Dimensi Luas Pemberdayaan Perempuan
Langkah Menuju Ibu yang Berdaya

Di dalam rumah tangga, keputusan sederhana, seperti “Anak makan apa hari ini?” sering terlihat sepele. Namun, bagi sebagian ibu, keputusan itu tak selalu berada di tangannya sendiri. Ada yang harus menyesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga, ada pula yang tak berani menolak kebiasaan orang tua atau mertua. 

Keresahan tersebut yang mendorong dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Siti Nurokhmah, S.Gz., M.Sc. meneliti hubungan antara pemberdayaan perempuan dan praktik pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Ketertarikannya muncul ketika dirinya melihat perbedaan kemajuan penanganan masalah gizi di berbagai kawasan dunia.

“Intervensi stunting sebenarnya mirip-mirip, misalnya di kawasan Asia maupun Afrika. Tapi kenapa progresnya berbeda? Salah satu faktor yang mungkin membedakan adalah posisi ibu di dalam rumah tangga,” ujar Siti saat ditemui di Laboratorium Diagnosis dan Konsultasi Gizi UMS, Sabtu (11/4/2026).

Siti menilai, perempuan yang memiliki ruang mengambil keputusan cenderung lebih mampu menentukan pilihan terbaik bagi anaknya, termasuk soal makanan. Di sinilah konsep pemberdayaan perempuan atau women empowerment menjadi kunci.

Dr. Siti Nurokhmah, S.Gz., M.Sc. Humas UMS/Gede Arga Adrian

“Pencegahan stunting kan banyak, saya memilih fokus pada praktik pemberian makan anak, terutama pada usia 6 hingga 23 bulan. Karena pada periode ini anak mulai membutuhkan asupan tambahan selain ASI. Jika kualitas makanan pendampingnya nggak memadai, kebutuhan gizi anak jadi nggak terpenuhi dan risiko gangguan pertumbuhan pun meningkat,” jelasnya.

Alasan lain Siti meneliti MPASI karena praktik pemberian ASI eksklusif di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Namun, kualitas pemberian makanan pendamping masih tertinggal.

“ASI sudah dianggap on track. Tapi MPASI masih buruk dan ini salah satu penyebab langsung masalah gizi, termasuk stunting,” ujar Siti.

Stunting merupakan masalah jangka panjang sehingga sulit diteliti dalam waktu singkat. Karena itu, fokus pada determinan seperti praktik pemberian MPASI dinilai lebih strategis.

Dimensi Luas Pemberdayaan Perempuan

Siti bercerita selama ini sudah banyak program gizi berfokus pada peningkatan pengetahuan ibu. Namun, penelitiannya yang bertajuk “Women’s Empowerment-Related Inequalities in Complementary Feeding Practices Among Children Aged 6-23 Months In Indonesia: A Decomposition Analysis” menunjukkan pengetahuan saja tidak cukup untuk mendukung pemberdayaan perempuan.

“Ibu yang tahu, pengetahuannya cukup itu belum tentu bisa mengimplementasikan. Untuk bisa melakukan praktik MPASI yang variatif dan cukup gizinya, dia perlu dukungan sosial, ruang mengambil keputusan, dan kemampuan mengatur sumber daya,” jelas dia.

Ia mencontohkan kondisi ibu bekerja yang sudah memahami praktik MPASI yang benar, tetapi harus menitipkan anak kepada orang tua atau mertua. Ketika pengasuh memiliki pemahaman berbeda, ibu sering merasa sungkan untuk mengoreksi atau bersikap tegas akan pilihannya menentukan tumbuh kembang anak.

“Ada rasa sungkan karena sudah dibantu dan mau direpoti, kan biasa begitu. Kalau ibu benar-benar berdaya, dia bisa menyampaikan tanpa takut menyinggung,” tambahnya. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga posisi dalam keluarga.

