
Komunikasi Publik Pejabat yang Ala Kadarnya
Gaya komunikasi pejabat publik terus menuai sorotan. Berujung blunder dan memicu kekecewaan rakyat.
Hembusan angin sore yang sejuk menyertai langkah Fajry Annur, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menuju tepi danau kampus. Di sana, dia lalu duduk nyaman di atas rerumputan yang menyelimuti tepian danau. Menikmati suasana danau yang tenang, karena biasanya danau itu selalu dipadati mahasiswa kala jam makan siang tiba.
Tas putihnya itu tampak penuh. Selain laptop berukuran 14 inci, dia membawa beberapa buku mata kuliah penulisan kreatif dan kesastraan. Hal-hal yang begitu identik dengan dirinya.
Usai bertegur sapa, kami memantik obrolan dengan membahas kebiasaannya yang selalu membawa buku ke mana-mana. Katanya, “Sejak kecil sudah dikenalkan buku oleh ibu, meski tak selalu saya baca habis. Kira-kira sejak SMA, saya mulai membaca banyak buku, entah berapa novel dan cerpen yang sudah terlahab habis.”
Sosoknya yang kami tahu, telah terpikat dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMP, terlebih saat dia pertama kali membaca novel karya Ario Muhammad, Islammu adalah Maharku. Begitupun dengan beberapa film layar lebar yang diangkat dari novel karya Asma Nadia. “Kayaknya keren ya, kalau bisa menjadi penulis ulung seperti Ario Muhammad dan Asma Nadia. Tapi, untuk menimbulkan ketertarikan menulis, saya mengawalinya dengan menulis puisi, yang jumlah katanya tidak sebanyak karya tulis lain.”
Putri dari pasangan Samsyarif dan Siti Halijah ini mengaku, pada awalnya dia tak percaya diri untuk mengikuti lomba cipta puisi ataupun baca puisi. Takut gagal. Dua kata yang kerap berkecamuk di kepalanya.
“Alhamdulillah saya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang selalu mendukung kecintaan saya terhadap dunia kepenulisan. Lambat laun saya berani mencoba mengujikan kemampuan saya ke ajang-ajang perlombaan, meski sempat beberapa kali tidak mendapat juara,” ujar Fajry.
Sulung dua bersaudara itu tak pernah putus asa, baginya menang-kalah adalah hal biasa dalam perlombaan. Dia begitu yakin, jika menulis adalah jalannya, kelak Allah akan mengizinkannya untuk menang.
Perjalanan awalnya dalam menulis berhasil menuai prestasi pada tahun 2021, kala pandemi Covid-19 sedang menerjang Indonesia. Fajry menjuarai lomba cipta puisi dalam Festival Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.
Puisi-puisi ciptaan Fajry biasanya mengupas persoalan-persoalan kecil yang sering kita temui dalam kehidupan. Setiap diksi yang dia pilih tak terdengar ndakik-ndakik, akrab bagi semua.
Kalau sampai waktunya, kita ingin merayakan jadi mentari, nahasnya kita ditakdirkan jadi bintang kecil
Tapi, tak pernah pun salah jadi bintang, setidaknya kita paham rasanya berarti dan benderang bersama penuh hangat
Jikalau pun nanti sendiri tak apa, sebab kita jadi paling berarti di atas sana, di antara yang pergi kita bertahan penuh kasih
Kecil bukan berarti tak ada, sebab kita hanya terpandang megah oleh orang-orang yang mencintai kita
Kala itu, Fajry membicarakan keresahan segelintir manusia yang terkadang sibuk membandingkan proses dan hasilnya dengan manusia lain. Padahal setiap ciptaan Tuhan memiliki cara yang istimewa untuk menemui takdirnya.
Secuil masalah itu lantas menjadi inspirasi Fajri untuk bercerita. Dirinya kepingin meyakinkan para pembaca, bahwa mereka adalah bintang yang akan bersinar dengan kilau unik masing-masing.
“Sejak mendapat juara itulah saya kian tertantang untuk mengasah keterampilan menulis. Mulailah saya menaruh asa pada kepenulisan novel,” jujurnya. Dia pun gencar mengorek informasi seputar pelatihan menulis di Instagram untuk menajamkan kemampuannya.

Penggalan puisi Fajry yang ditulis saat mengikuti lomba puisi Festival Nasional #PancasilaLahirBatin yang diselenggarakan PSBPS UMS. instagram.com/fjryannurr
“Waktu SMA, ada satu media bernama Ruang Karya yang membuka pelatihan menulis dengan benefit, karya-karya peserta dapat diterbitkan dalam bentuk buku,” ingat Fajry.
Tanpa ragu, Fajry pun mendaftar pelatihan dengan harapan mampu mendalami teknik-teknik menulis dan memperoleh wawasan baru tentang dunia penerbitan. Selesai pelatihan, Pelangi di Langit Senja (2021) lahir sebagai karya perdana gadis Bugis itu. “Saya selalu berupaya memulai dan mengembangkan ide tulisan dari plot atau karakter yang sederhana. Misalnya di novel ini, saya terinspirasi kisah orang-orang di sekitarku.”
Tak mengherankan jika kemudian Fajry memutuskan untuk melanjutkan studi sarjana di PBSI UMS medio 2021. Meski dia tahu, studi yang ditempuhnya juga membuat dia belajar ke ranah pendidikan.
“PBSI memang tidak pure belajar sastra Indonesia, menariknya justru di sini. Saya akan menjadi pendidik juga, mengamalkan budi luhur berbahasa Indonesia ke generasi berikutnya, itulah yang sepertinya hilang dalam pergaulan kita sekarang” tuturnya.
Di PBSI UMS, bakat menulisnya terus mengalir. Saat masih menyandang status mahasiswa baru, novel keduanya, Kamu dan Perayaan Kenangan (2022), berhasil ia terbitkan.

