Sebanyak 16 tim dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil lolos Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang mendapatkan hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
PPK Ormawa adalah program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi organisasi kemahasiswaan. Pelaksanaannya terus mengalami peningkatan, baik jumlah proposal, maupun jumlah organisasi dan perguruan tinggi pengusul.
Kabag Penalaran, Kreativitas, dan Softskill Biro Kemahasiswaan UMS, Ir. Muhammad Al Fatih, S.T., M.T., mengungkapkan UMS masuk 4 besar perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta se-Indonesia yang mengikuti program PPK Ormawa.
“Kalau dari persiapannya, tahun ini memang lebih matang dari awal. Kami awali dengan brainstorming dulu dari 139 Ormawa yang ada di UMS. Kami minta mereka untuk menyampaikan ide-idenya,” paparnya, Sabtu (8/6/2024).
Alfatih mengatakan dari 65 proposal yang masuk untuk persiapan PPK Ormawa, sebanyak 40 proposal berhasil lolos penyaringan tahap pertama. Proposal tersebut kemudian diseleksi kembali melalui standar yang telah ditetapkan Kemendikbudristek.
“Setelah di review tadi, terpilih 22 atau 23 tim untuk melakukan presentasi di depan dosen reviewer-nya. Sebetulnya memang proses persiapan cukup lama dari bulan Februari saat ada Training of Trainer (ToT) Ormawa di Asrama Haji dulu,” ujar Kabag Penalaran, Kreativitas, dan Softskill Biro Kemahasiswaan UMS itu.
Saat mengajukan proposal ke dalam sistem PPK Ormawa, Kemendikbudristek hanya membatasi maksimal 20 proposal, sehingga UMS memaksimalkan proposal dari tiap-tiap ormawa yang telah diseleksi internal oleh kampus.
“Dari 20 proposal ajuan kemudian dilakukan presentasi. Alhamdulillah UMS dapat lolos 16 tim. Ini luar biasa. Tim yang telah lolos kemudian kami dampingi secara luring dan daring agar benar-benar sesuai dengan standar Belmawa (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan),” ungkapnya.
Menurutnya, selain Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), PPK Ormawa sebetulnya lebih menggiurkan. Jika PKM ini lebih ke individu mahasiswa, maka PPK Ormawa lebih ke kelompok sehingga aktivisnya lebih terarah dan program yang dilakukan dapat bermanfaat ke masyarakat.
“Misalnya setiap tim akan mendapatkan Rp32-39 juta, kalau dikali 16 tim sudah lebih dari Rp500 juta atau setara dengan setengah milyar. Kalau PKM biasanya kita mendapat Rp18 juta dikali 6-7 tim itu hanya Rp140-an juta,” tambahnya.
Biro Kemahasiswaan UMS sedang mendorong kedua program tersebut agar dapat berjalan secara maksimal.
Kesempatan ini juga dapat dimaksimalkan pendamping yang mampu menginspirasi dan mendorong timnya hingga akhir kegiatan agar mendapatkan apresiasi dari PPK Ormawa. Bahkan, Alfatih mengatakan pendamping akan mendapat peluang melalui tawaran untuk menjadi reviewer nasional juga.
“Harapannya tim yang lolos pendanaan ini dapat berjalan maksimal dan kompak, baik antar mahasiswa, dosen pembimbing maupun mitra masyarakat. Kami juga berharap dengan kekompakan tersebut dapat membawa tim ke ajang Abdidaya PPK Ormawa atau kompetisi tertinggi bagi mahasiswa seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Penulis: Fika
Editor: Gede
Sumber: News UMS
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







