Siang itu, panas terik menyelimuti Student Corner Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Di bawah rindang pohon yang hanya sedikit menghalangi sengatan matahari, kami bertemu Cavella Noor Putri Anisa, atau yang akrab disapa Lala. Dengan senyuman ramah, mahasiswi Pendidikan Matematika UMS itu menyambut kami.
Lala lahir di Jepara, anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga yang memegang teguh nilai-nilai kemandirian. Ayahnya, Nur Kholis, dan ibunya, Khasanah Kuswarini ialah pengusaha toko elektronik yang tak pernah absen mendorong anak-anaknya untuk selalu berusaha maksimal. Namun, cara mereka memotivasi Lala memiliki ciri unik.
“Ibu nggak pernah tanya nilaiku berapa, tapi selalu bilang, ‘Hari ini ujian matematika dapat 100 nggak, Nduk?.’ Itu agak lucu ya, dan akhirnya membentuk saya untuk terus menantang diri, terutama di pelajaran yang dianggap sulit sebagian orang, kayak matematika,” ujar Lala, Senin (2/12/2024).
Pilihan dan Peluang
Lala secara spesifik menaruh perhatian khusus pada pelajaran matematika. Ia mengaku bercita-cita masuk program studi matematika murni. Hanya saja, karena UMS belum menyediakan program tersebut, ia lantas memilih pendidikan matematika. Selain mencintai matematika, ada alasan lain yang membuatnya mantap mengambil program studi itu.
“Sebagian besar keluarga besar saya adalah guru. Profesi ini memiliki libur yang seragam dari pemerintah kan ya? Jadinya kalau nanti jadi pendidik, bakal lebih mudah mengatur waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar. Alasan ini terdengar aneh mungkin ya, tapi memang keluarga saya terbiasa libur bersama gitu, biasanya yang jarang punya hari libur bareng ya orang tua saya aja,” katanya sambil terkekeh.

Cavella Noor Putri Anisa. Humas UMS/Imam Safi'i
Keputusannya untuk melanjutkan studi di UMS juga didukung Beasiswa Kiai Haji Ahmad Dahlan, beasiswa penuh yang diberikan kepada kader Muhammadiyah berprestasi. Lala memang telah lama aktif di organisasi Muhammadiyah. Sejak SMP, ia sudah menjadi bagian dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan terus berlanjut hingga menjadi Wakil Direktur Fasilitator IPM Jawa Tengah.
“Di kuliah juga ikut bergabung Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tapi semua organisasi yang saya ikuti selesai di semester 5. Rasanya sudah cukup saya meluangkan waktu untuk IPM dan IMM. Kepengen fokus sama hal-hal yang lebih relevan dengan bidang pendidikan aja,” jelasnya.
Sejak berstatus sebagai mahasiswa, Lala aktif sebagai asisten laboratorium di prodi. Tugas ini memberinya kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan para dosen dan memperluas pengalaman akademiknya.
“Menjadi asisten laboratorium itu tanggung jawab besar, dan kami memang diharuskan mengenali semua dosen. Nah, dari sini, saya merasa banyak mendapatkan peluang bagus, termasuk mengikuti Program SEA Teacher,” ungkap Lala.
Berkelindan di Jejaring Internasional
Petualangan besar Lala kemudian dimulai kala dirinya terpilih dalam Program SEA Teacher. Program ini merupakan buah inisiatif ASEAN yang memungkinkan mahasiswa keguruan mengajar di negara ASEAN. Di tahun 2023 lalu, Lala ditempatkan di Filipina, mengajar di salah satu sekolah dasar selama satu bulan penuh.
“Program ini terbagi menjadi empat tahap. Minggu pertama, kami para peserta diajak untuk observasi. Minggu kedua, mulai mempelajari instrumen pendidikan yang ada di sana. Minggu ketiga, mulai mengajar. Minggu keempat, kami melakukan final teaching, pengajaran yang dinilai gitu. Bahasa yang kami pakai untuk mengajar adalah bahasa Inggris,” jelas Lala teliti.

