Dalam rangka kegiatan pertukaran mahasiswa dan dosen yang bertujuan memperkuat wawasan global tentang sistem kesehatan primer, Yeni Indriyani, S.K.M., M.P.H., dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berkesempatan memberikan penyuluhan kepada puluhan kader kesehatan masyarakat di Health Center: Promosi Kesehatan, Khon Kaen, Thailand.
Kunjungan akademik tersebut difasilitasi oleh Sirindhorn College of Public Health. Kegiatan itu diikuti delegasi UMS yang terdiri dari dua dosen dan lima mahasiswa. Mereka diterima dalam suasana penuh keakraban oleh jajaran rumah sakit dan para kader kesehatan.
“Kader ini sebagian besar adalah lansia aktif berusia di atas 60 tahun dan masih secara sukarela mendampingi sekitar 10 rumah tangga per kader di wilayahnya,” jelas Yeni saat ditemui pada Jumat (25/7/2025).
Penyuluhan yang dilakukan Yeni Indriyani menyoroti isu kesehatan mental pada lansia. Ia menyebut kesehatan mental menjadi tantangan yang relevan di tengah pertumbuhan populasi lansia secara global.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 menyebutkan jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas aka mencapai 2,1 miliar pada 2050. Lebih dari 60 persen di antaranya berada di Asia.
Sayangnya, WHO juga mencatat lebih dari 20 persen lansia di dunia mengalami gangguan mental atau neurologis. Laporan itu juga menyebut masalah depresi dan kesepian sering tidak tertangani.
“Lansia rentan merasa kesepian, terutama karena banyak dari mereka tinggal sendiri, jauh dari anak-anak, atau sudah kehilangan pasangan hidup. Kesepian ini bisa menjadi awal dari gangguan mental yang lebih serius,” lanjutnya.
Dalam penyuluhan berdurasi hampir dua jam, Yeni memaparkan materi mengenai: gejala umum gangguan kesehatan mental pada lansia; faktor risiko psikososial seperti isolasi, kehilangan peran dalam keluarga, dan trauma masa lalu; teknik sederhana untuk mendeteksi tanda-tanda stres atau depresi; pentingnya kegiatan sosial, kunjungan antar-lansia, serta menjaga relasi spiritual dan komunitas; peran kader kesehatan sebagai ujung tombak pemantauan dan pendampingan lansia di tingkat rumah tangga.
Sesi ini dikemas secara interaktif dengan pendekatan diskusi dan simulasi. Yeni mengajak para kader untuk berbagi pengalaman, berdialog tentang tantangan yang mereka hadapi, serta berdiskusi mengenai solusi berbasis komunitas.
“Jangan abaikan jika seorang lansia tiba-tiba tidak aktif lagi di kegiatan kelompok atau tampak murung,” ujarnya kepada para kader. “Terkadang, sapaan sederhana dan kunjungan ringan bisa sangat berarti.”
Lebih dari 70 kader kesehatan hadir dalam penyuluhan ini. Antusiasme terlihat sejak awal sesi berlangsung. Banyak kader mengaku baru pertama kali mendapatkan pengetahuan mendalam tentang aspek psikologis dalam mendampingi lansia.
“Saya baru sadar bahwa kondisi perasaan juga penting bagi lansia, bukan hanya tekanan darah atau kadar gula,” kata salah satu kader setelah sesi selesai.
Yeni menuturkan, sejumlah kader lain ingin memulai kegiatan kelompok curhat atau ngobrol santai untuk para lansia sebagai bentuk tindak lanjut dari penyuluhan tersebut. Respons positif ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental pada lansia sangat relevan di tengah masyarakat yang sedang mengalami transisi demografis. Dengan penguatan kapasitas kader kesehatan, diharapkan akan lahir pendekatan yang lebih holistik dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Kegiatan penyuluhan ini merupakan bagian dari komitmen UMS dalam memperkuat kerja sama internasional dan menumbuhkan sensitivitas global dalam pendidikan kesehatan masyarakat. Yeni Indriyani, bersama dosen lainnya, yaitu Sheena Rahmadia Asmara Dhani, S.KM., M.K.K., mendampingi mahasiswa selama kegiatan pertukaran mahasiswa yang berlangsung selama beberapa hari di Khon Kaen.
Dosen dan mahasiswa UMS tidak hanya belajar dari sistem kesehatan negara lain, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dengan membagikan pengetahuan dan praktik kesehatan berbasis komunitas yang adaptif dan relevan.
Kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh Yeni Indriyani menjadi contoh nyata kontribusi akademisi Indonesia dalam menjawab tantangan global di bidang kesehatan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan lansia. Dengan semakin meningkatnya populasi lansia, perhatian terhadap kesehatan mental menjadi prioritas yang tidak dapat diabaikan. Kegiatan ini diharapkan menjadi pemicu munculnya inisiatif serupa di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Penulis: Fika Annisa Solihah
Editor: Maysali Sudarwati
Penelitian
UMS Newsletter
Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.







