Mlaya, Kamulyan, Kemlayan
Gudangnya Maestro
Hidupkan Kembali Nadi Seni Kemlayan
Krisis Redupkan Eksistensi
Strategi Jitu Kembalikan Kemlayan
Mider Kemlayan
Rencana ke Depan

Sebidang jalan membelah Kutha Sala, membagi wilayah itu menjadi dua bagian antara Mangkunegaran dan Kasunanan. Di selatan jalan itu, berdirilah Kampung Kemlayan yang kini populer di kalangan kawula muda sebagai tempat nongkrong di akhir pekan.

Mlaya, Kamulyan, Kemlayan

Kemlayan, sebuah nama kampung yang tak asing di telinga warga Solo. Toponim Kemlayan mempunyai sejarah panjang dan sangat erat kaitannya dengan pengaruh Wangsa Mataram Islam yang mengapit kampung ini. Desa Mlaya, begitulah julukannya, merupakan tempat tinggal para penabuh gamelan Keraton. Mlaya, adalah julukan abdi dalem penabuh gamelan. 

Menukil sepenggal kisah Kemlayan dalam buku Satu Kampung Tiga Maestro, Sejarawan Kota Solo, Heri Priyatmoko mengatakan, alkisah Pakubuwono IV (PB IV) berlatih gendhing dengan serius hingga terlupa akan kewajiban salatnya. Agar ia tetap fokus berlatih tanpa melupakan ibadahnya, PB IV berinisiatif membangun tempat ibadah dan sumur untuk bersuci di kawasan itu. 

Dilakukanlah penggalian sumur di kawasan itu. Dua sumur telah digali, namun air tak kunjung menyembur. Kedua sumur itu kemudian diberi nama sumur Bandung dan sumur Ngampok yang masih eksis hingga kini.

Pada penggalian ketiga, barulah muncul mata air yang hingga kini masih dapat digunakan airnya. Sumur itu kelak diberi nama Kamulyan. Dengan keberhasilan itu, maka gembiralah PB IV dan segera mengumumkan kepada penduduk Desa Mlaya untuk mengganti nama desa menjadi Desa Kamulyan yang kelak menjadi Kampung Kemlayan.

Gudangnya Maestro

Saban kampung di Solo menyimpan kisahnya sendiri, tak terkecuali Kemlayan. Sebagai kampung seniman, sudah barang tentu kampung ini sarat akan nilai-nilai budaya nan adiluhung. Dahulu, alunan melodi gamelan dan tembang Jawa yang nyamleng mengalir merdu dari kampung ini, menggerakkan tubuh selaras dengan irama. 

Kampung Kemlayan tersohor sebagai kampungnya para seniman. Puluhan nama seniman lahir di sini seperti: Pelantun tembang Bengawan Solo, alm. Gesang Martohartono; maestro tari Sardono W. Kusuma; empu karawitan gaya Surakarta, Mlayawidada; hingga maestro tari tradisional gaya Surakarta, S. Ngaliman Tjondropangrawit.


Menggeledah setiap sudut Kampung Kemlayan seolah tiada habisnya dibuat terkesima pada jiwa kesenian yang tumbuh mewarnai kehidupan warga Solo. Jika menyelisik lebih dalam di setiap gang tikus Kampung Kemlayan, masih banyak dijumpai bangunan-bangunan kuno yang menampakkan rentang panjang kehidupan para seniman. 

Bangunan kuno yang menjadi saksi bisu masih mudah dijumpai di kampung ini. Mulai dari nDalem Singosaren milik Pangeran Singosari, nDalem Roesradi Widjojosawarno, hingga Mas Don Art Center milik Sardono W. Kusuma. 

Hidupkan Kembali Nadi Seni Kemlayan



Kini, gaungnya Kemlayan meredup dari panggung masyarakat Solo. Tersisih dari ingar-bingar wajah Kemlayan yang berubah menjadi sentra bisnis perdagangan. Realita tergerusnya nafas kebudayaan di Kemlayan memantik Kussudyarsana, S.E., M.Si., Ph.D., Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., dan Muhammad Halim Maimun, S.E., M.M. untuk menghidupkan kembali alunan melodi kesenian di kampung ini.

