Cantigi dan Daya Tariknya
Di ketinggian yang mencapai 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), hanya segelintir tumbuhan yang mampu bertahan hidup. Salah satunya adalah cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Tanaman khas pegunungan tinggi Indonesia yang selama ini lebih dikenal sebagai penanda alami arah puncak pendakian.
Bagi dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Efri Roziaty, S.Si., M.Si., cantigi menyimpan potensi besar yang belum banyak dikaji. Bersama Dr. Santhyami, S.Si., M.Si., serta mahasiswanya, yakni Dawud Fa'i Salsabilla, Muhammad Yahya Nur Sholihin, Salsa Anida Rahmania, Muhammad Asyam Fathin, Ima Aryani, dan Putri Agustina, Efri meneliti morfologi, sebaran ekologis, dan kandungan senyawa aktif cantigi di Gunung Lawu.
Ketertarikan Efri terhadap riset tanaman pegunungan tidak muncul secara tiba-tiba. Jauh sebelum penelitian cantigi dilakukan, ia telah membimbing mahasiswa yang meneliti keanekaragaman jenis edelweiss (Anaphalis javanica) di Gunung Lawu.
Dari riset tersebut, muncul informasi menarik yang Efri dapatkan selain edelweiss. Terdapat vegetasi lain yang populasinya cukup melimpah di ketinggian ekstrem, salah satunya cantigi.
“Bentuknya mirip pucuk merah, tapi bukan pucuk merah,” ujar Efri mengenang cerita mahasiswanya di Laboratorium Biologi 1 UMS, Sabtu (31/1/2026). Rasa penasaran itulah yang kemudian berkembang menjadi proyek penelitian terstruktur.
Lantaran medan Gunung Lawu tergolong ekstrem, riset ini sangat bergantung pada mahasiswa yang memiliki pengalaman mendaki. Pun kesiapan fisik dan mental untuk bekerja di alam terbuka selama kurang lebih satu pekan.
Penelitian cantigi dilakukan sekitar tahun 2023 dan dirancang agar dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu tahun. “Di sini, tim kami menggunakan metode eksplorasi dengan pendekatan purposive sampling atau pengambilan sampel berdasarkan tujuan penelitian. Tapi, saya tidak ikut mendaki sampai puncak karena tak cukup kuat fisiknya,” tambah Efri.
Dalam praktiknya, tim mahasiswa Efri mendaki hingga mendekati puncak Gunung Lawu, mencapai ketinggian sekitar 3.000 mdpl. Guna mencari dan mendokumentasikan keberadaan cantigi.
“Pendekatan ini dipilih karena sebaran tanaman belum diketahui secara pasti, baik batas ketinggian maksimal maupun kepadatan populasinya. Dan tantangan paling besar jelas suhu ekstrem,” jelas dia.

Pada siang hari, lanjut Efri, suhu di ketinggian tersebut berkisar 15-20 derajat Celsius, sementara pada malam hari bisa turun drastis menjadi 2 derajat Celcius, bahkan -7 derajat Celcius di musim hujan. Selain itu, medan yang berat dan keterbatasan logistik membuat setiap pengambilan sampel harus dilakukan secara efisien.
Keberagaman Morfologi Cantigi
Penelitian Efri bertajuk “Morphology and Phytochemical Potential of Vaccinium varingiifolium in Mount Lawu, Karanganyar District, Central Java, Indonesia” memetakan karakter morfologi daun, batang, dan perawakan tanaman sebagai tahap awal. Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah keragaman, khususnya tingkat morfologi cantigi.
Berbeda dengan edelweiss yang relatif seragam, cantigi menunjukkan variasi bentuk yang cukup mencolok. “Ada cantigi yang hanya tumbuh setinggi satu hingga dua meter, namun ada pula yang tumbuh menyerupai pohon kecil atau cukup besar untuk dijadikan tempat berlindung,” kata Efri.

