Sebanyak empat tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-37 yang mengusung tema “Berkompetisi Mengasah Kreativitas Mahasiswa Indonesia Bertalenta Menjadi Pribadi Yang Solutif, Inovatif dan Produktif”. Jumlah tim yang lolos PIMNAS 2024 mengalami peningkatan dibanding tahun 2023 yang hanya dua tim. Salah satunya berhasil membawa pulang satu medali perunggu.
Kepala Biro Kemahasiswaan UMS Ir. Ahmad Kholid Al Ghofari, S.T., M.T., mengatakan PIMNAS merupakan ajang paling bergengsi di bidang kemahasiswaan karena prosesnya yang panjang. Tahapan awal dimulai dari seleksi proposal mahasiswa di tingkat universitas.
“Di UMS sendiri ada 1.600-an proposal yang masuk dan itu diseleksi. Yang hanya boleh diunggah ke Belmawa Kemdikbud hanya 400. Dari 400 itu, yang didanai hanya 16, dan yang lolos PIMNAS ini ada empat,” tutur Kholid, Selasa (8/10/2024).
Seleksi PKM sendiri lazimnya berlangsung selama 2-3 bulan. Seleksi internal dilakukan saat UMS membuka seleksi proposal PKM di tingkat universitas pada akhir tahun. Mahasiswa yang lolos seleksi internal akan mendapat program pendampingan untuk mengunggah proposal ke Belmawa.

Suasana pengabdian di SLB YPAC Surakarta. dok.Humas UMS
“Tentu kita berharap empat tim yang lolos PIMNAS bisa berjuang untuk ikut PIMNAS di UNAIR dengan lancar dan mendapatkan medali,” harap Kholid.
Salah satu tim PKM Skim Pengabdian Masyarakat yang lolos adalah tim dengan program “Motivation Layer dan Digitalization Training untuk Difabel Berbasis Self Capacity menuju Inklusi Total”. Tim tersebut diketuai Muhammad Sidiq. Dia menceritakan idenya berangkat dari permasalahan yang dialami Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surakarta.
“Permasalahan mereka yang belum terputus itu minimnya keterserapan alumni di dunia kerja. Setelah lulus, hanya sedikit yang bisa kerja bisa mandiri secara ekonomi. Penyebabnya ialah rendahnya kemampuan digital dan rendahnya rasa percaya diri atau minder,” ujar Sidiq.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, tim melakukan motivation layer yang menyasar dua fokus sekaligus, yaitu hard skill dan soft skill. Tim tersebut juga menggelar pelatihan desain menggunakan aplikasi Canva dan Capcut untuk meningkatkan kemampuan digital peserta.
Sedangkan kegiatan untuk meningkatkan rasa percaya diri peserta adalah dengan melepas peserta di tempat publik, seperti Masjid Sheikh Zayed, untuk berani berinteraksi dengan pengunjung lainnya.
Sidiq memandang PIMNAS bukanlah kompetisi melainkan sebagai tempat menyalurkan kegiatan yang telah dilakukan oleh kelompoknya. Dia ingin memberdayakan orang-orang berkebutuhan khusus di tempat lainnya. Dia sendiri tidak ingin mengeksploitasi drama difabel untuk prestasinya.
“Difabel juga enggak kami beritahu kalau kami mau ikut PIMNAS. Itu hal yang menyakitkan sebab hanya menggunakan mereka untuk berinvestasi. Takutnya eksploitasi,” ujar Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS itu.
Dia berharap gagasan demikian dapat dikembangkan lebih besar lagi dan mengubah cara pandang mahasiswa terhadap ajang seperti PIMNAS.
Penulis: Maysali
Editor: Gede
Sumber: News UMS
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