Dari olahan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, Siti melihat benang merah yang jelas. Ibu yang lebih berdaya cenderung mampu menghadirkan MPASI dengan kualitas lebih baik. Terutama mereka yang memiliki kemandirian sosial, ditopang pendidikan, dukungan lingkungan, serta keberanian berinteraksi dan mengambil keputusan.

Sikap perempuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga juga berperan signifikan dalam konteks ini. Dalam analisis Siti, ibu yang memiliki toleransi lebih rendah terhadap kekerasan cenderung memiliki posisi tawar yang lebih kuat di dalam keluarga. 

Posisi tersebut membuat ibu lebih leluasa menyampaikan pilihan, termasuk soal makanan anak. Ibu yang merasa aman dan dihargai, kata dia, lebih percaya diri mengambil keputusan. Sebaliknya, relasi yang timpang membuat ibu cenderung mengikuti keputusan orang lain, meski tidak selalu sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

Di sisi lain, faktor sosial-ekonomi juga memperlihatkan perannya. Pendidikan ibu, kondisi ekonomi keluarga, hingga akses layanan kesehatan ikut membentuk kualitas pemberian MPASI. 

“Kalau tidak punya pendapatan yang memadai jelas itu jadi masalah yang besar, ya. Tapi ini juga bukan soal punya atau tidak punya uang, tapi siapa yang memutuskan penggunaan sumber daya itu,” ujar Siti. Dalam keluarga dengan ekonomi cukup sekalipun, praktik pemberian makan anak bisa tetap kurang optimal bila ibu tidak memiliki kewenangan menentukan belanja pangan.

Langkah Menuju Ibu yang Berdaya

Intervensi tidak cukup hanya memberikan edukasi. Selama ini, banyak program menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan ibu. Namun, seperti terlihat dalam penelitiannya, pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan praktik.

Menurutnya, program gizi juga perlu memastikan ibu memiliki ruang untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar. Tanpa itu, intervensi seperti pemberian makanan tambahan atau penyuluhan tidak akan optimal. 

“Tidak hanya fokus ke pengetahuan atau mungkin menyediakan makanannya, tapi perlu juga melihat dari sisi empowerment ibunya, dia punya ruang dan kemandirian enggak sih untuk mengambil keputusan,” kata Siti. 

Ibu boleh jadi tahu pentingnya MPASI beragam, tetapi keputusan belanja, pilihan bahan makanan, hingga siapa yang memasak kerap berada di tangan orang lain.

Sebab itu pendekatan pemberdayaan tidak berarti hanya menguatkan ibu seorang diri. Dukungan keluarga justru menjadi kunci. Ayah, nenek, atau anggota keluarga lain yang terlibat dalam pengasuhan perlu mendapatkan informasi yang sama agar praktik pemberian makan konsisten.

“Jangan sampai menerjemahkan pemberdayaan perempuan itu perempuannya yang kuat tapi yang lain lemah. Tidak seperti itu, jadi harus saling mendukung,” pesannya.

Terakhir, Siti menyoroti perlunya perubahan dalam cara program kesehatan disampaikan oleh pemerintah dan dinas terkait. Ia menyebut pesan gizi selama ini terlalu berpusat pada ibu, padahal pengasuhan bersifat kolektif. Pesan-pesan kesehatan sebaiknya dibuat menunjukkan keterlibatan atau dukungan anggota keluarga yang lain. 


Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Desainer: Salsabila Kamila Wardah

Baca artikel penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Mimbar

image-featured
12 Juni 2026

Badal umroh menjadi ibadah yang kerap dilakukan untuk mewujudkan bakti kepada orang tua dan memenuhi nazar. Bagaimana pandangan Muhammadiyah mengenai ibadah ini?

image-featured
6 Mei 2026

Daging kurban banyak dinantikan umat Islam di Hari Raya Iduladha. Bagaimana aturan pembagiannya?

image-featured
20 April 2026

Emas digital menawarkan banyak kepraktisan, tetapi tak semua praktiknya sesuai syariah. Pahami sebelum berinvestasi!

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.