Analisis morfologi penting untuk memahami adaptasi cantigi terhadap lingkungan ekstrem, sekaligus sebagai dasar bagi penelitian lanjutan di bidang ekologi dan kimia alami. Yang menarik, cantigi hanya ditemukan pada ketinggian sekitar 2.000-3.000 mdpl.
“Di bawah batas ketinggian yang kami sebut di awal, misal seperti Bukit Mongkrang yang lebih rendah, cantigi nyaris nggak dijumpai. Cantigi memiliki niche ekologi atau relung ekologi yang sangat spesifik, terutama terkait suhu dan ketinggian,” paparnya.
Kandungan Flavonoid dan Tanin
Fokus utama penelitian Efri selanjutnya ialah analisis kandungan fitokimia daun cantigi, khususnya keberadaan flavonoid dan tanin. Kedua senyawa ini dikenal sebagai metabolit sekunder yang banyak ditemukan pada tanaman, terutama yang hidup di lingkungan dengan tekanan ekologis tinggi.
“Pada hampir semua tanaman dataran tinggi, flavonoid biasanya dominan. Cuma penelitian kami masih pada tahap profiling awal, belum sampai pada pengukuran kuantitatif kadar senyawa secara rinci,” jelas Efri.

Meski demikian, temuan Efri dan tim membuka peluang besar. Flavonoid, kata Efri, bermanfaat sebagai antioksidan, antiinflamasi, hingga kandidat antikanker.
“Untuk sampai pada tahap tersebut, tentu dibutuhkan penelitian lanjutan seperti isolasi senyawa, uji bioaktivitas, dan skrining farmakologis,” tambah dia.
Dalam peta jalan penelitiannya, Efri menargetkan cantigi sebagai sumber alternatif bahan alam untuk pengembangan obat, khususnya antikanker. Namun memang riset ini tergolong high cost dan high risk, baik dari sisi pendanaan, sumber daya manusia, maupun akses lokasi.

Ada pula tantangan besar terkait konservasi. Gunung Lawu merupakan kawasan lindung, sehingga pengambilan sampel tanaman tidak bisa dilakukan sembarangan. Meski belum berstatus dilindungi ketat seperti edelweiss, pemanfaatan cantigi tetap harus mengikuti prinsip keberlanjutan.
“Kalau mau dikembangkan, harus sangat hati-hati. Jangan sampai riset justru merusak ekosistem,” tegas Dr. Efri
Peluang Riset Masih Terbuka Lebar

Bagi Efri, penelitian tentang cantigi ini baru langkah awal. Ia menyadari betul, apa yang sudah dikerjakan bersama timnya baru menyentuh sebagian kecil dari potensi tanaman pegunungan tersebut.
Selama ini, fokus riset baru berada pada daun, sementara bagian lain seperti buah, batang, dan akar masih menunggu untuk dieksplorasi lebih jauh. Lantaran cantigi memang menyimpan banyak potensi.
Efri bercerita, buah cantigi memiliki bentuk kecil menyerupai beri, dengan warna merah kehitaman saat matang. Beberapa mahasiswa yang ikut mendaki bahkan sempat mencicipinya.
“Kata mahasiswa, rasanya manis-asam,” ujarnya. Bagian ini pula yang memantik rasa ingin tahu tim peneliti, karena berpotensi menyimpan kandungan kimia yang berbeda dari daunnya.
Sayangnya, keinginan itu tak selalu sejalan dengan kenyataan di lapangan. Keterbatasan waktu penelitian, kondisi cuaca, serta medan Gunung Lawu yang tidak mudah dijangkau membuat tim peneliti belum tentu berjodoh dengan fase berbunga atau berbuah tanaman.
Begitulah tantangan riset biodiversitas di alam liar. Hasil penelitian sangat bergantung pada musim, cuaca, dan dinamika ekosistem yang terus berubah.
Meski demikian, Efri melihat riset cantigi sebagai pintu masuk yang penting. Ia berharap penelitian ini bisa menjadi contoh bahwa Indonesia, dengan kekayaan hayatinya, masih menyimpan banyak harta karun ilmiah yang belum tergali.
Penulis: Genis Dwi Gustati
Editor: Al Habiib Josy Asheva
Desainer: Salsabila Kamila Wardah
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