Lewat program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berjudul “Pengembangan Cultural Tourism pada Kampung Wisata Aktivitas Branding dan Pemasaran Digital”, Kussudyarsana dan tim mencoba hadirkan cara baru memperkenalkan Kemlayan kepada khalayak ramai. Di mata mereka, kampung ini terbilang unik lantaran sejarahnya yang panjang merentang masa melalui kiprah para seniman.

“Kawasan kemlayan ada keunikan dari sisi budaya, arsitektur, dan sejarah. Kalau dari sisi sejarah, di situ dulu adalah tempat tinggal para pengrawit, orang-orang yang pintar dengan seni karawitan, serta pintar menyanyi bahasa Jawa,” tutur Kussudyarsana atau yang akrab disapa Uud, Senin (29/1/2024).

Krisis Redupkan Eksistensi

Uud tidak menampik pesatnya laju pertumbuhan ekonomi telah memaksa Kampung Kemlayan mengubah wajahnya menjadi sentra bisnis dan perdagangan. Hal ini membuat nilai historis seni dan budaya di kampung itu kian tergerus zaman. 

“Daerah situ (Kampung Kemlayan) kini beralih fungsi menjadi kawasan bisnis. Banyak pertokoan berdiri di sekitar kampung itu,” lanjut dia.

Terlebih dalam observasi yang dilakukan Uud dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kemlayan, generasi muda di kampung itu mempunyai minat yang rendah pada seni dan budaya. Hal ini semakin menggerus jiwa seni di kampung itu. 

“Anak-anak muda banyak yang sudah tidak mengenal lagi budaya Jawa. Istilahnya wis ilang Jawane, karena tidak paham dengan seni dan akar budaya Jawa,” imbuhnya.

Observasi itu memunculkan tiga persoalan utama yang dihadapi Kampung Kemlayan untuk kembali eksis sebagai kampung seni, yakni:

  • Tergerusnya citra Kampung Kemlayan dari pusat seni-budaya menjadi pusat perdagangan.
  • Rendahnya minat generasi muda untuk belajar seni budaya tradisional peninggalan leluhur. 
  • Potensi cultural tourism belum dimanfaatkan secara optimal. 

“Sebetulnya agak tragis dari sisi sejarah Kampung Kemlayan itu merupakan kampung budaya yang terkenal, tapi lama-lama karena kegiatan ekonomi jadi terkikis (nilai-nilai budayanya),” ungkap Uud.

Strategi Jitu Kembalikan Kemlayan

Uud menguraikan strategi yang dilakukan dalam pengabdian masyarakat yang ia lakukan, yakni: sosialisasi, Focus Group Discussion (FGD), survey pemetaan, pemasangan logo simbol dan maskot, pelatihan media sosial dan tour guide, event Jelajah Kampung Budaya, hingga pembuatan konten digital. 

“Yang sudah dilakukan lebih dahulu itu pemetaan. Situs-situs yang punya kandungan sejarah yang tinggi sudah berhasil dipetakan, termasuk rumah-rumah tokoh masyarakat hingga budayawan. Cukup scan kode QR bisa langsung tahu informasinya,” terang Uud.


Selain enam strategi di atas, Uud dan tim juga mengembangkan strategi branding untuk menyegarkan citra Kampung Kemlayan. Langkah ini dilakukan dengan menyusun logo baru Kampung Kemlayan.

Tak hanya logo baru, Uud dan tim juga merilis maskot untuk Kampung Kemlayan. Maskot ini terdiri dari dua orang pria dan wanita. Maskot pria digambarkan sebagai penabuh gamelan, sedangkan maskot perempuan digambarkan sebagai penari tradisi.


Dalam artikel publikasinya, Uud menuliskan penanda fisik seperti gapura, simbol, dan maskot membantu dalam menciptakan identitas yang kuat untuk kampung wisata Kemlayan. Penanda tersebut membantu pengunjung mengenali dan mengingat destinasi ini dengan mudah. Identitas yang kuat dapat membantu dalam membedakan Kampung Kemlayan dari destinasi wisata lainnya.

