Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan incinerator untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Makaryo Adi Ngayogyakarta (Mardiko), Piyungan, Bantul, Yogyakarta, melalui skema hibah dana riset dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
TPST Mardiko adalah komunitas khusus binaan dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Kelompok ini dibentuk karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang sudah berjalan selama 29 tahun ditutup oleh Sultan pada 2023. Walhasil para pemulung kehilangan mata pencaharian.

Perangkat incinerator yang diberikan Tim Pengabdian UMS. dok.Humas UMS
Wakil Ketua Bidang Komunitas Khusus dan Daerah 3T, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., mengatakan MPM PP Muhammadiyah terus mengupayakan agar para pemulung tetap memiliki pencaharian. Salah satunya dengan membangun rumah produksi yang sejalan dengan peraturan pemerintah, yaitu harus menerima dan mengolah sampah.
Sardjito menerangkan ada empat jenis sampah yang diolah, yaitu busuk, rongsok, popok, dan godong (dedaunan). Jenis sampah busuk diolah untuk pakan maggot. Sampah rongsok merupakan barang bekas yang dapat dijual kembali. Lain halnya sampah godong atau dedaunan yang dapat dijadikan pupuk kompos,. Sedangkan jenis popok termasuk barang berbahaya dan beracun (B3). Kandungan bahan di dalamnya dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan.
“Tim PKM UMS membuat incinerator yang berguna untuk memusnahkan sampah jenis popok dengan cara dibakar,” kata Sarjito yang juga Ketua Pengusul PKM Penerapan TTG untuk Pengolahan Sampah Berbasis Ekonomi Kreatif di Kelompok Pemulung Mardiko Piyungan.

Tim Pengabdian UMS berfoto bersama dengan pihak TPST Mardiko. dok.Humas UMS
Tim tersebut terdiri dari tiga dosen UMS, yakni Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., Alfia Magfirona, S.T., M.T., Drs. Wiyadi, M.M., Ph.D., serta empat mahasiswa UMS, antara lain Ananda Fazira Marfuah, Bayu Septi Aji, Naufal Rozan, dan Dzulfiqar Wibisono.
Ketua Komunitas Pemulung Mardiko Maryana mengungkapkan bantuan incinerator tersebut dapat menyelesaikan masalah yang dialami TPST Mardiko.
“Sejak adanya bantuan incinerator, residunya dapat kami bakar sampai satu ton setiap harinya, yang mana sebelumnya kami harus membuang ke komunitas lain dan harus membayar sejumlah uang,” tuturnya.
Maryana juga mengucapkan terima kasih kepada DRTPM yang telah memercayakan UMS melalui hibah dana riset sehingga dapat merealisasikan incinerator yang sangat berguna bagi komunitasnya.
Penulis: Yusuf
Editor: Gede
Sumber: News UMS
Kiprah
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







