Rasa Syukur dan Kemurnian Hati
Metode Menghafal Al-Qur’an
Al-Quran sebagai Cahaya Penerang

Setiap manusia dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, Allah ta'ala tak pernah membuat asa kita redup. Melalui kalam-Nya, Ia berfirman yang artinya, "Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman." (QS. Ali Imran: 139).

Ayat tersebut seolah menjadi pengingat seperti halnya para penyandang tuna netra yang mampu menginspirasi kita dengan dedikasinya yang tak tergoyahkan dalam menghafal Al-Qur’an. Perjalanan yang mereka tempuh tak pernah mudah. Namun bagi mereka, Al-Qur’an menjadi peta untuk menuju kesempurnaan spiritual.




Perjalanan penyandang tuna netra dalam melestarikan ayat-ayat suci Allah menggugah Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D. untuk menyelisik lebih dalam. Lewat penelitiannya yang bertajuk “Preserving Qur’an Through Blind Eyes: Self-Regulation of Blind People in Memorizing the Qur’an”, ia mengidentifikasi motivasi dan mengkaji praktik pengaturan diri pada penyandang tuna netra dalam menghafal dan menjaga hafalan Al-Qur’an. Penelitian tersebut tentu telah diakui dunia lantaran tembus di Journal of Disability and Religion terindeks Scopus Q2.

Rasa Syukur dan Kemurnian Hati

Kita mestinya lebih bersyukur ketika diberikan indera yang lengkap, khususnya indera penglihatan. Sehingga kita dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 

“Sedangkan orang-orang yang hidup dengan kebutaan kemungkinan besar mempunyai beberapa masalah dengan aktivitas yang mereka akan dan sedang kerjakan. Namun ada hikmah luar biasa yang menyertai kebutaan mereka, salah satunya adalah mereka mampu menjaga kesucian mata dari hal-hal yang menimbulkan dosa,” terang Prof. Taufik, Kamis (26/10).

Ia menerangkan ketiadaan penglihatan pada satu sisi membatasi ruang gerak seseorang, namun di sisi lain justru menjaga seseorang dari perbuatan maksiat. Berkurangnya maksiat akan membuat hati menjadi bersih dan pikiran menjadi mudah dalam menghafal, sehingga mereka fokus terhadap aktivitas menghafal tanpa dibebani oleh dosa-dosa dari perbuatan maksiat mata.

“Hati yang bersih adalah sumber kebaikan sehingga akan menstimulasi munculnya kebaikan-kebaikan lainnya. Hati yang bersih juga akan melahirkan sifat-sifat yang terpuji seperti kesederhanaan, ketenangan, kebahagiaan, dan keikhlasan. Al-Qur'an adalah firman Allah, membaca dan menghafalnya semestinya dengan kesucian hati. Sesuatu yang suci dari Dzat Yang Maha Suci mesti diperlakukan dengan kesucian hati. Demikianlah keutamaan penghafal Al-Qur'an penyandang tuna netra, Allah telah menganugerahkan banyak kelebihan dibalik kekurangan-kekurangan yang mereka miliki,” ucapnya secara gamblang.

Sementara orang normal, imbuhnya, menghafal Al-Qur’an ditumpuk-tumpuk dengan berbagai masalah yang mereka lihat. Indera penglihatan bisa menjadi kelemahan dan kelebihan, tergantung bagaimana cara kita menjaga pandangan.

Metode Menghafal Al-Qur’an

“Mereka (para penyandang tuna netra) dapat menghafal ayat-ayat suci dengan dua cara, lewat indera perabaan dan pendengaran,” ujar Guru Besar Bidang Psikologi Islam itu.

Penyandang tuna netra menerapkan metode menghafal yang direncanakan melalui manajemen diri dan waktu. Manajemen waktu merupakan suatu sistem untuk mengendalikan dan menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin, sedangkan manajemen diri mengacu pada metode, keterampilan, dan strategi untuk mengarahkan individu menuju pencapaian tujuan.

