kak Rara, ini buat kakak. Ini ada gambar Kak Rara dan aku lagi gandengan tangan. Aku sayang banget sama Kak Inas,” kata Farah dan Aufa, oleh anak didiknya, ia dipanggil Rara.
Meski Inas sudah tak tergabung dalam kepengurusan, ia masih sering bersua anak-anak didiknya di taman baca. Taman baca adalah tempat pelariannya. Bila fisik dan batinnya sedang lelah, bertemu mereka adalah sebuah obat.
“Justru aku sengaja ketemu mereka, namanya anak kecil pasti ada aja tingkah lucunya. Kadang ada juga yang bikin jengkel, tapi tetap bisa dikasih tahu pelan-pelan. Asal kita ngasih tahunya benar dan bersikap tepat, Insya Allah mereka mudah untuk dibimbing. Sekalian melatih diri untuk belajar parenting,” katanya.
Mengabdi hingga Seraya Maranu
Pengalaman-pengalaman mengabdi yang seolah melekat dalam jiwa Inas semakin mempertegas kecintaannya pada dunia psikologi sosial. Tak jarang ia merasakan kepuasan batin yang sulit dijelaskan.

Afny Al Fath Inaszahira. Humas UMS/Imam Safi'i
Usai lepas dari SAN Chapter, Inas kemudian mengabdi di EJAN Batch 7 melalui jalur fully funded. Pengabdian yang berlangsung selama 14 hari ia laksanakan bersama kawan-kawan di Desa Seraya Maranu.
Ia betul-betul belajar memahami dinamika sosial yang ada. Mencari cara terbaik untuk mendampingi warga dalam menghadapi berbagai tantangan, terutama kesehatan dan kesejahteraan anak-anak. EJAN Batch 7 sendiri terbagi menjadi empat divisi.
“Kami mendampingi masyarakat. Khusus EJAN, sasaran kami bukan hanya anak-anak lagi, tapi masyarakat setempat. Sebagai tim logistik, saya bertugas menyiapkan kebutuhan general seperti obat-obatan, akomodasi darat dan laut, serta perlengkapan untuk pembuatan taman baca,” jelas Inas.
Secara garis besar, program pokok yang dikerjakan tim EJAN Batch 7 terdiri atas pembuatan taman baca desa, penyuluhan kesehatan dan medical check up, pembelajaran berbasis human capital, clean up world campaign di area pesisir pantai, serta mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan internet dan e-commerce untuk memasarkan produk khas desa.
“Sinyal di sana yang paling memadai itu Telkomsel. Kita tahu karena sebelum pemberangkatan tim EJAN melakukan riset. Beberapa tim kerja diberangkatkan lebih dahulu untuk survei lokasi,” tuturnya.
Mayoritas warga lokal saat itu sudah paham internet, imbuhnya, dan mereka menggunakan kartu Telkomsel. Warga pun digandeng dalam diksusi yang terpadu. Tujuannya supaya kendala dan progres mereka dapat terpantau dan terpetakan.
"Mengabdi itu bukan sekadar kegiatan, tapi panggilan jiwa," ujarnya tulus.
Sebenarnya perjalanan Inas di EJAN belum rampung. Rencananya, ia akan berlayar ke Pulau Dewata di EJAN Batch 8. Tapi apa boleh buat, ekspedisinya tertunda penugasan magang.

“Mau gimana lagi? Semester 7 memang waktunya untuk magang. Tapi saya tidak begitu menyesal, soalnya masih ikut berkontribusi pada volunteer engagement, karena status saya yang masih menjadi tim kerja EJAN,” ujar Inas yang kini sedang magang di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Boyolali.
Selama volunteer engagement, Inas membantu tim ekspedisi dalam menyusun berbagai kebutuhan dan persiapan kawan-kawan relawan self-funded. Mulai dari open recruitment, pembekalan materi, pendampingan program, pembagian tim divisi hingga penugasan dan pasca penugasan.
