Perawatan Paliatif
Konsep Kematian yang Baik
Membangun Kedekatan dan Kepercayaan
Dampak
Pesan untuk Akademisi



Kebutuhan pasien penderita penyakit terminal (secara medis tidak ada kemungkinan sembuh) cukup menyita perhatian dan menimbulkan kekhawatiran perawat-perawat di Indonesia. Pasalnya, Indonesia masih dalam tahap merintis perawatan paliatif, khususnya pada kasus kanker stadium lanjut. Meskipun sudah tersedia standar nasional tentang Program Paliatif Kanker oleh Kementerian Kesehatan RI, rumah sakit yang menyediakan perawatan paliatif masih tergolong sangat rendah. Hal tersebut disebabkan karena sedikitnya fasilitas untuk melakukan perawatan dan kurangnya pelatihan kepada perawat.

Menyikapi masalah tersebut, Dosen Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dimas Ria Angga Pribadi, S.Kep., Ns., MSN., Ph.D. baru-baru ini melakukan penelitian dengan judul “Perspectives of Indonesia Muslim patients with advanced lung cancer on good death: A qualitative study”. Penelitian yang masuk jajaran jurnal internasional European Journal of Oncology Nursing dan terindeks Q2 ini memuat perspektif pasien muslim penderita kanker stadium lanjut di Indonesia tentang konsep kematian yang baik.

Perawatan Paliatif

Pada hakikatnya, perawatan paliatif merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah berupa penyakit terminal (seperti: kanker, HIV/AIDS, dan lainnya), baik secara fisik, psikososial, dan religiositas. 

“Meskipun pada akhirnya pasien tinggal menunggu waktu untuk berpulang, yang terpenting sebelum itu terjadi mereka sudah siap secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya atau memikirkan keluarga yang ditinggalkan,” tutur Dosen Keperawatan itu.

Menurutnya, perkembangan perawatan paliatif di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan di luar negeri. Sedangkan pasien penyakit terminal usia dewasa hingga lansia di Indonesia jumlahnya bertambah banyak.

“Saat ini saya sedang berada di Taiwan, di sini rumah sakitnya sudah menyediakan lantai atau bangsal khusus perawatan paliatif. Contohnya: bagi pasien terminal yang ingin mendekatkan diri pada Tuhan di akhir hidupnya, disediakan tempat ibadah sesuai keyakinan mereka, dan masih banyak fasilitas lainnya yang diharapkan dapat mendukung perawatan,” sambung Dimas melalui Zoom Meeting, Selasa (29/8).

Konsep Kematian yang Baik

Penelitian yang menggunakan responden (pasien terminal) RSUD Dr. Moewardi Solo ini memberikan hasil temuan yang menarik, di antaranya: meninggal tanpa ketidaknyamanan fisik, meninggal sesuai dengan kepercayaan dan di tempat yang diinginkan, meninggal tanpa ketidaknyamanan emosional, menerima pertolongan dan dukungan yang dibutuhkan, dan menjalin hubungan baik dengan staf medis. 

Meninggal dengan kenyamanan fisik menjadi aspek terpenting dari kematian yang baik bagi sebagian besar pasien terminal. Nyeri merupakan keluhan paling umum, sehingga perlu dilakukan upaya untuk meringankan rasa sakit yang dialami pasien. 

“Pasien-pasien ini kan tekanannya sangat luar biasa, dan kebanyakan dari mereka mengungkapkan bahwa hal yang pertama mereka harapkan ketika tutup usia adalah meninggal dengan rasa nyaman,” jelas Dimas.

Kedua, religiositas menjadi inti dari pengalaman banyak pasien kanker stadium lanjut. Sebagian dari mereka berpikir apakah mereka akan tutup usia dengan keimanan yang cukup dan akankah mereka juga berakhir di tempat terbaik. 




“Kalau dalam Islam, muslim pasti berharap mereka dapat meninggal dengan husnul khatimah. Begitu juga dengan pasien-pasien yang memeluk agama lain, mereka juga menginginkan hal serupa. Nah, berkaitan dengan itu, perawatan paliatif dapat menjadi jembatan mereka untuk mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa di akhir sisa hidupnya, contohnya: diadakannya kegiatan rutin seperti pengadaan ruang khusus ibadah, dituntun mengaji hingga dibimbing mengucap syahadat,” imbuhnya.