“Mengatur waktu itu diperlukan komitmen dan kesiapan sehingga penerapan strategi menghafal bisa dijalani dengan sungguh-sungguh. Mereka memiliki waktu terbaik masing-masing, karena kami mencari informan yang menyandang tuna netra dengan karakteristik berbeda-beda. Sebagian dari mereka mengalami kebutaan sejak lahir, ada juga yang di umur 12 tahun atau 15 tahun baru mengalami kebutaan, dan mereka profesinya berbeda-beda (mahasiswa, guru, tukang pijat, dan pengusaha),” sambungnya.

Dengan perbedaan profesi dan pengalaman kebutaan, tentu mereka mengalami masalah mental yang tak sama. Masing-masing penyandang tuna netra mengakui dirinya memiliki waktu terbaik untuk berinteraksi dengan kalam-kalam Allah. 

“Ada yang mengulangi hafalan pada saat mengerjakan sholat sunnah, setiap sholat subuh dan magrib, serta memprioritaskan sepertiga waktu setiap harinya untuk meningkatkan hafalan dan mengulang ayat hafalan. Ada pula yang menargetkan untuk mengulang hafalan setiap minggunya bagi yang telah menghafal Al-Qur’an 30 juz,” jelas Prof. Taufik.

Menurutnya, penyandang tuna netra memerlukan pengaturan diri yang lebih kuat untuk mengendalikan perilaku, pikiran dan emosinya, karena sejatinya mereka telah menghambakan diri lewat kedisiplinan menghafal dan menjaga hafalan Al Qur’an.

Al-Quran sebagai Cahaya Penerang

Perbincangan dengan Prof. Taufik bak sebuah refleksi diri. Bagaimana tidak? Temuan-temuan dalam penelitian dosen Psikologi itu semakin mempertegas kedudukan Al-Qur’an sebagai kitab paling komplit karena mampu mengusir penyakit, terutama penyakit hati. As-Syifa, nama lain Al Qur’an, ampuh untuk menghempaskan kecemasan, menenangkan hati, hingga memompa kesehatan jiwa.

Kalimat penggugah yang pernah dilontarkan salah satu penyandang tuna netra kepada Prof. Taufik menjadi babak final yang mengakhiri dialog kami. Ia berkata, "Allah Maha Bijaksana dalam memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya. Kebutaan yang kami alami merupakan anugerah dari Allah. Karena kami tidak diperlihatkan godaan-godaan yang menggoyahkan iman, Insya Allah hafalan terjaga".

“Mereka mengajarkan kita tentang kekuatan iman, tekad, dan cinta kepada Allah yang tidak terbatas. Bagi penyandang tuna netra, Al-Quran menjadi cahaya penerang yang mengisi jiwa mereka,” tutur Dosen Fakultas Psikologi itu dengan penuh pengahayatan.

Tak lupa, ia mengingatkan ilmu apapun yang kita pelajari hendaknya menjadi sarana untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana yang ditulis Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam. 

"Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang disertai rasa takut kepada Allah, karena ia akan menjadi kebaikan bagi kamu. Sedangkan ilmu yang tidak disertai rasa takut kepada-Nya akan menjadi bencana bagi kamu.

Penulis: Genis Dwi Gustati 

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Baca jurnal penelitian
Lebih dekat dengan peneliti

Berita Unggulan

image-featured
23 Mei 2026

Waham magis-mistis menjadi salah satu gejala yang dapat muncul pada pasien skizofrenia. Perlu pendekatan komunikasi terapeutik untuk menggali masalah pada pasien dengan gangguan jiwa.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
11 April 2026

Kandungan gizi MPASI berkaitan dengan keputusan ibu. Pemberdayaan perempuan dan dukungan sosial menjadi kunci gizi buah hati terpenuhi.

sdgs-label
sdgs-badge
image-featured
6 Maret 2026

Penanganan bencana harus selaras dengan komunikasi bencana yang cepat, tepat, dan berempati pada korban. Mendukung pemulihan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.

sdgs-label
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.