Dari sorot matanya siang itu, kebahagiaan Muhammad Mukhlis Cahyadi terpancar. Dirinya ditahbiskan sebagai Duta Genre Kota Surakarta Tahun 2021 di Pendhapi Gede Balai Kota Surakarta, pada 3 April 2021. Selempang beludru hitam dengan tulisan berwarna emas melintang di dadanya. Itu adalah kali pertama Mukhlis mengikuti ajang pemilihan seorang duta.
Duta Genre adalah singkatan dari Generasi Berencana di bawah naungan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Tujuannya untuk mendidik remaja agar mempersiapkan perencanaan kehidupan yang matang baik karier maupun keluarga.
Semua bermula saat dirinya tengah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Samarinda. Mukhlis mengikuti sebuah seminar public speaking dengan pemateri seorang Duta Genre. “Ternyata sosok Duta Genre itu sekeren itu,” kenang mahasiswa Profesi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu, Kamis (19/9/2024). Dari situlah keinginan menjadi Duta Genre tumbuh.
Ia tengah menempuh semester dua kuliah saat notifikasi telepon genggamnya berbunyi. Rupanya kabar dari grup Himpunan Mahasiswa Fisioterapi UMS yang berisi informasi seputar Pemilihan Duta Genre Kota Surakarta Tahun 2021. Mahasiswa yang juga aktif sebagai anggota Bidang Pengembangan Intelektual dan Keislaman dalam himpunan tersebut pun terpantik untuk mengikuti ajang tersebut.
Sejumlah aktivitas ia jalani usai mendaftarkan diri dalam Pemilihan Duta Genre Kota Surakarta Tahun 2021. Ia harus mengikuti karantina dan pembekalan selama satu pekan. Materi yang diajarkan seputar generasi berencana, termasuk delapan substansi Genre, yakni delapan fungsi keluarga, pendewasaan usia perkawinan, advokasi dan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi), gender, HIV/AIDS, seksualitas, narkoba atau napza, dan kecakapan hidup.

Muhammad Mukhlis Cahyadi bersama Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, dalam Malam Penganugerahan Duta Genre Surakarta, Sabtu (3/4/2021). dok.Genre Surakarta
Usai menjalani karantina dan pembekalan, pria asal Samarinda itu pun mengikuti tes tertulis dan tes bakat. Materi tes tertulis tak jauh dari delapan substansi Genre. Ia mengaku tidak menemukan kesulitan berarti selama mengikuti tes tertulis. Sebab setahun sebelumnya, dia mengikuti mentoring dengan pemateri Dwi Triska Novemia, kakak tingkatnya. “Syukurnya, setahun sebelumnya, kami sudah dimentori oleh mahasiswa UMS yang pernah mengikuti Duta Genre. Kami dibimbing di awal mengenai kemungkinan soal yang muncul dan materi apa yang perlu dipahami,” terang Mukhlis.
Saat tes bakat, Mukhlis menunjukkan kepiawaiannya dalam musabaqah tilawatil qur’an atau MTQ lewat teknik pernapasan, artikulasi, dan vibrasi dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an. “Dulu pas SMA sudah sering ikutan lomba MTQ,” tuturnya.
Tantangan yang dihadapi Mukhlis semakin bertambah saat malam grand final. Dirinya harus menyampaikan pidato tentang pentingnya life skill dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. “Sudah saatnya remaja berperan sebagai agent of change, memberi perubahan positif bagi lingkungan,” ucapnya lantang.
Tantangan tidak berhenti sampai di situ. Pria yang kini berusia 22 tahun itu harus menjawab pertanyaan dari dewan juri seputar stunting. Tema tersebut awalnya tidak masuk ke dalam delapan substansi genre. Mukhlis harus berpikir cepat menemukan jawabannya di atas panggung.
Berkat kepercayaan dirinya, Mukhlis sanggup melibas pertanyaan para juri dengan tenang dan mantap. Tak ada kekikukan dari raut wajahnya saat menjawab pertanyaan tersebut. “Mentor aku bilang, yang penting bicara aja dulu. Karena yang dinilai tidak hanya tentang benar atau salah, tetapi tentang penampilan yang kami berikan.” sambung Kepala Bidang Kaderisasi dan PSDM Gerakan Muda Beramal Tahun 2021 itu. Siapa sangka, jawaban yang dibacakan selama 1 menit 30 detik itulah yang mengantarkannya menjadi kampiun.