Hasil temuan ketiga menunjukkan adanya kekhawatiran emosional yang dialami pasien kanker stadium lanjut, namun terkadang hal tersebut justru diabaikan oleh tim medis bahkan keluarga pasien. Menurut Dimas, memfasilitasi persiapan emosional pasien dalam menghadapi kematian menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka. 

“Masih dalam konteks palliative care, mungkin perlu adanya fasilitas berupa ruangan untuk pasien dan keluarga berdiskusi, sehingga hal-hal yang menjadi kekhawatiran pasien terminal itu dapat diusahakan atau diperbaiki. Masalah yang paling sering ditemui biasanya terkait finansial,” terang Dimas. 

Mendapatkan support dari keluarga, teman atau rekan kerja merupakan hal yang sangat diharapkan oleh pasien terminal. Dukungan tersebut bisa berupa motivasi agar pasien lebih lapang dada dalam menghadapi sakit yang diderita.

“Intinya adalah kekuatan dari orang-orang terkasih yang membuat pasien merasa nyaman dan lebih bisa menerima keadaannya,” ujar Dosen Keperawatan itu.

Lebih lanjut, Dimas menuturkan jika pasien terminal tentu berada dalam tekanan emosional yang tinggi dalam menghadapi kematiannya. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama tenaga kesehatan. 

Perawatan yang profesional dan optimal dari staf medis itu sangat diperlukan. Bagaimana dokter itu bisa memaksimalkan pengobatan dan perawat bisa memaksimalkan pelayanan atau perawatan, meskipun sebagian besar pasien terminal sudah tahu bahwa hidup mereka tinggal menunggu hari,” tegas Dimas.

Membangun Kedekatan dan Kepercayaan

Dimas sempat menjelaskan penelitian yang dilakukannya memiliki banyak tantangan, mulai dari mengurus izin ke pihak rumah sakit terkait, ujian kelayakan penelitian hingga membangun kedekatan dan kepercayaan kepada para responden agar mendapatkan hasil wawancara yang representatif. Waktu yang ia tempuh untuk mengumpulkan data di RSUD Moewardi Solo berkisar satu bulan.

Collecting data tidak dilakukan dalam sehari langsung jadi. Pasien-pasien dengan penyakit terminal ini kan sangat sensitif, sehingga perlu pendekatan secara intens dan penuh kehati-hatian agar mereka tidak tersinggung,” ujar Dimas.

Dampak

“Sebenarnya penelitian ini adalah tahap pertama (kualitatif), di mana nanti saya akan melanjutkan ke tahap selanjutnya. Hasilnya akan berupa instrumen untuk mengukur perawatan paliatif ke pasien, dan ini sudah jadi,” terang Dimas.

Menurut Dimas, instrumen yang ditelitinya akan berdampak pada kemajuan perawatan paliatif khususnya di Indonesia. 

“Dengan instrumen ini, kinerja perawat atau medical team yang melakukan palliative care ke pasien dapat diukur dan dievaluasi,” tambahnya.

Tak hanya itu, Dosen Keperawatan tersebut menerangkan Program Studi Keperawatan UMS telah memberikan mata kuliah Perawatan Paliatif ke mahasiswanya. Diharapkan nantinya mahasiswa dapat mengetahui ilmu dasar dan mendapatkan pelatihan perawatan paliatif selama menjalani studi.

Pesan untuk Akademisi

Di akhir wawancara, dosen yang telah merampungkan studi S3-nya di Taiwan itu berharap agar mahasiswa maupun dosen yang berfokus di dunia keperawatan dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengejar penelitian kualitatif.

“Tujuan kita salah satunya adalah submit jurnal, dan lingkup kita itu berhubungan dan berinteraksi dengan manusia. Kita perlu masuk lebih dalam untuk mengetahui kebutuhan pasien ya dengan cara ini,” pungkas Dimas.

Penulis: Genis Dwi Gustati

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Studi kasus
Lebih dekat dengan peneliti

Berita Unggulan

image-featured
14 Juni 2026

Smogra adalah aplikasi digital besutan tim peneliti UMS. Mengintegrasikan berbagai teknologi IoT untuk menciptakan pelajar yang peduli terhadap lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

Pameran teknologi otomasi kembali digelar oleh Prodi PTI UMS. Menampilkan 16 karya terbaik buatan mahasiswa PTI semester enam.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

40 kelompok mahasiswa TI UMS semester 6 memamerkan proyek akhir Capstone Project. Karya mereka berupa inovasi aplikasi, sistem informasi, kecerdasan buatan, hingga teknologi IoT.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.