Mider Kemlayan

Pengabdian yang berlangsung selama empat bulan itu juga menjajaki cara baru memperkenalkan eksistensi Kampung Kemlayan. Lewat Mider Kemlayan, Uud mengajak warga Solo menyusuri setiap sudut jalanan Kemlayan, mengenalkan kembali jejak lintas masa kampung seniman. 

“Kita mencoba merintis kampung budaya. Nah, hasil dari kampung budaya itu akan banyak alternatif area yang bisa dikunjungi. Areanya cukup unik bagi mereka yang tidak pernah ke area kampung karena jalanannya sempit dan banyak bangunan kuno,” kata dosen prodi Manajemen itu.

Mider Kemlayan diambil dari kata Mider yang bermakna memutari atau mengitari. Secara keseluruhan, Mider Kemlayan berarti memutari Kemlayan. Program ini hadir dengan empat tema utama, yaitu sejarah, budaya, maestro, dan kuliner.

“Kami mencoba memberikan alternatif dalam Mider Kemlayan dengan mengembangkan antara pengetahuan tentang sejarah budaya, juga pengalaman atau experience yang menarik,” lanjut dia.

Tak berhenti sampai di situ, program ini juga merambah pada pemanfaatan media sosial sebagai salah satu strategi mempromosikan Kampung Kemlayan. Media yang digunakan adalah Instagram @miderkemlayan dan Tiktok @mider.kemlayan.

Rencana ke Depan

Dari pengabdian yang telah dilakukan, peserta Mider Kemlayan menunjukkan tingkat kepuasan sebesar 80-90%. Meskipun demikian, langkah hidupkan Kemlayan tidak berhenti begitu saja. Uud menuturkan mimpinya tentang rencana ke depan.

“Kami ingin agar kegiatan ini terus berlanjut. Kemungkinan kita akan ajukan program lagi yang berhubungan dengan para pelaku wisata. Nanti kita coba arahnya ke marketing tourism berkolaborasi dengan para pelaku wisata di sana,” ucap Uud optimis.

Ia mendambakan Kampung Kemlayan selayaknya Kampung Pare Kediri yang menjadi pusat pembelajaran bahasa Inggris. Dalam pandangannya, Kemlayan berpotensi disulap menjadi pusat pembelajaran budaya Jawa.

“Kemlayan itu nanti arahnya ke wisata budaya sekaligus tempat untuk belajar tradisi Jawa. Bayangannya adalah, kalau orang ingin belajar bahasa Inggris itu ke pare, maka kalau ingin belajar gamelan atau tari nanti belajarnya di Kemlayan. Nginep-nya juga di kemlayan,” tandas dia.


Penulis: Gede Arga Adrian

Editor: Al Habiib Josy Asheva

Baca jurnal pengabdian

Berita Unggulan

image-featured
14 Juni 2026

Smogra adalah aplikasi digital besutan tim peneliti UMS. Mengintegrasikan berbagai teknologi IoT untuk menciptakan pelajar yang peduli terhadap lingkungan.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

Pameran teknologi otomasi kembali digelar oleh Prodi PTI UMS. Menampilkan 16 karya terbaik buatan mahasiswa PTI semester enam.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge
image-featured
14 Juni 2026

40 kelompok mahasiswa TI UMS semester 6 memamerkan proyek akhir Capstone Project. Karya mereka berupa inovasi aplikasi, sistem informasi, kecerdasan buatan, hingga teknologi IoT.

sdgs-label
sdgs-badge
sdgs-badge

UMS Newsletter

Tak ada yang lebih spesial dari membaca berita pilihan redaksi hanya untukmu.
Langganan gratis UMS Newsletter sekarang.

Baca sajian tulisan berkualitas dalam rubrik unggulan ums.ac.id

icon

Penelitian

Artikel ilmiah populer dari penelitian dosen UMS.

icon

Teropong Jagat

Artikel mendalam dilengkapi infografik.

icon

Kiprah

Biografi dosen dan mahasiswa berprestasi di UMS.

icon

Cerita Alumni

Cerita alumni UMS dalam meniti kariernya.