Sebagai Seorang Duta
Menyandang titel Duta Genre Kota Surakarta membuat pria kelahiran Lampung, 2 September 2002 itu, disibukkan dengan berbagai kegiatan penyuluhan dan aktivitas sosial lainnya. Mukhlis rutin melakukan penyuluhan, mulai dari Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di setiap kelurahan di Kota Surakarta, sekolah, hingga masyarakat umum.
“Sempat beberapa kali penyuluhan ke calon pengantin dan ibu hamil. Fokusnya lebih kepada pencegahan stunting,” jelas mahasiswa yang menggemari mata kuliah Anatomi Fisiologi itu. Ia juga melakukan penyuluhan kepada lansia mengenai peran keluarga, serta anak-anak dengan fokus pada pemenuhan asupan makanan bergizi.
Semua aktivitas penyuluhan itu ia bagikan melalui media sosial miliknya. Sebagai seorang Duta Genre, Mukhlis dituntut untuk aktif di media sosial, yakni Instagram dan TikTok. Dari situlah rutinitasnya sebagai kreator konten bermula.
Dua media sosial yang ia gunakan mempunyai target konten yang berbeda. Mukhlis banyak menggunakan Instagram sebagai platform untuk konten edukasi. Sedangkan TikTok lebih sering digunakan sebagai konten hiburan.
Sarjana Fisioterapi UMS ini awalnya nggak pede berdiri di depan kamera saat membuat konten. Namun, ia menepis semua keraguannya dan mulai menyusun konten dalam bentuk video.
“Awalnya dulu kontennya enggak bagus-bagus banget. Ada beberapa hujatan yang bilang alay lah atau sok-sokan lah,” kenangnya. Alih-alih menggubris ocehan sumbang netizen, dia malah terpacu untuk memperbaiki kualitas kontennya. Perlahan kreativitasnya dalam membuat konten mendapat apresiasi netizen. Terbukti dari total pengikut sebanyak 13,2 ribu akun di Instagram @mukhlis_chyd dan 506,9 ribu akun di TikTok @mukhlis_chyd.

KIRI: Muhammad Mukhlis Cahyadi dalam suatu kegiatan bersama para anak-anak. KANAN: Muhammad Mukhlis Cahyadi mempresentasikan penanggulangan seks bebas di salah satu sekolah menengah atas di Kota Surakarta. dok.Istimewa
Urusan waktu juga jadi tantangan buat Mukhlis. Dia mengaku sempat kesulitan membagi waktu antara kuliah dan rutinitasnya sebagai Duta Genre. Seiring waktu, ia mulai cerdik membagi waktu dengan menetapkan skala prioritas antara kuliah dengan aktivitas sebagai Duta Genre.
“Enggak semua kegiatan Duta Genre itu mendesak. Kita bisa mendelegasikan tugas ke Duta Genre lainnya,” ujar dia. “Di Surakarta sendiri ada sepuluh kategori Duta Genre. Ada juara pertama, juara kedua, juara berbakat, dan seterusnya.”
Mahasiswa yang pernah menjadi brand ambassador Ikatan Fisioterapi Indonesia itu, melihat seorang duta mempunyai tugas utama menjadi role model pagi teman sebayanya. Tugas sebagai Duta Genre menuntut Mukhlis menjadi contoh yang baik bagi teman kuliahnya maupun teman media sosialnya.
Berkat kerja kerasnya selama satu tahun, Mukhlis dipercaya mewakili Kota Surakarta dalam Pemilihan Duta Genre Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022 dan berhasil menyabet posisi 4th runner up.
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.