Novel kedua Fajry yang berhasil diterbitkan saat masih menduduki semester pertama di PBSI UMS.
Meski piawai dalam menulis, tantangan writer's block (kebuntuan menulis) kerap menghantui Fajry. Biasanya dia akan mencoba mengambil jeda, membaca karya penulis lain, atau menikmati suasana di alam terbuka untuk mencairkan kembali inspirasinya.
“Terkadang saya butuh menepi sejenak, membaca buku yang belum pernah saya baca, atau sekadar duduk di bawah pohon sambil membiarkan pikiran mengembara,” imbuh mahasiswa semester tujuh itu.
Belakangan Fajry juga tertantang untuk memperluas cakrawala kepenulisannya melalui karya tulis ilmiah bersumber Al-Qur'an. Menjadi angin segar yang berbeda dari menulis fiksi.
“Menulis karya tulis ilmiah, khususnya tentang Al-Qur'an menuntut saya untuk lebih teliti. Bukan menyoal tentang literasi saja, namun juga pemahaman terhadap tafsir dan nilai-nilai di dalamnya,” ujarnya.
Meski menantang dan terkesan sulit, Fajry justru melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilannya dalam menulis. Di antara karya tulis ilmiah yang ia buat, salah satu yang paling berkesan ialah saat dirinya mengikuti lomba karya tulis ilmiah Al-Qur'an di Sulawesi Tenggara dan berhasil memboyong penghargaan. Fajry meraih juara 1 pada ajang MTQ ke-47 Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
“Itu layaknya babak baru bagi saya. Kebetulan temanya berkaitan dengan keluarga, dan saya kebagian belajar tafsir Qur’an surah Luqman ayat 13-15. Belajarnya susah payah, karena harus menyeimbangkan antara sisi kreatif dan ilmiah dalam menulis,” jelas Fajry.
Fajry merupakan sosok yang berdedikasi dalam organisasi Muhammadiyah. Dirinya terlibat aktif dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) maupun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sejak duduk di bangku SMA hingga kini di bangku kuliah, Fajry telah memegang sejumlah posisi penting dalam organisasi tersebut.

Di IPM, Fajry pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Kader di Pimpinan Wilayah IPM Sulawesi Tenggara pada tahun 2021 hingga 2023. Sebagai Ketua Bidang Kader, dia memimpin berbagai program kaderisasi bersama teman-teman Pimpinan Wilayah IPM lainnya.
“Memimpin perkaderan itu sama halnya dengan membentuk karakter pemuda yang tangguh dan visioner,” jelasnya. Komitmen Fajry dalam membimbing dan membina generasi muda semakin tampak saat ia melanjutkan kiprahnya di IMM.
Pada tahun 2022-2023, ia diangkat sebagai Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan di Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UMS. Di sini, ia berperan sebagai penggerak utama dalam menyelenggarakan diskusi ilmiah, pelatihan kepenulisan, dan berbagai kegiatan akademis yang mendukung pengembangan intelektual kader-kader IMM. Bahkan dirinya juga terlibat dalam Pimpinan Cabang IMM Kota Surakarta sebagai Sekretaris di Lembaga Aktualisasi Keilmuan dan Optimalisasi Pendampingan.
“Berorganisasi untuk melatih kepemimpinan itu pilihan. Ada yang menganggapnya perlu, ada pula yang berpikir fokus dengan studi saja lebih baik. Kalau saya, selagi organisasi tidak mengganggu studi, ya diteruskan saja. Toh, nanti waktu sudah berkarier, ilmu dari berorganisasi akan terpakai,” kata Fajry beropini.
Ke depannya Fajry bercita-cita untuk terus menulis dan menerbitkan lebih banyak karya, baik fiksi maupun karya tulis ilmiah. Menulis merupakan perjalanan panjang yang selalu menawarkan ruang untuk belajar dan berkembang.
“Jika boleh bermimpi, saya ingin menjadi penulis. Sebab itu, saya harus tetap konsisten dan disiplin dalam berkarya. Syukur-syukur pendidik yang sekaligus berprofesi sebagai penulis, manfaatnya akan kian meluas” ujarnya berharap.

Humas UMS/Muhammad Imam Safi'i
Mahasiswa PBSI UMS itu begitu bersyukur, selama kuliah dirinya selalu mendapatkan dukungan hebat dari dosen favoritnya, Dipa Nugraha Suyitno, Ph.D., dosen pengampu mata kuliah Menulis Kreatif.
“Beberapa kali pertemuan di luar kelas, Pak Dipa membimbing saya dan beberapa rekan mahasiswa untuk menulis. Biasanya beliau memberikan kami suatu topik atau tema, lalu kami disuruh membuatnya menjadi bahan tulisan kreatif. Nanti tulisan kami akan di-review beliau sehingga tulisan kami tak bias,” ungkap Fajry antusias. Tak jarang momen bersama Pak Dipa ia manfaatkan untuk bertanya tentang cara menjadi penulis yang konsisten.
“Saya sering bertanya, bagaimana caranya agar tetap konsisten dan disiplin selama menulis, termasuk dalam mencari dan mengembangkan suatu ide tulisan. Bagaimana pun dua hal tadi selalu menjadi PR besar seorang penulis,” sambungnya.
Saran demi saran diterima sebagai bekal meniti kerier yang masih panjang. Fajry berharap karyanya mampu menyentuh hati dan pikiran banyak orang, sama seperti saat dirinya dulu tersentuh oleh karya-karya yang ia baca.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Gaya komunikasi pejabat publik terus menuai sorotan. Berujung blunder dan memicu kekecewaan rakyat.
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.