Bukan barang baru jika Indonesia kerap mengalami gempa bumi. Negeri berjuluk Zamrud Khatulistiwa ini terletak di pertemuan tiga lempeng aktif, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Tidak heran jika Indonesia masuk ke dalam zona cincin api Pasifik.
Pada tahun 2022, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 10.792 gempa bumi terjadi di Indonesia. 205 di antaranya merupakan gempa dengan kekuatan magnitudo M 5. 10.587 gempa bumi merupakan gempa di bawah M 5 dengan jumlah gempa yang dirasakan sebanyak 807 gempa.
Dari seluruh kejadian gempa bumi di Indonesia, gempa bumi Lombok tahun 2018 merupakan salah satu gempa besar yang langka. Berbeda dari gempa lainnya yang umumnya diikuti gempa susulan dengan magnitudo yang lebih rendah, gempa Lombok 2018 diikuti empat gempa susulan dengan magnitudo di atas 5.
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sebanyak 460 orang meninggal dunia, 7.733 korban luka-luka, dan 417.529 orang mengungsi. Melansir CNN Indonesia edisi 6 Agustus 2018, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan gempa Lombok bersumber dari aktivitas sesar naik Flores (Flores Arch Thrust) di kedalaman 15 km pada 18 km barat laut Lombok.

Dosen Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Annisa Trisnia Sasmi, S.Si., M.T., menduga adanya segmentasi patahan baru di lepas pantai utara Pulau Lombok. Hal ini tertuang dalam riset yang ia susun bertajuk Pemisahan Gelombang Geser Daerah Gempa Susulan Gempa Lombok 2018 Indonesia. Riset ini dipublikasikan ke dalam jurnal Geoscience Letters terindeks Scopus Q1.
Sekilas Gempa Lombok
Peristiwa Gempa Lombok 2018 memunculkan tanda tanya di benak ahli seismologi tanah air. Pasalnya, gempa yang terjadi di lepas pantai utara Pulau Lombok tersebut merupakan fenomena langka dalam sejarah gempa bumi di Indonesia.
Annisa mengatakan lazimnya dalam suatu rangkaian gempa bumi, gempa signifikan hanya terjadi sesekali pada rentang waktu yang relatif panjang yang kemudian diikuti oleh gempa susulan (aftershock).
“Gempa Lombok itu polanya baru. Biasanya kalau gempa itu terjadi bersusulan, maka polanya tidak akan berbeda jauh dari gempa yang pernah terjadi di masa lalu, baik posisinya maupun magnitudonya,” jelas Annisa.
Pada peristiwa Gempa Lombok, gempa pembuka terjadi di tanggal 29 Juli 2018 dengan magnitudo 6,4. Semula, banyak yang mengira bahwa gempa tersebut merupakan gempa utama. Hal ini diperkuat dengan serangkaian gempa susulan dengan magnitudo yang lebih rendah di sekitar episentrum gempa.
Dugaan tersebut kemudian dipatahkan pada saat gempa yang lebih besar terjadi di tanggal 5 Agustus (M 7,0), 9 Agustus (M 5,9), dan 19 Agustus (M 6,3 dan M 6,9). Ahli seismologi kemudian menetapkan gempa di tanggal 5 dan 19 Agustus sebagai gempa utama (mainshock). BMKG mencatat setidaknya terdapat 5.500 gempa susulan sepanjang Agustus - Oktober 2018 dengan magnitudo di bawah 5.
“Gempa yang cukup signifikan, ditambah distribusi aftershock secara masif itu belum pernah terjadi di area pesisir utara Pulau Lombok. Biasanya di daerah dekat Bali atau di daerah selatan yang dekat zona subduksi,” ujar dosen Fakultas Geografi UMS itu.
Dugaan Adanya Segmentasi Patahan

Annisa mengatakan ada deformasi baru di sekitar pantai utara Pulau Lombok. Menurutnya, sesar tersebut tersegmentasi dan muncul dalam beberapa fase atau tahapan. Ia menambahkan, zona deformasi tersebut diduga terbentuk pada kedalaman 20 km di mana kedalaman tersebut masih terbilang dangkal.
Temuan segmentasi patahan baru tersebut masih membutuhkan pembuktian yang lebih kuat, Annisa mengamini bahwa perlu adanya penelitian lanjutan secara mendalam untuk memetakan luasan area patahan baru dan potensi gempa yang akan muncul di masa mendatang.
“Penelitian lanjutan rencananya mau melakukan pemetaan secara lebih jelas mengenai distribusi dari daerah zona patahan berdasarkan temuan dalam penelitian saya ini,” ungkapnya.

“Untuk menjustifikasi ada tidaknya potensi gempa bumi signifikan di masa mendatang, diperlukan studi lain yang dapat memperkuat hasil dari studi shear wave splitting, baik studi dengan metode geofisika lain, maupun dengan pendekatan geodesi. Adapun waktu dan lokasi persis dari gempa bumi di masa mendatang, sejauh ini belum ada penelitian yang dapat menjawab kedua hal tersebut,” Annisa memaparkan.

Langkah Mitigasi
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Berita Unggulan
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