Pertajam Kepekaan
Melalui pilihan fakultas, Inas seperti mendapat kesempatan menarik ke Rutan IIB Boyolali. Tempat yang mungkin bagi sebagian orang “menakutkan”.
“Saya ingin menguji diri, bagaimana rasanya memahami sisi manusiawi di balik jeruji besi,” pikirnya.
Mahasiswa psikologi itu terlibat dalam sesi konseling kelompok, mendengar cerita yang penuh luka dan penyesalan yang bercampur harapan dari manusia-manusia yang sedang menebus dosa. Sementara sesi konseling terbagi sesuai rentang usia: remaja, dewasa awal, dewasa tua, dan lansia.
“Terdapat sebanyak 300 lebih narapidana, termasuk juga tahanan. Perempuannya hanya 10, sisanya laki-laki. Karena itulah, akhirnya sesi konseling untuk kelompok perempuan dipisah” jelas Inas.
Menurut cerita Inas, para pemagang sarjana belum diizinkan untuk melakukan konseling individu seperti pemagang magister, yang sudah bergelar psikolog. Konseling individu mengarah pada ilmu psikologi klinis yang berfokus untuk menangani masalah-masalah psikologis, meningkatkan kemampuan penyesuaian diri dan kapasitas diri.
Sementara dalam sesi konseling kelompok, Inas dan pemagang sarjana lain membuat rangkaian Focus Group Discussion (FGD) berkala per rentang usia. Pemagang menggali keresahan para tahanan dan narapidana, lalu merangkumnya dalam sesi journaling.
Sesi journaling sendiri terbagi atas tiga topik. Pertama, masa lalu (apa yang mereka sesali; kedua, masa kini (apa yang mereka syukuri); dan ketiga, masa depan (apa yang mereka harapkan). Setelah bergumul dengan catatan panjang di sesi journaling, para tahanan dan narapidana diberikan solusi berupa penyuluhan atau psikoedukasi.
“Kebanyakan kalau dari kelompok remaja, mereka mengalami kecemasan atas penerimaan. Mereka yang rindu orang tua, sanak saudara, dan teman merasa cemas dan takut. Mereka berpikir, “Apakah aku akan diterima kembali atau justru dikucilkan?.”, imbuh Inas.
Seketika ia teringat satu momen yang begitu menyentuh hati kecilnya. Ada seorang narapidana paruh baya yang meminta tolong untuk dibukakan akun Facebook.
Dengan sedikit ragu, bapak tua itu berkata, “Mbak, bisa minta tolong bukain Facebook saya?.”
“Buat apa nggih pak,?” tanya Inas penuh selidik.
“Di akun saya itu, ada foto putri saya. Saya kangen sekali sudah bertahun-tahun tidak ketemu. Tidak lihat senyum cantiknya,” ujar bapak itu memelas.
Sayangnya, segala tindakan dalam jeruji besi Boyolali itu harus melewati izin petugas. Ya, jelas. Permintaan bapak tua itu ditolak oleh petugas, karena dianggap riskan.
Perlahan Inas mulai memahami bahwa setiap orang, di mana pun berada, apapun statusnya, selalu memiliki cerita yang layak didengarkan.
Kompas Hidup Inas
Ia bersyukur psikologi telah mengantarkannya ke banyak ruang-ruang kebaikan. Kecil maupun besar, kebaikan tetap dihitung kebaikan. Terdengar klise memang, tetapi hati manusia mana yang malah gandrung pada kejahatan?
"Saya percaya, di mana pun kita berpijak, selalu ada peluang untuk berbuat kebaikan. Bahkan kepada seekor kucing kelaparan yang nggak sengaja kita temui di jalanan. Semua bentuk kebaikan bisa kita lakukan mulai dari hal-hal kecil," tandasnya penuh keyakinan, seakan berbicara langsung pada diri sendiri dan orang-orang yang mungkin terinspirasi oleh perjalanannya.
Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, Inas bertekad untuk terus menebar kebaikan di setiap langkahnya. Panggilan jiwa itu terus ada dalam benaknya, seolah menjelma sebagai kompas hidup.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