Lala (kesepuluh dari kiri baris kedua) saat mengikuti program SEA Teacher di Filipina (16/10/2023). dok.Pribadi
Pengalaman mengajar di negeri orang jadi tantangan besar bagi Lala, terutama karena ia harus mengajar dalam bahasa asing. Namun, SEA Teacher memberi Lala wawasan baru tentang sistem pendidikan lintas budaya. Ia belajar bahwa setiap negara memiliki cara berbeda dalam mendidik generasi mudanya, dan hal itu memperkaya perspektifnya sebagai calon pendidik.
Pengalaman Lala dalam program-program akademik unggulan tidak hanya berhenti di situ. Sepulangnya ke Indonesia, ia cukup terkejut mendapati bahwa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS bakal menjadi tuan rumah untuk mahasiswa pertukaran dari Filipina.
“Ternyata FKIP UMS punya jejaring internasional yang luas, salah satunya dengan universitas di Filipina. Setelah pulang ke Indonesia, fakultas kami kebetulan menerima mahasiswa dari University of Northern Philippines untuk belajar dan berbagi pengalaman di UMS,” imbuhnya.
Siapa sangka, UMS kembali menyambut rombongan mahasiswa pertukaran dari Mariano Marcos State University. Masing-masing program berlangsung selama satu bulan. Program yang diberi nama Buddies Student Exchange ini menawarkan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan teman-teman dari Filipina.
“Kami yang menjadi anggota Buddies nggak cuma belajar tentang budaya Filipina, mungkin istilahnya bertukar pengalaman ya? Lantaran kami juga memperlihatkan kepada mereka bagaimana kehidupan kampus di UMS, termasuk melakukan city tour,” jelas mahasiswa semester 7 itu antusias.

Belajar Perspektif Baru
Januari 2024, Lala masih gencar menjajaki berbagai peluang yang ia rasa dapat memperkaya perspektifnya di dunia pendidikan. Alhasil ia turut mencoba peruntungan dengan mendaftar Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbusristek).
“Alhamdulillah dinyatakan lolos seleksi. Waktu PMM itu saya mendapat kesempatan belajar ke Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNIMUDA) di Papua Barat Daya selama empat bulan.” Lala berpikir ini adalah kesempatan emas untuk mendalami realitas pendidikan di wilayah timur Indonesia.

Potret peserta PMM di UNIMUDA, Papua Barat Daya (2/8/2024). dok.Pribadi
Bumi Papua memberi gambaran Lala betapa pentingnya pemerataan pendidikan. Teman sejawatnya di Sorong, kata Lala, harus menempuh perjalanan 1-2 jam untuk ke kampus. Namun demikian, mereka tak patah arang demi mengenyam pendidikan tinggi. “Semangatnya luar biasa banget, meski fasilitas pendidikannya juga cukup terbatas,” kenang Lala, yang belakangan ini berhasil meraih juara 3 International Green Entrepreneurship 2024 bersama timnya.
Lala juga melihat bagaimana dosen-dosen di sana berjuang keras untuk memajukan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T) tersebut. Ia berujar, “Mereka sangat peduli pada mahasiswa. Prestasi sekecil apa pun selalu diapresiasi. Itu sangat menginspirasi saya sih.”
Selain pendidikan, pengalaman di Sorong memperkenalkan Lala pada budaya Papua melalui Modul Nusantara. Ia belajar tarian tradisional, memasak makanan khas, hingga bercengkerama dengan masyarakat adat.
Kini di tahun terakhirnya sebagai mahasiswa, Lala memilih jalur publikasi jurnal internasional untuk merampungkan skripsinya. Harapnya, “FKIP itu lumayan mendorong mahasiswanya buat ikut prosiding seminar internasional. Tentu ini jadi motivasi yang sangat positif buat saya. Insya Allah tanggal 7 Desember 2024, saya tinggal presentasi hasil riset saya. Semoga semuanya dimudahkan Allah SWT.”
Pun saat ditanya mengenai mimpinya, Lala menyebut dua kemungkinan besar. Menjadi pendidik yang berdampak atau malah berkecimpung di dunia kebijakan pendidikan. Bisa dikatakan ia begitu mencintai dunia pendidikan, tak heran jika geliatnya untuk berkontribusi terus tumbuh.
“Saya percaya, pendidikan itu cara terbaik untuk membangun masa depan yang lebih baik juga. Saya masih ingin melangkah dan menjajaki peluang yang membangun, membawa perubahan, lalu menebar manfaat kepada lebih banyak orang,” tandasnya penuh keyakinan.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.








