Untuk pertama kalinya, Tapak Suci Putera Muhammadiyah diperkenalkan di Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Kegiatan ini mendapatkan antusiasme dari masyarakat setempat, terutama pelajar. Bahkan, latihan rutin telah digelar rutin setiap pekan dan Tapak Suci kini menjadi ekstrakurikuler di SD Muhammadiyah Lahewa.
Nias Utara merupakan wilayah dengan populasi muslim hanya sekitar 6 persen dari total penduduk. Namun, perkembangan Muhammadiyah di daerah ini cukup pesat meski menghadapi berbagai keterbatasan. Beberapa organisasi otonom seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah juga telah tumbuh di wilayah ini.
Meskipun minoritas, semangat dakwah Muhammadiyah tidak surut. Justru, kondisi ini menjadi motivasi untuk terus berkontribusi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Salah satu bentuk kontribusi nyata adalah pengenalan ilmu bela diri Tapak Suci yang kini mulai diajarkan oleh para dai.
Tapak Suci di Nias Utara diperkenalkan oleh mahasantri pengabdian Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Zidanul Akhsan, yang berperan dalam memperkenalkan dan membina para pelajar dalam mempelajari bela diri ini.
Zidanul mengungkapkan perkenalan Tapak Suci di Nias Utara bermula dari rasa penasaran salah satu warga yang bertanya, apakah Muhammadiyah memiliki bela diri sendiri sebagaimana beberapa bela diri lain yang ada saat ini. Selain itu, ada juga masyarakat yang telah mengetahui Tapak Suci dan ingin menghadirkannya di daerah ini.
“Dari dorongan masyarakat tersebut, para dai pun mulai mengajarkan bela diri Tapak Suci kepada anak-anak dan remaja Muhammadiyah. Dukungan penuh datang dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), terutama dari Kepala Sekolah SDS Muhammadiyah Lahewa, yang kemudian menjadikan Tapak Suci sebagai program ekstrakurikuler,” ungkapnya pada, Selasa (4/2/2025).
Para pelajar menyambut gembira kegiatan ini karena menjadi bentuk pembelajaran di luar kelas yang menyenangkan dan menyegarkan.
“Seiring waktu, Tapak Suci semakin dikenal oleh masyarakat luas, sehingga menarik minat pelajar dari sekolah lain untuk ikut serta. Kini, pembelajaran Tapak Suci rutin diadakan setiap Ahad pagi dengan sasaran pelajar dari tingkat SD hingga MA,” tambahnya.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari berbagai pihak, termasuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), organisasi otonom, wali murid, serta perguruan silat yang telah lebih dulu ada, seperti PPD Djatinegara.
Salah satu pelatih PPD Djatinegara, Karyaman Zebua, mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, hadirnya Tapak Suci akan menciptakan persaingan yang kompetitif antar perguruan.
“Saya berharap kita bisa bekerja sama, bahkan melakukan latihan gabungan,” ujarnya. Bahkan, ia mengajak Tapak Suci untuk bersama-sama membentuk Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Nias Utara.
Dengan pelatihan Tapak Suci yang berjalan rutin, Karyaman berharap kegiatan ini mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat serta mendorong semangat para pelajar untuk belajar bela diri. Lebih dari sekadar keterampilan fisik, Tapak Suci juga menjadi wadah dakwah dan pembentukan karakter generasi muda di Nias Utara.
Penulis: Fika, Najihus
Editor: Gede
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







